Jumat XXVIII, 15 Oktober 2010

Peringatan Santa Teresia dari Yesus

Ef 1:  11-14  +  Mzm 33  +  Luk 12: 1-7

 

Setelah mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, kepada beribu-ribu orang banyak yang telah mengerumuniNya dalam pengajaraNya berkatalah Yesus kepada mereka, kataNya: "waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi". Mereka diminta berhati-hati akan tindakan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, karena mereka orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu 'seperti kubur yang tidak memakai tanda sehingga banyak orang yang berjalan di atasnya karena memang tidak mengetahuinya'. Semuanya itu membuat banyak orang tersandung dan jatuh. Turutilah ajaran mereka dan janganlah menuruti sikap dan tindakan mereka.

"Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku", sambung Yesus,  "janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka". Dia pasti adalah sang Empunya kehidupan, Pemilik seluruh jagad raya dan seluruh isinya. Seseorang dapat membunuh temannya, penyakitpun dapat membinasakan manusia, mereka hanya mampu mengakhiri hidup seseorang dalam perjalanannya di dunia, walau mereka tidak mempunyai hak untuk itu. Sebab memang 'hanya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup' (Rom 14: 9).

Karena itu, "Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!  Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Janganlah takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit". Sungguh besar penghargaan Yesus kepada manusia, sebab memang manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah (Kej 1: 26-27), Yesus mengingatkan keluhuran martabat manusia; kalau saja 'seekor burung pipit pun tidak dilupakan Allah', apalagi manusia ciptaan terindah, umat milikNya sendiri, tentu mendapatkan perhatian yang sangat-sangat istimewa. Karena itu, hanya kepada Dialah kita patut menaruh rasa hormat dan takut, dan kepada Dialah kita harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita (Rom 14: 12).

Mengapa hanya kepada Dia kita harus takut dan mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita? Karena memang hanya Dialah sang Empunya dan Penguasa kehidupan ini, Dialah yang 'setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka', Dialah 'Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup'; dan bukankah kita ini umat milikNya sendiri, maka hanya kepada Dialah kita harus berikan pertanggunganjawab kita, sebab "di dalam Dia kita percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaanNya".

Para saudara yang dikasihi Kristus,

Kiranya kita semua adalah orang-orang yang takut akan Allah. Ketakutan kita kepada Allah, bukanlah ketakutan insane karena adanya ancaman ataupun kekerasan dan paksaan; ketakutan kepada Allah adalah sikap yang merunduk dan patuh, sikap taat dan islami di hadapan Tuhan yang Mahakuasa dan Besar, sikap merunduk dan taqwa karena Dia itu Mahakasih dan Pengampun, Dia bukan jauh di sana, Dia-lah yang malahan mendekat kepada kita umatNya, bagaikan seorang bapa yang menyambut anaknya yang hilang dan mati itu datang kembali, Dia pun yang mengundang kita datang kepadaNya: 'datanglah kepadaKu kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadaMu'.

Ketakutan akan Allah itulah yang diungkapkan santa Teresia dari Yesus dengan mengatakan: 'aku ingin melihat Allah, aku merindukan Dia!'. Teresia berkata demikian karena Dia merasakan sungguh kasih dan cintaNya; pengalaman akan kasihNya inilah yang membuat dia merindukan dan menginginkan diri untuk merasakanNya lebih dalam lagi, dia ingin melihat Allah dan berjumpa dengan Dia secara langsung. Dan Allah tentunya membiarkan diriNya untuk dilihat dan dinikmati oleh setiap orang yang merindukan, namun keterbatasan dan klemahan diri kita yang membuat semua serba sulit, ingat pengalaman Zakheus yang ingin melihat orang apakah Yesus itu. Kerinduan sebagaimana dialami santa Teresia inilah yang pada akhirnya akan mengkondisikan diri seseorang untuk mengalami kasih Allah dengan lebih nikmat lagi, yakni 'ketika Kristus menyatakan diriNya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya' (1Yoh 3: 2).

Apakah  bisa kita seperti santa Teresia dari Yesus?

Mengapa tidak!  Kita semua dipanggil kepada kekudusan, kita semua diajak dan dimungkinkan menjadi kudus! Hendaknya kamu kudus, sebab Aku ini kudus.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening