Minggu XXVIII, 10 Oktober 2010

2Raj 5: 13-17  +  2Tim 2: 8-13  +  Luk 17: 11-19

 

Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!". Mereka cukup berteriak dari jauh, karena mereka sadar betul kondisi mereka yang sakit dan mereka dianggap sebagai orang-orang 'najis', orang-orang yang tidak boleh mendekat masyarakat luas. Itulah aturan umum pada waktu itu.

'Yesus, Guru, kasihanilah kami!'. Mereka memohon mendapatkan belaskasihan dari Yesus, suatu permohonan yang lebih mendasar dan penting dari pada sekedar kesembuhan; kesembuhan bisa mereka peroleh karena belaskasih Tuhan. Tidak ada teriakan 'Guru, sembuhkanlah kami'. Memang mereka tidak memohon disembuhkan, mereka memohon belaskasih Allah.

"Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam", jawab Yesus yang menangkap sungguh maksud dan kemauan mereka. Yesus hendak menyembuhkan mereka; namun demi kepastian dan jaminan sosial mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang mengalami kesembuhan dan perlu mendapatkan rehabilitasi nama dan status sosial, mereka harus melaporan diri kepada imam-imam kepala, yang memang pada waktu itu memegang kendali sosial masyarakat. Karena itu, Yesus meminta mereka pergi memperlihatkan diri kepada imam-imam. "Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir".

"Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring". Orang ini merasakan dan mengalami sesuatu yang indah dan luhur dalam dirinya, ia telah sembuh dan sehat, dan dia tahu dengan pasti Siapa yang telah menyembuhkan dia dan teman-temannya. Sudah layak dan sepantasnya, kepada Siapa ucapan syukur harus diberikan dan dipersembahkan, kepada Siapa dia harus berterimakasih, kepada Siapa dia harus melaporkan diri; kiranya hanya kepada Dia Yesus sang Guru yang telah dipanggil-panggil dan dimohon belaskasihNya; ya hanya Yesus yang mampu menyembuhkan, kepadaNya saya harus kembali, berterima kasih dan bersyukur kepadaNya. Mereka para imam hanyalah pencatat administrasi sosial, bukan kepada mereka saya harus melaporkan, mempertangungjawabkan dan berterima kasih atas peristiwa kehidupan yang saya rasakan, mereka itu seperti Pencatatan Sipil yang pernah mencatat bahwa saya telah menikah.

"Orang itu datang, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya". Orang itu adalah seorang Samaria, orang yang dianggap tidak mempunyai iman kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa.

Yesus kagum dan terheran-heran akan orang itu, lalu kataNya kepada orang-orang yang mengikutiNya: "bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir?  Di manakah yang sembilan orang itu?  Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?".  Tuhan Yesus memang menghendaki agar setiap orang yang beroleh belaskasih dan rahmatNya berani bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan. Ucapan syukur, pujian dan sembah bakti kita kepadaNya memang tidak menambah kemuliaanNya sedikit pun, tetapi semuanya itu mendatangkan hujan rahmat bagi setiap orang yang berseru kepadaNya, dan terlebih-lebih rahmat keselamatan dalam Kristus sang Penyelamat.

Kita pertajam keharusan untuk mengucap syukur hanya kepada Tuhan Allah itu dengan pengalaman Elisa, sebagaimana dikutip dalam bacaan pertama tadi setelah dia 'menyembuhkan' Naaman yang sakit kusta itu. "Demi TUHAN yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan, sesungguhnya aku tidak akan menerima apa-apa" jawab Elisa, walaupun Naaman mendesaknya supaya menerima sesuatu, ia tetap menolak. Elisa merasa tidak berhak menerima ucapan terima kasih Naaman, karena memang bukan dia yang menyembuhkannya, dia hanya seorang pelayan, seorang hamba;  Tuhan Allah sendiri yang telah berkarya kepada sang panglima itu.

 "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau" tegas Yesus kepada orang Samaria itu.

Lihatlah, orang Samaria yang kembali kepada Yesus untuk berterima kasih dan bersyukur itu, beroleh bukan saja belaskasihan daripadaNya, tetapi juga terlebih-lebih keselamatan, tidaklah demikian dengan kesembilan orang lain yang hanya beroleh kesembuhan! Sekali lagi, ucapan terima kasih dan syukur kita kepadaNya mendatangkan hujan rahmat bagi setiap orang yang berseru kepadaNya, dan terlebih-lebih rahmat keselamatan dalam Kristus sang Penyelamat.

Para saudara yang terkasih,

Apa yang dapat kita buat?

Bersyukur dan bersyukur kepadaNya, tidak ada yang lain karena memang kita telah banyak beroleh daripadaNya.

Dan kiranya menjadi pemahaman kita, bahwasannya salah satu makna dari rasa syukur itu adalah mengembalikan segala sesuatu yang telah kita terima itu kepada Tuhan, kita persembahkan kembali apa yang Tuhan beri, biarlah Tuhan pimpin kita untuk memakai dan menggunakan anugerah yang telah kita terima daripadaNya. Beryukur kepada Tuhan berarti menyatukan diri kita dengan kemauan, kehendak dan pimpinan Tuhan sendiri, dan 'kalau pun aku harus menderita', kutip santo Paulus dalam bacaan kedua hari ini, 'karena Tuhan kehendaki, aku siap dan rela',  "aku siap dan sabar menanggung semuanya itu", dan itu bukan untuk diriku sendiri, melainkan "bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal. Sebab jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita; jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya".

Para saudara terkasih,

Injil hari ini meminta kita untuk berani bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan, tetapi bukan ucapan syukur yang melayang-layang, melainkan ucapan syukur yang tahan uji.

Tentunya kita semua siap sedia!

Tuhan memberkati dan mendamping kita.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening