Rabu XXXII, 10 November 2010

Tit 3: 1-7  +  Mzm 23  +  Luk 17: 11-19

 

 

Lectio :

Ada sepuluh orang kusta yang mendekati Yesus dan memohon belaskasihan daripadaNya. 'Perlihatkanlah diri kalian kepada imam-imam kepala', perintah Yesus kepada mereka. Ketika mereka sedang dalam perjalanan, sembuhlah mereka. Seorang dari mereka, yakni orang Samaria ketika melihat dirinya telah sembuh, kembalilah dia menjumpai Yesus untuk berterima kasih kepadaNya.

'Bukankah sepuluh orang yang telah sembuh, di manakah yang sembilan orang lainnya?', seru Yesus kepada orang-orang yang mengikutiNya. 'Pulanglah, imanmu telah menyelamatkan engkau', tegas Yesus kepada orang yang mendatangiNya itu.

 

Meditatio :

Suatu kali ada sepuluh orang kusta menemui Yesus, mereka tinggal berdiri agak jauh, mereka sepertinya amat sadar akan kelemahan dirinya, sehingga mereka tidak mau dan tidak berani mendekatiNya dan mereka juga membastasi untuk didekati oleh khalayak umum. 'Yesus, Guru, kasihanilah kami!', teriak mereka kepadaNya. Yesus amat mengerti maksud dan kemauan baik mereka, lalu kataNya kepada mereka: 'pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam'.

Apakah mereka mengerti maksud Yesus yang menyuruh mereka menemui para imam? Kalau tidak mengerti, mengapa mereka langsung pergi menjumpai para imam, bukankah mereka meminta belaskasihNya? Kalau mereka tahu dan sadar bahwa mereka akan disembuhkan dengan pergi kepada para imam, mengapa mereka tidak mengucapkan terima kasih terlebih dahulu sebelum pergi?  Bila memang mereka mau disembuhkanNya, bukankah lebih tepat dan langsung menenangkan jiwa mereka, Yesus berkata: 'sembuhlah kalian, tapi sekarang pergilah dahulu dan tunjukkanlah kepada para imam?'. Itulah kemauan kita!

Sementara mereka di tengah jalan, sembuhlah mereka. Apakah kesembuhan mereka karena pergi kepada para imam? Tentunya bukan! Tidak juga seperti Naaman yang pergi mandi tujuhkali di sungai lalu menjadi sembuh (2Raj 5: 14). Tak jarang jawaban Yesus akan doa-doa yang dipanjatkan umatNya tidak bersifat matematis, tidak demikian, melainkan bagaikan untaian lagu yang harus dialunkan terlebih dahulu.

'Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria'. Orang ini kembali karena merasakan ada suatu tindakan yang lebih penting dan harus didahulukan daripada melaporkan diri kepada para imam. Apa itu? Bersyukur kepada Tuhan Yesus yang telah memberikan anugerah terbaik bagi hidupnya. Kesembuhan mereka adalah anugerah Tuhan.

'Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?', seru Yesus kepada orang-orang yang ada di sekitarNya. Orang asing, orang Samaria, yang seringkali dicap kurang mengenal Allah yang benar itu, ternyata lebih kenal akrab dengan Allah daripada kesembilan temannya tadi. Cap kita kenakan, pengkotak-kotakan agama, suku, usia ataupun profesi seringkali membatasi gambaran kita mengenal sesuatu, mengenal orang lain, dan malahan pengkotak-kotakan itu tidak memberi batasan dan jaminan seseorang dalam mengenal Allah.

'Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau' tegas Yesus. Orang ini, tidak saja beroleh kesembuhan, tetapi juga keselamatan.

Kita pun diajak juga untuk selalu bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan, sebab kita bukan saja beroleh kesembuhan atau rejeki sehari-hari, tetapi juga keselamatan yang kita terima daripadaNya, berkat kehendak dan panggilanNya semenjak kita menerima sakramen baptis yang menyatukan itu. Paulus mengingatkan semuanya itu dengan berkata: 'Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkanNya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karuniaNya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita'.

 

Oratio :

Tuhan Yesus, ajarilah kami selalu untuk berani bersyukur dan bersyukur kepadaMu, karena memang apalah kami; kami hidup dan ada hanya karena Engkau. Engkau sungguh-sungguh memperhatikan dan menyertai kami.

Yesus, semoga kami semakin hari semakin merasakan kasihMu dalam hidup kami. Amin.

   

Contemplatio :

Lambungkanlah ucapan syukur dan pujian dari lubuk hati kita yang terdalam.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening