Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Ef 5: 21-33  +  Mzm 128  +  Luk 13: 18-21

 

Para saudara yang dikasihi Tuhan,

Hari ini Yesus mengemukakan dua buah perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Pertama, Kerajaan Allah seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon, dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya. Kedua, Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat, sampai khamir seluruhnya.

Dari kedua peruumpamaan itu tepatlah pernyataan ini : kecil itu indah. Suatu yang kecil memang sering diremehkan dan tidak banyak mendapatkan perhatian. Buang-buang tenaga dan banyak makan waktu  untuk memperhatikan hal-hal kecil, remeh dan tak berguna, masih ada banyak hal lain yang perlu kita perhatikan, karena memang menguntungkan dan banyak manfaatnya. Namun kecil itu indah, karena  ternyata kalau kita berani memperhatikan hal-hal yang kiranya sepele dan tak bermanfaat, ada banyak yang dapat kita pelajari dan memberi makna bagi kehidupan, bahkan dalam segala aneka  usaha harus diawali dan dimulai dari yang kecil, dari nol bahkan.

Apalah arti biji sesawi yang kecil, tetapi ketika biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya. Demikian pula, apalah arti sepotong kecil ragi, tetapi bila diadukkan ke dalam tepung terigu, ia mampu membuat tiga sukat tepung menjadi khamir seluruhnya.

Demikianlah hal Kerajaan Allah. Ia kurang mendapat perhatian karena tidak langsung menguntungkan. Apalah artinya kita mengajarkan kepada seorang anak kecil untuk berkata-kata benar, tidak boleh berbohong, harus bersikap jujur, mengajak seorang anak untuk mengatakan apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, apa yang mereka rasakan. Pada saat itu memang tidak ada yang dapat diperoleh, mungkin anak akan menangis dan semakin rewel karena permintaan kita, tapi saat itulah kita menanam benih sesawi dan menaruh ragi dalam kehidupannya, sehingga kelak hidup anak itu dikuasai oleh nilai-nilai kebenaran. Kelak seseorang akan mudah bersyukur kepada Tuhan Allah, kalau memang dia semenjak kecil terbiasa mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang berbuat baik kepadanya.

Kecil itu indah, terlebih kalau kita telah menanamkannya semenjak awal kehidupan ini.

Para saudara,

Sekedar interupsi sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama, "seorang suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging". Ini adalah pengertian yang sepele, kecil dan kurang mendapatkan perhatian, tetapi sarat dengan pengertian yang menjadi tiang penyangga dalam kehidupan rumah tangga.  Bagaimana dapat dimengerti seorang suami yang rajin melakukan KDRT, baik terhadap isteri ataupun anak-anaknya? Bagaimana seorang laki-laki yang sudah berumahtangga masih mendompleng di rumah orangtuanya? Hari ini menikah, besok seorang laki-laki, demikian pula perempuan harus keluar dari rumah orangtuanya, sebab dia sudah besar dan dewasa, dan sudah berani menikah; demikian juga seorang bapa atau ibu, hari ini menikahkan putera-puterinya, besok harus siap ditinggalkan oleh anak-anaknya, dan dia tinggal seorang diri. Bagaimana dapat dimengerti bila seorang suami tidak bisa merasakan kesusahan dan kesulitan yang dihadapai isterinya, dan sebaliknya?

Apa yang kami interupsikan ini adalah hal yang kecil dan sederhana, tapi bila tidak diperhatikan cukup fatal akibatnya. Boleh kita dengarkan langsung sharing dari keluarga-keluarga yang berkumpul antara orangtua dan menantunya: apa yang mereka rasakan?

Akhirnya, kembali kepada Injil hari ini, ada sesuatu kelemahan yang dibuat oleh Yesus dalam perikop Injil tadi, yakni Yesus mengatakan sampai dua kali : "seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?". Mengapa hal itu terjadi? Mengapa Yesus harus bingung untuk mengucapkan dan menampilkan sebuah perumpamaan? Perumpamaan tentang Kerajaan Allah yang digelutiNya setiap hari. Kalau kita umatNya, wajar dan pantaslah kalau mengalami kesulitan dalam berpikir secara jernih dan kritis? Saya melihat Lukas secara sengaja menyatakan bahwa Yesus ternyata mempunyai kelemahan sebagai seorang manusia, Anak tukang kayu, orang Nazaret. Namun itu semua harus tetap kita mengerti: bukan karena dan akibat dosa, sebab memang Dia dikandung dan lahir sebagai manusia, sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa.

Yesus, bantulah kami menaburkan benih-benih KerajaanMu dalam diri kami, dalam keluarga kami, agar kami semakin merasakan bahwa Engkau hadir di tengah-tengah kami dan meraja dalam diri kami.

Yesus, kami ingat juga akan kehadiranMu yang lembut dan mengalir halus sebagaimana dialami oleh Elia sang Nabi, Engkau tidak hadir dalam badai, angin ribut dan goncangan api yang menakjubkan.

Yesus berkatilah kami selalu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening