Jumat XXX, 29 Oktober 2010

Fil 1: 1-11  +  Mzm 111  +  Luk 14: 1-6

 

"Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya".

"Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?", tantang Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu.

"Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?", tanya kembali Yesus kepada mereka semua. Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, menyelamatkan orang atau membinasakan? Sepertinya mereka belum sampai pada pertanyaan setingkat itu; kemampuan mereka hanya sampai pada 'di hari Sabat orang harus beristirahat dan tidak boleh bekerja!'.

"Mereka itu diam semuanya dan mereka tidak sanggup membantahNya".

Demikian kita orang, seringkali kita terpaku dengan kemampuan dan pikiran diri sendiri, kita merasa sudah tahu segalanya, segala-galanya telah  ada dalam kuasa dan dalam pengetahuan kita; dan bahkan sebaliknya semua yang ada di luar diri kita itu, seperti apa yang kita pikirkan. Kita mengenal seseorang ataupun sesuatu sebatas kemampuan dan daya tangkap kita melihat dan mendengar dia, ataupun kita dengan mudah membuat sebuah kesimpulan berdasar dan sebatas pengetahuan kita. Banyak orang mengira bahwa orang Jawa itu semuanya lemah lembut dan halus sebagaimana sering ditampakkan dan diwakili oleh saudara-saudari kita dari daerah Yogyakarta; tidaklah demikian, ada orang Surabaya dan Malang yang relative keras. Inipun juga sebuah generalisasi. Kita mengenal pada umumnya orang Flores itu hitam, tetapi tidaklah demikian, sebab banyak orang Manggarai dan Bejawa mempunyai warna kulit yang cerah. Inipun juga sebuah generalisasi.

Maka apa yang dapat kita buat?

Tentunya tidak bersikap seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang amat terbatas pengetahuannya tentang hari Sabat. Amat baiklah kita memandang sesuatu seperti Yesus Kristus sendiri memandang, sebab memang Dialah Tuhan atas hari Sabat. Dalam Yesus, kita akan dapat melihat segala sesuatu dengan baik adanya, kita akan mampu memandang dan memberi keputusan mana yang harus kita pilih, menyelamatkan atau membinasakan. Kalau mereka orang-orang Farisi dan ahli Taurat selalu mengamat-amati Yesus, mereka mencoba mencari-cari kesalahan Yesus, bahkan mereka menjebakNya dengan aneka pertanyaan, semuanya terjadi karena memang Yesus ada di luar hidup mereka, Yesus tidak ada dan tidak tinggal dalam diri mereka; sebaliknya Yesus melihat semua sesamanya itu ada dalam hidupNya, ada dalam hatiNya. Karena umat adalah bagian hidupNya, maka Dia menyelamatkannya.

Demikian juga Paulus, dia berusaha melihat sesamanya dalam kasih dan cinta. "Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu", kata Paulus, sebab "sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil. Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian. Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah".

Ya Yesus, kuasailah kami dengan terang Roh Kudus, pimpinlah kami selalu dengan kuasaMu agar kami selalu dapat memilih yang terbaik bagi hidup kami, terlebih segala yang baik dan benar seturut kehendakMu.

Yesus, bantulah kami selalu, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening