Rabu Adven I, 1 Desember 2010

Yes 25: 6-10  +  Mzm 23  +  Mat 15: 29-37

 

 

Lectio :

Yesus menyembuhkan banyak orang, yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar yang buta melihat. Segalanya dibuatNya baik.

Ia juga berbelaskasihan melihat orang-orang yang mengikutiNya kelaparan. Dia memperganda roti dan mereka semua dibuatNya kenyang.

 

Meditatio :

'Suatu hari banyak orang berbondong-bondong datang kepadaNya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya'.

Mukjizat itu nyata! Kiranya lagu ini yang akan disenandungkan oleh semua orang pada waktu itu. Sebab memang terjadi peristiwa yang luar biasa dan menggegerkan, semua orang dibuatNya bersukacita dan bergembira. Semua baik!  'Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel'. Mereka semua memuliakan Allah, karena memang hanya Allah yang mampu melaksanakan semuanya seperti itu. KedatanganNya di tengah-tengah umatNya menunjukkan dan membuktikan bahwa Allah sang Immanuel ada di tengah-tengah mereka. Yohanes sebagai seorang yang diutusNya pun merasakan kehadiranNya, maka ia mengutus para muridnya datang kepada Yesus hanya untuk menegaskan kepada mereka bahwa Dia yang ditunggu-tunggu sudah datang dan ada di tengah-tengah mereka. Yesus pun mengamininya dengan berkata: 'pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik, dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku' (Mat 11: 4-6). Semuanya itu pun hanya bisa dilihat dengan mata hati, mata jiwa yang merindukanNya (bdk renungan Jumat, 26 November kemarin).

Kehadiran Yesus sekarang ini menjawab kerinduan bangsa Israel akan datangNya sang Empunya kehidupan, sebab seperti dikatakan dalam bacaan pertama tadi bahwasannya: 'di atas gunung ini, TUHAN akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa. Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umatNya akan dijauhkanNya dari seluruh bumi, sebab TUHAN telah mengatakannya. Pada waktu itu orang akan berkata: sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakanNya!'. Semuanya terpenuhi dan tampak terlihat secara nyata pada mereka buta dijadikanNya melihat, yang lumpuh berjalan, yang kusta menjadi tahir, yang tuli mendengar, yang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakanNya kabar baik.

'HatiKu tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan', tegas Yesus kepada para muridNya.

Suatu bentuk pertanggunganjawab Yesus kepada umatNya; memang bukan Dia yang menyuruh dan memanggil mereka untuk mengikutiNya, mereka sendiri dengan rela dan berani mengikutiNya. Namun itulah jiwa yang penuh kasih, jiwa yang bertanggungjawab, jiwa yang tidak hanya memikirkan diri sendiri, melainkan selalu memperhatikan kepentingan orang lain.

Merepotkan, dan mereka itu bukan tanggunjawab kita!  Itulah yang kiranya diungkapkan juga oleh para muridNya, yang dengan tegas menyatakan: 'bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?'.  Sungguh wajar pernyataan mereka! Semuanya ini dikatakan sesuai dengan kemampuan mereka, baik secara logis atau praksis.

Kata Yesus kepada mereka: 'berapa roti ada padamu?'. Jawab  mereka: 'tujuh buah dan ada lagi beberapa ikan kecil'.  Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Para murid tidak bertindak dan bersikap seperti orang-orang yang datang kepada Yesus sambil membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta dan orang bisu. Apakah mereka para murid ini lupa terhadap Yesus? Apakah mereka belum percaya kepada Yesus? Mereka datang dan mengikuti Kristus Tuhan dengan pelbagai perkiraan, pemikiran dan cita-cita mereka sendiri.

Kiranya pengakuan Teresia Kecil menjadi refleksi bagi kita. 'Aku datang kepadaNya dengan tangan kosong', kata Teresia. Teresia berani datang dan mengikuti Kristus tanpa pretensi, gambaran dan kemauan diri sendiri, dia datang kepada Yesus hanya dengan tangan kosong, tanpa ikatan; ketidakberdayaan diri yang dia tunjukkan dan kemauan untuk siap dipimpin dan dikuasai olehNya. Apa kata Yesus, itulah yang Teresia ikuti.

'Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-muridNya, lalu murid-muridNya memberikannya pula kepada orang banyak, dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh. Dalam Yesus, semuanya terjadi secara melimpah.

 

Oratio :

Yesus Kristus, semoga Engkau mengunjungi saudara-saudari kami yang sampai hari harus berbaring karena sakit. Semoga Engkau menghibur mereka dan melimpahkan kesembuhan kepada mereka.

Kiranya mereka pun semakin berani dan bersemangat dalam memanggul salib kehidupan ini. Yesus kuatkanlah mereka dan hiburlah mereka selalu.

 

Contemplatio :

Dalam Yesus, semuanya bisa terjadi dan berlangsung dengan baik adanya.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening