Jumat XXVII, 8 Oktober 2010

Gal 3: 7-14  +  Mzm 111   +  Luk 11: 15-26

 

Ada beberapa orang yang berkomentar negative tentang Yesus, mereka berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan". Semuanya memang bisa terjadi dalam keseharian hidup bersama dengan orang lain, hal positif dianggapi negative, dan bahkan mungkin sebaliknya, tetapi semua yang terjadi dan diarahkan kepada Yesus adalah segala yang positif terjadi  selalu dipandang dan diartikan secara negative; semuanya itu muncul karena mereka gelisah dan iri hati kepadaNya, malahan dengan komentar semacam itu, mereka secara sengaja hendak menjatuhkan Yesus dan menghilangkan kepercayaan banyak orang kepadaNya, pembunuhan karakter, istilahnya yang sering dipakai sekarang ini.

Kita bukan orang-orang sejaman dengan Yesus, kita adalah oranag-orang yang sudah mengenal Yesus, kiranya tidak perlu mempersoalkan aneka dugaan yang berkembang pada saat itu.

Malahan sebaliknya dengan peristiwa tadi sebagaimana diceritakan dalam Injil, kita semakin yakin siapakah Yesus itu, Dia mampu mengatasi keadaan, dan hanyalah sang Kehidupan yang mampu mengalahkan dosa dan kematian. "Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu", karena hanya Allah yang mampu menguasai segala bentuk kehidupan, kuasa-kuasa kegelapan pun tunduk kepadaNya dan mereka takut gemetaran menghadapiNya; suatu saat mereka pernah tertangkap basah oleh Yesus, seru mereka: 'apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepada-Mu, supaya Engkau jangan menyiksa aku' (Luk 8: 38). Di hadapan Dia sang Empunya kehidupan segala bentuk kuasa tidak berarti apa-apa.

Apa yang dapat kita buat?

Kiranya kita semakin berani merunduk di hadapanNya, kalau para penghulu kuasa kegelapan saja lari pontang-panting menghadapiNya, tentunya kita yang lemah dan serba terbatas ini. Merunduk di hadapanNya berarti kita mengakui Dia dan membiarkan diri kita dikuasai olehNya; merunduk di hadapanNya berarti kita percaya dan berserah diri kepadaNya, sebab keberserahan diri kepadaNya membuat kita dibenarkan oleh Allah, sebagaimana pengalaman Abraham. Itulah yang ditegaskan tadi dalam bacaan pertama.

Merunduk di hadapanNya berarti kita menjaga segala anugerah yang telah diberikanNya, kita nikmati anugerahNya tadi, dan kita nikmati dengan penuh syukur; ketidakmauan berjaga berarti mengabaikan kebaikan Tuhan Allah dan merupakan pembiaran diri untuk dikuasai kembali oleh manusia lama kita. Injil tadi menggambarkannya bagaikan rumah yang tak berpenghuni dan tidak ada yang merawat dan menjaganya. Sayang memang, tapi itulah memang yang sering terjadi! Senang menerimanya tetapi enggan menjaganya.

"Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula".

Tuntutan untuk berjaga atas segala anugerah yang kita terima daripadaNya memang akan semakin hari semakin bertambah, tentulah kita tidak boleh membandingkannya dengan mereka yang baru saja masuk dalam tahap sebagai pemula; sebagai seorang dirigen yang lebih berpengalaman kepekaan akan suara sumbang yang terlontar dalam sebuah paduan semakin hari semakin terlatih, secara otomatis ia akan merasakan adanya suara-suara yang tidak berpadanan satu dengan lainnya, dan ia merasa terganggu olehnya, dia terpanggil untuk menegur dan memperbaikinya. Kepekaan sang dirigen yang memang sudah banyak makan garam tidaklah boleh disejajarakan dengan mereka yang bertindak sebagai pemula, tuntutan sang dirigen professional tidaklah sama dengan mereka para dirigen amatiran.

Demikianlah dalam pengembangan hidup rohani, kita semua juga mendapatkan tuntutan untuk semakin hari semakin menjadi sang dirigen yang professional dan berpengalaman. Yang menuntut adalah Dia yang memberikan segala anugerah!

Itu kehendakNya!

Penyataan Yesus yang kita dengar hari ini: "jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu", meminta kita, semua orang juga untuk mengalaminya sendiri, yang memang semuanya ini untuk menegaskan Siapakah Dia itu sebenarnya; Yesus tidak mau mengatakan, melainkan menyatakannya. Itulah yang nanti juga akan kita dengarkan, ketika orang-orang menanyakan apakah memang Dia sendiri Yang datang itu. "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?". "Oyi sam", (=begitulah), kata orang-orang kota Malang yang seharusnya dikatakan Yesus kepada orang-orang yang bertanya kepadaNya, tetapi itu tidak dikatakanNya; Dia hanya menyatakan: "pergi dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik".

Yesus Kristus, buatlah kami semakin hari semakin percaya kepadaMu, sebab memang Engkaulah yang datang ke dunia menyelamatkan kami, dan semoga kami pun semakin mampu melihat kehadiranMu dalam peristiwa kehidupan kami sehari-hari, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening