Sabtu XXXI, 6 November 2010

Fil 4: 10-19  +  Mzm 112  +  Luk 16: 9-15

 

 

Lectio :

Dalam Injil hari, Yesus meminta para muridNya untuk setia dalam perkara kecil, sebab kesetiaan dalam perkara-perkara semacam itu mendatangkan berkat tersendiri bagi mereka, kesetiaan mereka menjadi modal untuk menanggapi persoalan-persoalan besar yang akan dipercayakan kepada mereka.

Yesus juga meminta agar mereka tidak mengabdi dua tuan, sebab akan menyayangi yang satu dan membenci yang lain, mereka tidak bisa mengabdi Allah dan mammon.

 

Meditatio :

Yesus berkata kepada para muridNya: 'Aku berkata kepadamu: ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur, supaya jika mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi'. Mereka harus pandai dan cerdik menggunakan mammon, mereka harus menguasai dan mengendalikan mammon, dan bukannya mereka yang dikendalikan mammon, sebab mammon tidak mengarahkan dan menentukan seseorang untuk tinggal dalam kemah abadi.

'Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar, dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar'. Ketekunan dan kesetiaan orang tampak dan dimulai dalam perkara-perkara kecil; kesetiaan seseorang dalam menghadapi perkara-perkara kecil menjadi modal dan latihan bagi seseorang untuk menghadapi soal-soal yang lebih besar lagi.

Kesetiaan dalam tugas sehari-hari tadi ternyata juga menuntun seseorang dalam pengalaman rohani. Yesus sepertinya yakin akan hal ini. Dia mengembangkan pengertianNya kemarin yang menegaskan anak-anak dunia ini lebih cerdik daripada anak-anak terang, yang mana usaha mereka dalam mencari penghidupan ini lebih ulet dan gesit. Kesetiaan mereka dalam mencari penghidupan memungkinkan mereka setia juga dalam mengejar pengalaman hidup rohani. 'Jikalau kamu tidak setia dalam hal mammon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?'; sebab bagaimana orang merindukan warisan sejati (Mzm 16: 5), harta yang sesungguhnya, yang memang harus diperjuangkan sebagai mutiara indah (Mat 13: 45), kalau memang dia dalam perkara kecil dan sederhana saja tidak menampilkan kesetiaan? Mendapatkan harta yang sesungguhnya memang diperlukan usaha yang tidak kecil, namun dapat dimulai sekarang dari hal-hal yang kecil dan sederhana.

Dikatakan tadi 'kesetiaan seseorang dalam mencari penghidupan memungkinkan dia setia juga dalam mengejar pengalaman hidup rohani'. Kata 'memungkinkan' mendapatkan tekanan, karena ungkapan tadi bukanlah sebuah rumusan, tidak selalu demikian terjadi, sekedar salah satu kemungkinan; ada orang yang tidak mampu 'mempergunakan mamon yang tidak jujur', malahan dia menduakan Allah dan mammon. Karena itu Yesus menegaskan: 'seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, sebab jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain; kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mammon'.

Bagaimana kita?  No problems?

Penyataan Yesus itu ternyata menghantam juga orang-orang Farisi, sebab diceritakan tadi:  'ketika semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia'. Mereka berbalik melawan Yesus dan mencemoohkanNya, karena merasa terpojok. Mereka bertindak demikian, karena selalu menyebut diri penjaga tradisi Yahudi dan hokum Taurat, tetapi ternyata mereka juga bermain uang, tak jarang mereka 'menelan rumah janda-janda dengan mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang' (Mat 23: 14); mereka adalah orang-orang munafik dan mereka adalah hamba-hamba uang. Mereka sungguh-sungguh mengabdi Allah dan mammon. Yesus yang tahu ulah mereka, dan langsung menegur mereka, kataNya: 'kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah'.

Mammon memang amat menarik hati banyak orang!  Kiranya tak pernah orang berkata sudah cukuplah uangku, malahan sebaliknya orang mengumpulkan dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, lalu berkata: 'jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!' (Luk 12: 19). Tuhan mereka adalah perut mereka.

Kiranya kita ingat, hati yang tenang adalah hati yang nrimo ing pandum, mendapatkan rejeki banyak, berucap: terima kasih Tuhan, dan sebaliknya mendapatkan sedikit rejeki, tetap berseru: terima kasih Tuhan. Paulus dalam sharingnya kepada umat di Filipi sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama tadi, tidak berkeluhkesah dalam aneka kekurangan dan kesulitan, karena memang dia tahu kepada Siapa dia harus mengeluh. Katanya: 'aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku'.

 

Oratio :

Tuhan Yesus,  terima kasih kami hunjukkan kepadaMu atas anugerah kelimpahan yang boleh kami terima daripadaMu; semoga segala kebaikan yang kami terima ini dapat kami gunakan untuk berbagi kasih dengan sesame. Semoga semua anugerahMu ini semakin membantu kami dalam karya-karya pelayanan kami. 

  

Contemplatio :

Dia yang kaya mau menjadi miskin, agar kita menjadi kaya oleh kemiskinanNya. Kita pun juga harus berani menjadi miskin dan berbagi kasih dengan sesama 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening