Kamis XXIX, 21 Oktober 2010

Ef  3:  14-21  +  Mzm 33  +  Luk 12: 49-53

 

"Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!", tegas Yesus kepada semua orang yang mengikutiNya. PenyataanNya ini hendak mengatakan bahwa Yesus hendak membuat suasana dunia ini semakin hidup dan semarak, ada roh-nya, ada kehidupan. Api melambangkan kehidupan dan terang, api mendobrak kemapanan, dan malahan ada sirkulasi kehidupan, ada dinamika, ada demokrasi, ada gairah kehidupan. Untuk itulah semua, Yesus datang, Dia tidak hanya mengalir dalam nafas kehidupan, Dia hendak menggerakkan dunia. Semuanya itu sesuai dengan yang dinubuatkan Simeon ketika dia menimang sang Bayi mungil, katanya" 'sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang' (Luk 2: 34-35).

Yesus malahan memberikan contoh konkrit bagaimana lemparan api ke bumi itu sungguh bernyala, kataNya: "Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya". Pengenalan akan Dia sang Kehidupan sungguh-sungguh memisahkan  dan sekaligus sungguh-sungguh menyatukan siapakah ibuku dan siapakah saudaraku laki-laki dan saudaraku perempuan (Mat 12: 47-50).

Kedatangan api yang dilempar Tuhan Yesus, anehnya kita rasakan dan kita lihat secara negative, ada banyak komentar, seperti: dengan beriman kepada Kristus Tuhan, hati ini dibuatNya menjadi banyak bergoncang, masalah semakin datang bertubi-tubi, yang satu belum selesai yang lain sudah menyusulnya, jiwaku malahan semakin tidak tenang dengan beriman kepada Kristus, padahal saya masuk menjadi katolik ingin mendapatkan ketentraman dan ketenangan jiwa; dahulu orangtua dan keluarga tidak pernah mempersoalkan ke mana saya pergi, siang pergi, malam lambat pulang, diam seribu bahasa, sekarang di hari Minggu pergi ke gereja saja saya banyak menerima komentar sumbang, latihan koor bersama, bukannya pujian yang saya terima, melainkan cibiran dan tertawaan. Mengikuti Kristus malahan menambah beban kehidupan.

'Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!', ucapan Yesus ini memang sulit kita mengerti, bukannya irasional, melainkan tidak sesuai dengan kemauan dan kehendak kita. Mengapa Dia harus melemparkan api itu ke bumi dan menghendakinya terus menyala? Namun memang itulah kemauan Tuhan Yesus yang hendak membuat dunia tergoncang dengan kemapanan yang ada; Yesus datang ke dunia bukan untuk meninabobokan umatNya, Dia mengajak setiap orang agar 'pinggangnya tetap berikat dan pelita tetap menyala', dan hanya dalam sikap seperti inilah kita akan semakin mengenal Dia.

Paulus Rasul mendoakan kita, agar kita semakin mengenal Dia dan mengakui kebesaran dan keagunganNya, sebaliknya membuat kita berani merunduk di hadapanNya. "Aku berdoa", ucap Paulus, "supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya". Amin.

Yesus, semoga api kasihMu itu selalu menyala dalam hati kami, sehingga kami semakin giat bekerja dan bekerja, dan terlebih kami dapat hidup seturut bimbinganMu sendiri. Engkau yang kami puji dan kami muliakan sekarang dan selama-lamanya, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening