Sabtu XXXIV, 27 November 2010

Why 22: 1-7  +  Mzm 95  +  Luk 21: 34-36

 

 

Lectio :

Yesus mengingatkan para muridNya agar tidak tenggelam dalam aneka pesta pora, malahan hendaknya berani berjaga dan berdoa, supaya mereka dalam keadaan siap sedia menyambut kedatangan Dia sang Anak Manusia.

 

Meditatio :

Kepada para muridNya Yesus menegaskan: 'jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat, sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini'.

Hal ini dikatakan karena orang yang bersenang-senang dalam pesta pora sering tenggelam dalam ketidakberdayaan, mereka terlena dalam kemewahan, berkubang dalam kenikmatan makanan, demikian juga orang-orang yang menyibukkan diri dalam kesibukan sehari-hari; Yesus bukannya melarang orang untuk mempunyai acara pesta atau banyak kesibukan, malahan kita harus mempunyai kesibukan, supaya tidak terlihatan kosong oleh setan, tetapi hendaknya kita tidak tenggelam di dalamnya dan melupakan aneka keperluan hidup yang lain, terlebih dalam kebutuhan dan kehausan hidup rohani.

Hari Tuhan, hari kehadiranNya itu, datang secara tiba-tiba; janganlah ketidakberdayaan kita, karena tenggelam dalam kesibukan sehari-hari, membuat kita terjatuh dan terjerat; semuanya itu bisa terjadi, karena kita tidak mempunyai perhatian terhadap sesuatu yang memang harus kita lakukan. Kesibukan yang menyebabkan kita lupa membawa SIM, membuat kita terjerat dan tertangkap basah oleh sang polisi. Sekali lagi kita terjerat, bukan karena keberadaan sang polisi, melainkan karena kurang adanya perhatian terhadap hidup kita sendiri. Demikianlah hari Tuhan yang jatuh secara tiba-tiba bagaikan jerat itu; ada aneka kebutuhan hidup dalam diri kita, satu di antaranya adalah kebutuhan rohani hidup kita.

Karena itu, 'berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia'.

Orang yang terjerat adalah orang yang melakukan kesalahan, dia tahu apa yang seharusnya dibuat, tetapi dia tidak mengerjakannya. Orang yang tidak mau kena tilang kendaraannya, maka dia melengkapi segala keperluan untuk mengendari sepeda motornya. Demikian orang dapat siap sedia menghadapi kehadiran sang Anak Manusia adalah dia yang berani berjaga-jaga sambil berdoa. Berjaga-jaga sambil berdoa membuat kita siap sedia bertindak apa saja yang diminta oleh Dia yang akan datang itu. Berdoa sendiri adalah salahsatu bagian dari sikap berjaga-jaga itu, sebab sikap berjaga-jaga sebagaimana dimaksud adalah kesadaran akan aneka keperluan hidup, tidak tenggelam dalam aneka pesta pora dan kemabukan, membuka mata dan hati dalam aneka kegiatan keseharian, berbagi kasih dengan sesame.

Kehadiran Anak Manusia yang tiba-tiba dan mendadak hendaknya tidak diartikan secara negative saja, yakni panggilan Tuhan melalui peristiwa kematian. Boleh saja kita melihat peristiwa kematian sebagai kedatangan sang Anak Manusia, maka diperlukan kesiapsiagaan dan pengkondisian diri untuk menerimanya dengan tulus ikhlas. Kesiapsiagaan diri seseorang menghadapi 'peristiwa yang pahit itu' memberikan kebahagiaan tersendiri bagi orang yang bersangkutan, dan ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Kehadiran Anak Manusia itu lebih dimaksudkan sebagai sebuah pengalaman yang memberi sukacita dan damai, dan sungguh-sungguh dapat dinikmati oleh setiap orang, bila memang dia berani menyambutNya dengan gembira hati, dia siap menerimaNya, dia tidak merasa kelabakan dan bingung dengan kehadiranNya, bahkan menganggap Dia sebagai orang asing yang perlu dicurigai dan diwaspadai; kehadiran sang Anak Manusia malahan menjadi kerinduan hatinya, karena memang dia sering berkomunikasi denganNya, dia sering bercerita kepadaNya, dia jujur menyampaikan keluhan dan keruwetan hidupnya, dia selalu curhat kepadaNya. Dia memang sang Idola hatinya; kehadiranNya sungguh-sungguh diharapkan dan membuat sukacita diri.

Kedatangan Anak Manusia adalah awal dari datangnya sukacita abadi bagi setiap orang yang berharap padaNya. Sukacita itu sungguh membahagiakan sebagaimana dilukiskan dalam kitab Wahyu pada bacaan pertama tadi.  Tampaklah kepadaku, kata Yohanes, 'sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hambaNya akan beribadah kepadaNya, dan mereka akan melihat wajahNya, dan namaNya akan tertulis di dahi mereka. Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya'.

 

Oratio :

Yesus, semoga Engkau membantu kami semua, agar kami berani menggunakan mata jiwa dalam mengolah hidup kami, sehingga kami dapat merasakan kehadiran sesame kami yang memang banyak membantu kami, terlebih-lebih kami dapat merasakan kehadiranMu yang menyelamatkan.

 

Contemplatio :

Aku rindu akan kedatanganMu ya Tuhan.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening