Jumat XXXIV, 26 November 2010

Why 20: 1-4  +  Mzm 84  +  Luk 21: 29-33

 

 

Lectio :

Ketelitian seseorang melihat dan mengamati datangnya musim panas, hendaknya demikian juga dalam menanggapi datangNya Kerajaan Allah. Namun segala bentuk alam dan ciptaanNya yang akan hacur dan berlalu, tidaklah demikian dengan sabdaNya.

 

Meditatio :

'Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja', kata Yesus kepada para muridNya menyampaikan sebuah perumpamaan, 'apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat'. Kepandaian ini muncul karena orang mengamati dan mengamati, dan apalagi peristiwa semacam itu terjadi berulang-ulang.

'Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat' tegasNya. Penyataan Yesus ini sama sekali tidak menyampaikan bahwa para muridNya akan melihat suatu tanda-tanda tertentu, sehingga mereka semua semakin menyadari dan mengerti bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, demikian juga yang kita renungkan hari Selasa kemarin, bila ada peperangan dan kehancuran di mana-mana juga tidak menjadi tanda bahwa hari kesudahannya sudah datang. Sungguh-sungguh menjadi peringatan bagi kita semua bahwa dekatnya bahkan datangNya Kerajaan Allah tidaklah ditampakkan oleh tanda-tanda lahiriah yang dapat ditangkap oleh indera kita manusia, dan orang-orang tak dapat mengatakan Dia ada di sana - Dia ada di situ. KedatanganNya tanpa tanda-tanda, tetapi sebetulnya dapat diamati sebagaimana kalau kita 'melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kita tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat'.

Mengamati itu tidak hanya tergantung pada mata inderawi, bahkan mungkin tidak diperlukan, tetapi diperlukan mata yang mempunyai roso, perlu adanya mata jiwa atau mata hati. Sebab memang hanya dengan mata jiwa seseorang dapat merasakan sesuatu ada, terlebih kehadiran seseorang pribadi. Hanya dengan mata jiwa, saya dapat merasakan keberadaan sesuatu, saya dapat merasakan kehadiran seorang pribadi, saya dapat dan berani menyambutkan, dan saya juga merasakan sapaannya.

Sebaliknya, pernahkah kita berhadapan mata dengan seseorang, tetapi kita tidak mengalami dan menikmati kehadirannya?

Pasti pernah, dan itu kesalahan kita!

Dalam Injil tadi  Yesus menegaskan: 'Aku berkata kepadamu sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi'. Berkaitan dengan keruntuhan Yerusalem, semua orang memang akan mati binasa tenggelam dalam kehancuran kota yang indah dan mengagumkan itu. Namun sekali lagi, seperti yang kita renungkan hari Kamis kemarin, kehancuran bukan hanya terjadi pada Yerusalem tetapi serentak seluruh bumi. 'Langit dan bumi akan berlalu', segalanya akan hancur dan musnah, 'tetapi perkataanKu tidak akan berlalu'.

Kalau perkatanNya tidak akan hancur dan binasa, demikian pula tentunya orang-orang yang mengenyam dan menghidupi dirinya dengan sabdaNya. Sungguh benar sabdaNya: 'manusia hidup bukan hanya dari makan saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah' (Mat 4: 4).

Langit dan bumi akan berlalu', segalanya akan hancur dan musnah, 'tetapi perkataanKu tidak akan berlalu'. Itulah penegasan Yesus. Namun hidup pasca-kebangkitan semuanya serba baru, 'mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan, sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah', sebagaimana kita renungkan di hari Minggu 7 November kali lalu. Kiranya kitab Wahyu pada bacaan pertama tadi juga memberi wacana kepada kita, bahwasannya akan tampak 'langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi; tampaklah juga kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya'.

Bagaimana ke'baru'an semuanya itu? Bukan juga mata inderawi kita yang dapat menangkapnya, semuanya hanya dinikmati oleh mereka yang beroleh kebangkitan hidup kekal.

 

Oratio :

Yesus, semoga Engkau membantu kami semua, agar kami berani menggunakan mata jiwa dalam mengolah hidup kami, sehingga kami dapat merasakan kehadiran sesame kami yang memang banyak membantu kami, terlebih-lebih kami dapat merasakan kehadiranMu yang menyelamatkan.

Tuhan, berkatilah kami selalu, amin.

 

Contemplatio :

Aku hendak merasakan kehadiranMu.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening