Jumat XXXI, 5 November 2010

Fil 3: 17-21  +  Mzm 122  +  Luk 16: 1-8

 

 

Lectio :

Injil mengetengahkan sebuah cerita tentang bendahara yang tidak jujur. Bendahara ini mendapat ancaman dipecat oleh tuannya karena dia telah menghambur-hamburkan uang tuannya. Matilah dia kena PHK, padahal dia tahu bahwa mencangkul tak kuat dan mengemis malu. Pandai juga dia, ia meringankan orang-orang yang berhutang kepada tuannya dengan maksud agar mereka besok membantu dia dan memberi dia tumpangan di rumah mereka. Akhirnya, dia malahan mendapat pujian, karena kecerdikannya.

 

Meditatio :

'Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka'. Inilah ucapan seorang bendahara yang dituduh telah menghambur-hamburkan harta milik tuannya, dia diminta mempertanggungjawabkan perbuatannya, dan dia akan dipecat.

Ia kemudian meringankan tanggungan orang-orang yang berhutang kepada tuannya. Mungkin cerita ini yang mungkin memberi inspirasi kepada si gayus tambunan, sang koruptor, hanya saja si gayus terima uang di depan, sedangkan si bendahara ini di belakang, 'supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka'. Pamrih kali dia, apakah orang yang pamrih itu seorang koruptor?

Namun 'sang tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik, sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang'. Tuan itu memuji si bendahara, bukan karena ketidakjujurannya, melainkan karena kecerdikannya. Sebab sang bendahara itu berusaha dan berusaha, agar dia tetap hidup dan selamat.

Dari perumpamaan ini, Yesus mengakui kepandaian orang dalam mencari keselamatan hidup sehari-hari, 'anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang'. Dalam mencari kehidupan agar survive, kita memang lebih pandai dan ulet; Yesus tahu dan sadar akan semuanya itu; bagaimana saya harus hidup, bagaimana saya harus berjuang, bagaimana hidup saya harus lebih mapan, bahkan saya harus hidup berkelimpahan? Inilah impian  hidup saya! Dalam hal ini kita lebih pandai dan ulet! Tetapi tidaklah demikian dalam hidup rohani, dalam mengejar keselamatan; dalam hidup rohani, banyak orang berprinsip: 'cukuplah ini'.

Begitu ribet-nya dan keuletan kita dalam mencari penghidupan, demikianlah seharusnya keberanian kita dalam mengejar keselamatan!   Hendaknya kita hidup dalam kelimpahanNya.

Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan kita memang, agar kita jangan hanya giat dalam mencari nafkah, hendaknya kita juga menaruh perhatian kepada hal-hal rohani yang memang memberikan jaminan hidup abadi dan bukan hanya yang sekarang ini saja. Janganlah hidup seperti orang-orang yang menjadi seteru Kristus, berlawanan dengan Kristus, nasehat Paulus, sebab 'kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi'.

Ingatlah, 'karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya. Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan!'.

 

Oratio :

Tuhan Yesus,  ajarilah kami menjadi orang-orang yang menaruh perhatian terhadap hidup rohani dan tidak mengejar hanya kepentingan hidup sehari-hari. Yesus, bukalah pikiran kami agar kami tidak hanya memikirkan kebutuhan sandang, pangan dan panggon saja.

Yesus Kristus, berkatilah semua orang yang berharap kepadaMu, terlebih mereka yang berkesusahan.

 

Contemplatio :

Tuhan Yesus ada dalam hati kita, sebab tubuh kita adalah kenisah Roh Kudus! 

Dia tidak ada dalam perut kita.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening