Jumat XXIX, 22 Oktober 2010

Ef  4:  1-6  +  Mzm 24  +  Luk 12: 54-59

 

"Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi, dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi", kata Yesus kepada orang-orang yang mengikutiNya, "tetapi kamu, hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?".

Mendengar teguran Yesus kepada orang-orang sejamanNya, saya tertawa karena merasa lucu dengan teguran Yesus ini, bagaimana Yesus sempat mengeluarkan teguran semacam itu. Apakah Yesus tidak mengerti bila menilai jaman itu lebih sulit dibanding dengan menilai rupa bumi dan langit? Bukankah Yesus sudah terbiasa menghadapi kemunafikan orang-orang sejamanNya? Bukankah gerakan bumi dan langit itu penuh kejujuran, mereka hanya bergerak karena hokum alam? Bukankah mereka tidak pernah memberontak? Bumi dan langit adalah ciptaan Tuhan yang paling rapi dan teratur, mereka bergerak berdasarkan hokum; terjadinya getaran alam dan sebagainya hanyalah karena kerapuan dan kerusakan diri, bahkan karena ulah manusia yang mendiami dan menikmatinya, bukan karena hukumnya.

Teguran Yesus: 'mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini', harus kita mengerti sebagai suatu permintaan agar kita semakin bertindak bijak dalam kehidupan ini. Kalau kita bisa menilai alam semesta ini, kiranya hendaknya kita harus mampu juga menilai jaman ini, bertindak dan bergulat dengan menguasai gerak jaman ini, tidak tenggelam dalam kebutuhan jaman sekarang ini, malahan justru mengarahkan langkah jaman ini kepada masa depan yang lebih baik dan sempurna.

Kenapa harus begitu?

Karena kita telah mengaku diri dan bahkan bangga sebagai anak-anak Bapa di surge, saudara laki-laki dan saudara perempuan dari Yesus sendiri, orang-orang yang dibimbing oleh Roh Allah, sebagai anak-anak terang dan bukannya anak-anak kegelapan; karena itu, kata Paulus dalam suratnya kepada umat di Efesus menasehati kita, agar kita hidup berpadanan dengan panggilan yang kita terima. Sebagaimana seseorang yang sudah memperoleh gelar sarjana, baiklah kita kritis dan jernih dalam berpikir dan berkata-kata dengan benar, tidak seperti anak yang baru duduk di bangku SD yang harus banyak dituntun. Jika kita tidak bedanya dengan orang-orang yang belum  mengenal Kristus apa untungnya kita mengenal Dia; secara sengaja dan tajam Yesus meminta  semua orang yang percaya kepadaNya agar mempunyai nilai plus dalam tindakan hidupnya sebagai hasil usaha dan jerih payah mengikutiNya, sabdaNya: 'jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga' (Mat 5: 20).

Paulus menasehatkan: "aku menasihatkan kamu, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua". Nasehat Paulus ini akan memungkinkan seseorang mampu membaca tanda-tanda jaman yang  hadir di tengah-tengah kita. Kesadaran dan kesatuan dalam RohNya yang kudus akan mampu membimbing setiap orang memandang dunia ini dengan kasih, sebagaimana Allah memandang

Ya Yesus Kristus, kuasailah kami dengan Roh KudusMu agar kami dapat berpikir dengan jernih dan bertindak dengan benar, dan buatlah kami agar dapat menikmati anugerahMu melalui kehidupan dunia dan isinya ini dengan penuh syukur dan terima kasih, dan bukannya semakin menjadi dunia.

Yesus, dampingilah kami, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening