Senin XXIX, 18 Oktober 2010

Pesta Santo Lukas Penginjil

2Tim 4:  10-17  +  Mzm 145  +  Luk 10: 1-9

 

"Tuhan Yesus menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya". pesanNya kepada mereka:

Pertama, tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.

Kedua, pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.

Ketiga, janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan.

Keempat, kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: damai sejahtera bagi rumah ini, dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya; tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.

Kelima, tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah, dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu,

Keenam, sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ,

Ketujuh, dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat.

Yesus berpesan apa saja yang harus mereka lakukan sebagai persiapan umatNya menerima kehadiranNya, sang Empunya Kerajaan Allah. Mereka semua diminta pergi untuk menyiapkan kunjunganNya,  yang adalah kehadiran Kerajaan Allah. Semuanya harus dipersiapkan, dan hanya satu yang harus diwartakan dan tidak ada yang lain, yakni 'Kerajaan Allah sudah dekat'.

Kita hendak mempertajam saja apa yang dikatakan dan dipesankan Yesus tadi, dan coba kita bandingkan dengan bacaan pertama. Ada banyak pesan Paulus, antara lain: "hanya Lukas yang tinggal dengan aku, jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku, jika engkau ke mari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu, hendaklah engkau waspada terhadap Aleksander, tukang tembaga itu dia, karena dia sangat menentang ajaran kita; semoga Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya aku lepas dari mulut singa".

Kiranya kita dapat mengenakan pengalaman Paulus tadi dalam pesan perutusan Yesus. Apakah kita dapat merasakan adanya kejanggalan?  kelemahan? keterikatan? atau kekuatiran?

Itulah hidup!  Itulah kenyataan!

Mengikuti Yesus sebagaimana diwartakan oleh Lukas dalam Injilnya berarti kita mau meneladan dan mencontoh karya, kata dan tindakanNya; Dia yang memanggul salib kita pun diajakNya, Dia yang didera dan disiksa kita pun diajak menghadapi aneka serigala itu, Dia yang ditolak oleh orang-orang sekampungNya kita pun mendapatkan perlawanan dalam menyampaikan salam. Kita berusaha mengikuti dan mengikuti. Namun kalau kita jatuh, itulah kehidupan. Kita gagal dan terpeleset, itulah kenyataan.

Paulus yang mendapatkan rahmat pertobatan secara istimewa merasa gelisah dengan jubah dan perkamen-perkamennya yang tertinggal di rumah Karpus, dia pun ingin bebas dari  terkaman singa yang mengaum-aum mencari mangsa; padahal sebagaimana dikatakan di atas tadi mereka diutus 'seperti anak domba ke tengah-tengah serigala' dan diminta tidak 'membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut', tidak repot dengan aneka perbekalan. Bagaimana dengan sang tokoh agung kita ini?

Di pesta Santo Lukas Penginjil hari ini, kita diingatkan agar kita berani menjadi pewarta-pewarta Kerajaan Allah, sebab di dalam KerajaanNya kita boleh menikmati keselamatan, dalam KerajaanNya-lah tempat tinggal bersama dengan Dia di mana Dia berada, dalam KerajaanNya kita bertemu dan bertatap muka denganNya. 'Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil' (1Kor 9: 16). Kita perlu mewartakan sabda sukacita itu karena kita ingin berbagi kasih, kiranya semakin banyak orang yang merindukan tinggal bersamaNya selalu.

Bila ada kekurangan dan kelemahan kita di sana-sini, baiklah kita tetap maju dan maju, sebab Tuhan yang Mahakasih tidak memperhitungkan segala keterbatasan dan kelemahan kita; sebaliknya keberanian kita untuk mendekatkan diri kepadaNya amat menjadi perhatian Tuhan Yesus kepada kita. Aneka pengajaran Yesus tentang pertobatan mengingatkan kita bahwa sukacita di surge semakin semarak, bila ada orang yang semakin berani mendekatkan diri kepadaNya.

Ya Yesus, dampingilah kami dalam mewartakan sabda keselamatanMu, dan janganlah memperhitungkan dosa dan kesalahan kami, tetapi perhatikanlah iman GerejaMu, dan restuilah kami supaya hidup bersatu rukun sesuai dengan kehendakMu, sebab Engkau Pengantara kami kini dan sepanjang masa, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening