Senin XXVII, 4 Oktober 2010

Gal 1: 6-12  +  Mzm 111  +  Luk 10: 25-37

 

Saudara-saudariku yang terkasih,

Kalau kita dapat berbagi kasih, bersyukurlah kita, dan hendaknya kita berani melihatnya sebagai kewajiban yang memang harus kita lakukan dan bukannya jasa baik yang dapat kita perbuat. Kita sadari sebagai kewajiban, karena memang itulah jalan yang harus kita tempuh untuk beroleh anugerah yang lebih luhur dan mulia. Itulah renungan Minggu kemarin yang mengajak kita untuk semakin merundukkan diri di hadapanNya, sebab kita hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna.

Kita harus berani melihatnya sebagai kewajiban karena memang itulah yang diminta Yesus sendiri, bahkan telah lama tersurat dalam Perjanjian Lama sebagaimana dikatakan Injil hari ini.

"Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?", tanya seorang ahli Taurat kepada Yesus. Dia hanya ingin mencobai Yesus saja, karena memang pola hidup untuk mendapatkan hidup kekal telah tersurat dalam hokum Taurat yang digelutinya sepanjang hari.

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri". Berbagi kasih adalah cara hidup untuk mendapatkan hidup kekal, dan tidak ada yang lain; karena itu, tegas Yesus, "perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup".

Namun, "siapakah sesamaku manusia?".

Pertanyaan yang menantang disampaikan ahli Taurat itu kepada Yesus, namun juga sekaligus menunjukkan kebodohan sang ahli itu dalam hidup sehari-harinya. Dia pandai dalam pengetahuan, tapi amat bodoh dalam kehidupan. Hal inilah juga yang sering terjadi sekarang ini: banyak orang pandai dalam bidangnya masing-masing, malahan memperdalam dan memperdalamnya guna mendapatkan gelar S (es) yang berlipat-lipat, tetapi semakin miskin, bodoh dan mengucilkan diri dalam kehidupan bersama.

'Siapakah sesamaku manusia?'.

Apakah sang ahli Taurat ini tidak pernah berjumpa dengan orang-orang yang ada di sekitarnya? Apakah dia sungguh-sungguh telah buta kehidupannya sehingga tidak melihat orang-orang yang ber-seliweran di sekitarnya?

Kalau kita mampu melihat orang lain sebagai sesame manusia, pada saat itulah sebenarnya kita juga menjadi sesame bagi orang lain yang berada di luar diri kita. Kesulitan kita melihat orang lain sebagai sesame membuat kita sulit menjadi sesame bagai orang lain.

Setelah menyampaikan perumpamaan tadi, Yesus menegaskan: "siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?". Yesus menyatakan hal ini karena memang banyaklah orang-orang seperti seseorang yang jatuh dalam tangan penyamun yang ada di sekitar kita, tetapi tidak ada orang yang mempunyai hati untuk melihatnya, bahkan dia terkapar di dekat pintu rumahnya, sebagaimana digambarkan Luk 16: 19-31, Minggu, 26 September kali lalu. Sesame kita ada banyak di sekitar kita, tidak perlu diragukan dan dipertanyakan lagi, bahkan diklarifikasi; sekarang ini, sebaliknya dan yang terpenting adalah sejauhmana kita berani menjadi sesame bagi orang lain.

Kita menjadi sesame bagi orang lain, bila kita "menunjukkan belas kasihan kepada orang lain". Inilah pesan Injil kepada kita pada hari ini; dan hendaknya  kita berani melaksanakannya, sebagai kewajiban yang memang harus kita lakukan untuk beroleh hidup kekal.

Para saudara yang terkasih,

Berdasar pesan Injil hari ini, dan mengikuti refleksi Paulus dalam bacaan hari ini juga: "bagaimana kita sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah?". Kesukaan Allah tentunya melaksanakan kehendakNya sebagaimana dikatakan dalam Injil hari ini. "Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus"; dan aku memang bukanlah seorang hamba, karena aku telah banyak berbuat baik kepada banyak orang, dan bahkan 'aku telah mengucap syukur kepada-Mu, ya Tuhan, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti para pemungut cukai; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku' (Luk 18: 11-12).

Bagaimana para saudara?

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening