Sabtu XXIX, 23 Oktober 2010

Ef 4:  7-16  +  Mzm 122  +  Luk 13: 1-9

 

Sebuah kecelakaan yang berujung maut sering dilihat oleh banyak orang sebagai peristiwa yang menakutkan, dan kematian orang yang tertimpa kecelakaan itu dianggap sebagai kematian tidak wajar. Kenyataan ini menunjuk bahwa banyak orang tidak menghendaki adanya kematian. Kematian dihindari oleh banyak orang, karena berlawanan dengan kehidupan itu sendiri. Kematian seperti itu merenggut jiwa seseorang, karena banyaknya dosa yang ditanggung orang itu. Kecelakaan menimpa seseorang, karena akibat dari suatu perbuatan dosa. Pendapat ini sepertinya selaras dengan pepatah mens sana in corpore sano, dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat, namun salah kaprah, karena memang bukan seperti itu yang dimaksudkannya.

Dalam Injil hari ini, Yesus menegur orang-orang yang berpendapat seperti itu. KataNya: "sangkamu orang-orang Galilea yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan itu lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?  Demikian juga sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?". Apa yang dialami oleh orang-orang Galilea dan orang-orang Siloam adalah sebuah kecelakaan; kecelakaan memang bisa diakibatkan karena ketidaksengajaan atau karena keteledoran orang lain, atau ada juga karena suatu kesengajaan yang dibuat seseorang yang tidak bertanggungjawab; orang-orang  Galilea dan Siloam yang mengalami peristiwa semacam itu adalah orang-orang yang tertimpa kecelakaan. Kematian mereka tidak ada hubungannya dengan banyaknya dosa yang diemban mereka; kematian memang akibat dosa, namun kematian yang mendadak dan bukan karena sakit, sebagaimana dipandang demikian oleh banyak orang, bukanlah karena dia mempunyai dosa yang lebih banyak dengan orang-orang lain yang masih sehat-sehat saja. Kematian adalah akibat dari dosa, tetapi kematian mendadak atau akibat kecelakaan bukanlah karena banyaknya dosa. Tak jarang kematian mendadak adalah ke-sembrono-an atau keteledoran orang terhadap sesamanya.

Sebaliknya, tegas Yesus, "jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian". Allah bisa menghukum orang dengan cara demikian, bila orang itu sudah diundang untuk datang kepadaNya, tetapi menolakNya, malahan melawanNya. Bukanlah soal yang sulit bagi Yesus membuat orang mati dengan cara demikian, karena memang Dialah sang Penguasa kehidupan, 'hanya kepada Dialah kita harus takut, Dia yang mampu dan berkuasa membinasakan badan dan melemparkan ke alam maut'.

Mau mendengarkan suaraNya dan mendekatiNya, itulah kehendakNya, sebab memang Dialah yang menentukan kehidupan dan kematian seseorang. Sungguh benar: pertobatan adalah kehendak Tuhan!  Pertobatan adalah usaha seorang manusia, tetapi amat-amat dihormati dan dihargai oleh Allah.

Karena itu, Yesus mengemukakan maksudNya itu dengan menampilkan sebuah  perumpamaan ini. KataNya, "sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!"; sahut orang itu: "Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!".  Yesus menyetujui usaha manusiawi orang itu.

Yesus amat menghargai usaha baik umatNya.

Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus pernah mengatakan: "kemauan baikku sudah menyenangkan hati Tuhan Yesus".

Orang bisa mati secara mendadak. Mengapa tidak, bila kita mendoakannya agar dia menikmati kebahagiaan abadi. Kematian adalah akhir kehiduyapan manusia yang paling pahit dan dijauhi semua orang; dia mati dia tidak berdaya, dia terkulai, lumpuh dan tidak bisa berkata-kata, mengapa kita diam saja, baiklah kita doakan dia, agar dia menikmati pengampunan dosa dan jiwanya beroleh kehidupan kekal. Allah pasti amat menghargai usaha baik kita manusia! Bukankah tidak ada orang hidup bagi dirinya sendiri, dan tidak ada orang mati bagi dirinya sendiri; kita hidup, hidup bagi Tuhan, dan kita mati, mati bagi Tuhan, sebab memang Dia adalah Allah bagi orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati.

Gereja amat merestui kemauan dan usaha baik ini!

Ya Yesus, suburkanlah semangat pertobatan dalam diri kami sebagaimana yang telah Engkau taburkan dalam diri kami semenjak Engkau menyatukan kami dalam GerejaMu, dalam sakramen baptis yang telah kami terima.

Yesus ampunilah segala dosa dan kesalahan kami. Amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening