Rabu XXXI, 3 November 2010

Fil 2: 12-18  +  Mzm 27  +  Luk 14: 25-33

 

 

Lectio :

Injil hari ini menyampaikan permintaan Kristus Yesus bahwasannya bila orang tidak membenci anggota-anggota keluarganya, entah itu orangtua, anak-anaknya dan saudara-saudarinya, atau bahkan tidak membenci nyawanya sendiri, dia tidak pantas menjadi muridNya. Demikian juga mereka yang tidak mau memanggul salib dan mengikutiNya, tidak layak menjadi pengikutNya. Semua harus dibenci, semua harus ditinggalkan, sebab barangsiapa tidak melepaskan diri dari segala-galanya tidak layak menjadi muridNya.

Setiap orang harus memikirkan dan merenungkannya terlebih dahulu, apa dirinya mampu atau tidak mengikuti Kristus dan menjadi muridNya? Janganlah seperti orang yang hendak membangun menara yang tinggi tetapi tidak membuat anggaran belanja terlebih dahulu, atau seorang raja yang tidak memperhitungkan jumlah tentara yang diajaknya berperang?

 

Meditatio :

Sangat berat dan menakutkan permintaan Yesus hari ini. 'Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'. Perhatian terhadap hidup dan keluargan harus dinomerduakan dalam mengikuti Dia; Yesus harus menjadi prioritas dalam kehidupan seorang muridNya.

Mengapa mereka harus dibenci? Bukankah keluarga adalah 'tempat perlindungan dan tempat pengaduan kita', bukankah dalam keluarga kita belajar tentang kehidupan, bukankah dari bapa dan ibu kita beroleh pendidikan, kita belajar tentang kehidupan? Bukankah seorang isteri adalah pautan jiwa diri saya, setelah saya meninggalkan bapa dan ibu dan menjadikan diri satu dengan isteri saya? Bukankah anak-anak adalah buah hati kami berdua sebagai seorang suami dan isteri?

Kita mengerti bahwa mereka harus 'dibenci dan ditinggalkan', sejauh mereka mengikat saya dan membiarkan saya binasa, sejauh mereka menghalang-halangi saya untuk menikmati kehidupan kekal melalui karya penebusan dan kebangkitan badan, sejauh mereka tidak memberi kebebasan kepada saya untuk tinggal bersama dengan Dia di mana Dia berada. Bila mereka mengikat saya dan menjauhkan hidup saya dari keselamatan, saya harus berani melepaskan diri dari mereka, walau mereka adalah 'milik saya', tepatlah yang dikatakan Yesus bahwa 'setiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku'.   Itulah yang kita renungkan juga selama dua hari berturut-turut kemarin. Sebab Yang mampu memberi keselamatan kekal hanyalah Dia sang Empunya kehidupan ini, bukanlah orangtua, isteri atau suami, anak-anak dan saudara-saudari saya; kiranya tepatlah hanyalah Kristus Tuhanlah yang harus menjadi pilihan utama dalam hidup saya. Kiranya pemahaman itulah yang harus kita mengerti dengan ajakan Yesus tadi: menomersatukan Yesus dan menomerduakan yang lain, dan memang hanya dalam arti inilah hal itu dimaksudkan.

Demikian juga, 'barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'. Memikul salib berarti berani menghadapi tantangan dan rintangan hidup sehari-hari, berani berjerih payah dan siap menanggung duka dan resiko dalam keseharian hidup. 'Mengikut Aku' dapat kita mengerti bahwa memang menjadi seorang murid berarti harus mengikuti apa yang menjadi kehendak dan kemauan sang Guru. Apa yang dikatakan Yesus kudu digugu lan ditiru!

Berani kita mengikuti ajakanNya?

Yesus mengingatkan: 'siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.  Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian?'.

Boleh dikata,  kita bukanlah orang-orang pemula dalam mengikuti Kristus. Apakah kita ini orang-orang yang sudah terlanjur mengikuti Kristus? Kita tentunya juga bukan seperti orang yang hendak membangun menara tinggi atau seorang raja yang hendak berperang. Kita adalah orang-orang yang sudah kepalang basah mengikuti Kristus, walau kita belum mempunyai hati yang suci dan belum menjadi sempurna sebagaimana yang dimintanya. Kita memang menjadi orang-orang yang terlanjur dan kepalang basah mengikuti Yesus, tetapi jujur kita pun harus berani mengakui bahwa kita telah menikmati rahmat kebangkitan, rahmat yang menyelamatkan, karena kemauan kita mengikutiNya; kiranya baiklah kita nikmati sungguh-sungguh, agar semuanya itu, yakni rahmat dan karuniaNya, semakin nyata dalam hidup kita.

Paulus menganjurkan: 'hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,  karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan'. Nasehat Paulus ini mengajak kita sebagai anak-anak Allah untuk semakin mampu merasakan rahmat kebangkitan yang telah kita terima itu dengan mentaati firmanNya, agar kita mempunyai hati yang suci, tiada beraib dan tiada bernoda, dan bahkan mampu bercahaya seperti bintang-bintang di dunia.

 

Oratio :

Ya Tuhan Yesus,  kuatkanlah jiwa dan raga kami, agar kami dengan taat dan setia memanggul salib kehidupan ini. Ajarilah kami juga dengan terang Roh KudusMu agar kami semakin berani berkata-kata tentang kebenaran yang datang daripadaMu.

Yesus, tebarkanlah juga iman dalam diri setiap orang, agar mereka semakin mengenal Engkau, tujuan perjalanan hidup semua ciptaanMu.

 

Contemplatio :

Salib dipanggulNya, dan di puncak Golgota Dia bertakhta mulia di kayu salib dan menarik semua orang datang kepadaNya. Salib dahulu adalah tanda penghinaan, kini salib menjadi tanda kemuliaan dan kemenangan. Semuanya itu karena Kristus!

Kita panggul salib kehidupan ini bersama denganNya agar beroleh hidup kekal.

Semoga.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening