Rabu XXVIII, 13 Oktober 2010

Gal 5:  18-22  +  Mzm 1  +  Luk 11: 42-46

 

Sepertinya acara makan di rumah orang Farisi membuka kesempatan bagi Yesus untuk menegur mereka; teguran Yesus berkenaan dengan cawan dan pinggan berlangsung kembali dalam Injil hari ini.

"Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan".

Persembahan memang baik adanya, sebagai tanda syukur dan terima kasih seseorang kepada Tuhan, namun begitu keberanian diri untuk mempersembahkan ucapan terima kasih tidaklah boleh mengabaikan dan mengesampingkan tindakan-tindakan lain, terlebih dalam berbagi kasih. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dengan tenagamu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Yesus tidak pernah meminta para pengikutiNya: 'datanglah kepadaKu dan bawalah persembahan'. Karena itu, 'yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan', jangan hanya mampu membawa persembahan, tetapi juga terlebih sikap dan tindakan belaskasih. Sebab 'yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan' (Mat 9: 13). Teguran Yesus mengingatkan kita semua agar kita tidak mudah mengandalkan jasa atau tindakan yang dapat kita lakukan.

"Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.

Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya".

Orang-orang Farisi ini mencari dan mencari penghormatan diri, entah dalam rumah ibadat atau pun di pasar; dan pasti orang-orang semacam itu pasti menyombongkan diri di hadapan sesamanya dan kemungkinan pasti juga meremehkan dan merendahkan orang lain; ada persaingan yang tidak sehat. Orang yang mencari kehormatan diri dengan pasti tidak memperhatikan dan menghargai sesamanya, ia malahan mencari kepuasan diri. Kemurkaan diri tentunya membinasakan dan mecelakakan orang lain, membuat orang lain jatuh dalam dosa, mereka itu seperti kubur yang tidak memakai tanda dan orang-orang yang berjalan di atasnya, karena memang tidak mengetahuinya. Orang-orang semacam itu memang dikecam Yesus karena memang mereka tidak akan menemukan kebahagiaan diri, malahan membuat dirinya hangus terbakar oleh kemurkaan akan penghormatan diri.

"Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga", protes salah seorang ahli Taurat. Kemungkinan besar memang banyak ahli-ahli Taurat itu juga orang-orang Farisi; dengan penegasan diri bahwa 'berkata-kata seperti itu, Yesus juga menghina mereka', sepertinya mereka meminta supaya Yesus menghentikan diri untuk mengecam dan mengecam mereka, bukankah mereka itu ahli-ahli Taurat yang lebih banyak tahu dan mengenal etika hidup bersama, sebagaimana tersurat dalam hokum Taurat. Protes para ahli Taurat juga menunjukkan solidaritas mereka terhadap teman-teman mereka, sebab ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi ini selalu bersama-sama membuntuti ke mana pun Yesus pergi.

Ternyata tidak, "celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat", sambung Yesus, "sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun". Yesus malahan membongkar borok-borok mereka, yang hanya bisa menyuruh dan menyuruh orang lain, mereka menyampaikan ajaran tentang kebenaran, tetapi mereka tidak melaksanakannya, malahan hidup mereka bertentangan dengan kebenaran, mereka 'meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi mereka sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun'.

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat benar-benar kaum munafik!

Apa pesan Injil kepada kita hari ini?

Kita bukanlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat!  Namun kecaman itu juga berlaku kepada kita kalau kita juga selalu mencari penghormatan diri, haus akan kepuasan diri dan bersikap munafik. Apa yang dilakukan mereka itu semua adalah hanyalah sebatas keinginan inderawi, itu semua adalah perbuatan daging, seperti dikatakan Paulus dalam bacaan pertama tadi. "Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu, seperti yang telah kubuat dahulu, bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah".

"Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh", pinta Paulus kepada kita.

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami untuk mampu mengendalikan dan menguasai diri, buatlah kami tidak mudah mencari kepuasan diri, melainkan semakin hari semakin berani 'menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya'.

Yesus, pimpin dan kuasailah kami dengan RohMu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening