Rabu XXX, 27 Oktober 2010

Ef  6: 1-9  +  Mzm 145  +  Luk 13: 22-30

 

"Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?", pertanyaan orang-orang yang mengikuti Yesus. Apakah ada kekuatiran dan ketakutan pada waktu itu tentang keselamatan, sehingga bertanya demikian? Atau malahan semakin menguatkah kerinduan orang-orang akan keselamatan?

Jawab Yesus kepada mereka: "berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat".

Amat jelas jawaban Yesus. Pertama, tidak banyak orang yang akan menikmati keselamatan kelak, memang besar kerinduan untuk tinggal dalam  rumahNya yang kudus, yang indah dan nyaman, 'banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat'. Mengapa begitu? Bagaimana semuanya itu bisa terjadi? Bukankah Dia sang Empunya kehidupan ini menghendaki agar semua orang selamat? Kedua, setiap orang memang diajak untuk berusaha dan berusaha untuk mendapatkan keselamatan itu, semua diundangNya; lagi pula Yesus tidak menegaskan jumlah orang yang diselamatkan, Dia hanya meminta agar setiap orang berani berjuang untuk masuk melalui pintu yang sesak itu.

Saya melihat penegasan Yesus bahwa: 'banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat', tidaklah berarti bahwa hanya sedikit orang yang akan menikmati keselamatan, banyak orang yang akan menikmati keselamatan, hanya tidak semuanya, karena memang Yesus tetap melihat: adanya banyak kemungkinan dari umatNya yang memang mentah-mentah menolak undanganNya, dan Dia pun tidak  mau memaksa semua orang untuk mengikutiNya; bagaimana mungkin mereka mendapatkan anugerah keselamatan kalau memang mereka menolaknya? 'Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat', hanya dapat kita kenakan kepada orang-orang yang bersikap seperti seorang Farisi yang kita dengar dalam perumpamaan hari Minggu kemarin, yang merendahkan sesamanya dan tidak membutuhkan Tuhan, dia merasa telah sempurna dan baik adanya, atau seperti seorang muda yang kaya raya, yang merasa sedih dan gelisah ketika diminta menjual harta bendanya.

Kenapa kita harus berjuang masuk?

Karena memang itulah kehendak sang Empunya rumah tinggal! Dialah yang berhak membuka dan menutup pintu, kita hanyalah tamu atau perantau yang menginginkan tinggal bersamaNya dalam tempat kediamanNya, kita hanya bisa memohon dan memohon belaskasihNya, agar diijinkan tinggal bersamaNya sembari berusaha dan berusaha melalui jalan yang sesak itu. Kita sekarang pun harus berusaha masuk melalui pintu yang sesak itu,  mumpung pintuNya masih terbuka lebar.

Sebab, "jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, tetapi kamu terlambat masuk, dan walau pun kamu sudah berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: tuan, bukakanlah kami pintu!, Ia akan menjawab kamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang. Kalau pun kamu berkata: kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami, Ia akan tetap berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!"

Di luar rumah kediamanNya, "akan terdapat ratap dan kertak gigi, kamu hanya akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar, dan banyak orang akan datang dari Timur, dari Barat, dari Utara dan Selatan, dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir", sebab memang ada orang-orang yang sudah menjadi orang-orang yang terpilih dan terpanggil dan beroleh rahmatNya, tetapi mereka tidak mendengarkan dan mendengarkan, mereka tidak memberi hati kepadaNya.

Dalam mengejar keselamatan, kita bagaikan 'berjuang untuk masuk melalui pintu yang sesak', ada banyak tantangan, ada banyak rintangan dan membutuhkan keseriusan dalam berusaha; dan bukannya hanya dengan mempertebal cinta kita kepada Tuhan, tetapi juga cinta dan kasih kita terhadap sesame. Hokum cinta kasih tidak dipisahkan satu dengan lainnya. Cinta kepada Tuhan Yesus terungkap dalam perhatian kepada sesame, minimal dalam cinta di mana kita berada; cinta terhadap mereka yang ada di sekitar kita harus mendapatkan prioritas dibanding dengan perhatian dan cinta kita terhadap mereka yang jauh ada di sana; suatu kebohongan dan kepalsuan bila cinta terhadap mereka yang ada di sekitar kita, tidak mendapatkan prioritas.

Bacaan pertama Paulus menasehatkan supaya cinta dalam keluarga sungguh-sungguh terealisir, orangtua harus menaruh hati kepada anak-anaknya, anak-anak juga harus sayang kepada orangtua, perhatian juga harus diarahkan kepada sesame saudara, dan orang-orang yang banyak membantu kita keluarga. Setiap orang harus menaruh kasih dan berbuat baik kepada sesamanya. "Kamu harus tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan; janganlah saling mengancam satu sama lain, ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka'.

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami setia mengikuti pintu sesak yang telah Engkau tunjuk, dan semangatilah kami selalu agar kami tidak terlambat dalam berusaha, sehingga kami kelak kedapatan sudah ada dalam rumahMu yang kudus.

Yesus, kasihanilah kami, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening