Minggu XXX, 24 Oktober 2010

Sir 35:  12-18  +  2Tim 4: 6-8.16-18  +  Luk 18: 9-14

 

Para saudara yang dikasihi Tuhan,

"Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan sebuah perumpamaan". Pasti ada sesuatu yang menarik perhatianNya. 'Menganggap diri benar dan memandang rendah semua orang lain' adalah memang sikap yang salah dan kurang tepat dalam hidup bersama. Menganggap diri benar secara otomatis merendahkan orang lain, meremehkan orang lain dan meniadakan orang lain, ia mengabaikan orang lain. Secara moral dan sosial, dia sudah merendahkan martabat orang lain, padahalnya dia mempunyai martabat yang sama. Secara teologis, dia tidak menghormati Allah sendiri yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan sesuai dengan gambarNya (Kej 1: 26), meremehkan ciptaanNya yang mulia berarti meremehkan dan menghina sang Empunya ciptaan.

"Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa", kata Yesus, "yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.

ü Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku; sedangkan

ü Pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

Dari doanya, kita dapat mengenal orang Farisi ini, dia memang orang yang hebat, orang yang baik dan sosial, bahkan orang yang suci; malahan dia mampu memberi sesuatu kepada Tuhan Allah, yakni ucapan syukur. Apa yang diminta dalam Kitab Taurat dilakukannya, seperti memberi persepuluhan, bahkan lebih daripada yang tertulis dalam Kitab, misalnya berpuasa dua kali seminggu. Ia memang patut membanggakan diri dan pantas dibanggakan. Tidaklah demikian dengan si pemungut cukai ini, tidak ada yang bisa dibanggakan, dia tidak bisa memberi apa-apa, malahan dia memohon belaskasih dan pengampunan karena memang sepertinya dia telah berlaku dan bertindak salah, 'kasihanilah aku orang berdosa ini'.

"Aku berkata kepadamu", tegas Yesus: "pemungut cukai ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang Farisi itu tidak, sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan".

Pemungut cukai itu sebagai orang  yang dibenarkan Allah karena dia mengakui siapakah dirinya, dia telah bersalah, dia telah berdosa, kini dia bertobat dan membutuhkan pengampunan dan kasih Allah, dia memang membutuhkan Allah, dia sadar bahwa dia tidak mampu memberikan apa-apa kepada Allah, dia malahan hanya bisa meminta dan meminta. Pemungut cukai ini adalah seorang yang membutuhkan Allah.

Tidaklah demikian dengan orang Farisi ini, dia adalah seorang yang tidak dibenarkan Allah, karena dia memang tidak membutuhkan Allah. Pertama,  dia sudah tidak mempunyai perhatian kepada orang lain; dalam doanya dia sama sekali tidak memperhatikan sesame, tidak ada cinta terhadap sesame, dia merasa sudah melaksanakan hokum Tuhan dan berbuat baik kepada Tuhan, maka tidak perlu berbaik hati kepada sesamanya. Ia sudah merangkul dan berbuat baik kepada kepada elite politik, sehingga tidak perlu menaruh perhatian kepada akar rumput, apakah itu dilakukan juga oleh Sby dengan memanggil pimpinan-pimpinan lembaga tinggi negara? Eling rokok-e, gampang korek-e, sing penting mbok-e, baru arek-e, suatu ungkapan yang menegaskan: komunikasi terlebih dahulu dan kita pegang orangtua atau pimpinannya, barulah dengan anak-anak atau dengan bawahannya. Tidaklah demikian dalam mengejar keselamatan!

Kedua, orang Farisi ini memang tidak membutuhkan Allah, karena dia merasa telah bisa memberikan sesuatu kepada Allah, 'malahan kiranya Allah harus memperhatikan dan memberikan sesuatu kepadaku, karena aku telah memuji dan bersyukur kepadaNya'. Namun tidaklah demikian dalam karya penyelamatan, sebab hanya Allah yang menyelamatkan, keselamatan hanya karena kehendakNya dan Dia yang menentukan; memang Allah amat menghargai kemauan dan usaha baik umatNya, namun tetap Dia yang menentukan, dan bukannya usaha dan jasa kita umatNya. Orang yang mengandalkan kemauan baik dan usahanya, orang yang memamerkan diri adalah ciri khas orang-orang yang meninggikan diri, namun di hadapan Allah, mereka akan tiada nilai dan bahkan akan direndahkan; sebaliknya orang yang merundukkan diri di hadapanNya dan terus-menerus memohon bantuanNya berarti dia sadar akan keterbatasan dan kerendahan dirinya, dan mereka yang merendahkan diri seperti itu, mereka akan ditinggikan.

Saudara-saudariku yang terkasih,

Kiranya kita harus berusaha berbuat baik kepada sesame, sebagaimana ajakan kasih Yesus. Semuanya kita lakukan karena sebagai 'kewajiban yang harus kita lakukan', kita hanyalah hamba yang tak berguna, dan tak ada yang dapat kita banggakan di hadapanNya, malahan kita merunduk dan merunduk di hadapanNya sebagaimana dicontohkan si pemungut cukai tadi.

Bacaan pertama menegaskan kepada kita akan keberpihakan Tuhan kepada mereka yang lemah dan berdaya, yang hanya mengandalkan kekuatan daripadaNya dan memohon belaskasihNya. Tegas Sirakh: "doa orang yang terjepit didengarkan-Nya. Jeritan yatim piatu tidak diabaikanNya, ataupun jeritan janda yang mencurahkan permohonannya. Tuhan berkenan kepada siapa yang dengan sebulat hati berbakti kepada-Nya, dan doanya naik sampai ke awan. Doa orang miskin menembusi awan, dan ia tidak akan terhibur sampai mencapai tujuannya, dia tidak berhenti hingga Yang Mahatinggi memandangnya, dan memberikan hak kepada orang benar dan menjalankan pengadilan".

Akhirnya, para saudara terkasih,

Perbuatan dan tindakan baik kita, doa dan keberundukkan kita di hadapanNya adalah suatu usaha kita dalam mengejar keselamatan. Usaha ini tak ubahnya sebuah pertandingan, kata santo Paulus, suatu pertrandingan untuk mendapatkan mahkota yang tak dapat layu, tetapi mahkota kebenaran yang disediakan untuk semua orang. "Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya, dan Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin".

Yesus, ajarilah kami untuk selalu merunduk di hadapanMu.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening