Selasa XXXII, 9 November 2010

Pesta Pemberkatan Gereja Katolik Lateran

Yeh 47: 1-2.8-9  +  Mzm 46  +  Yoh 2: 13-22

 

 

Lectio :

Mendekati hari raya Paskah Yesus pergi ke bait Allah di Yerusalem. Dia melihat banyak orang berjualan di situ, Yesus marah dan mengusir mereka keluar dari situ; 'jangan jadikan bait Allah ini sebagai tempat berjualan', seruNya kepada mereka. Para pedagang melawanNya, dan mereka meminta tanda 'apa hak dan kuasaNya', sehingga Dia berhak mengusir mereka dari situ. Yesus malahan berbalik menantang mereka dengan mengatakan: 'rombaklah bait Allah ini, maka dalam tiga hari Aku akan membangunnya kembali!'. Gemparlah mereka semua dibuatNya.

 

Meditatio :

'Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapatiNya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ'. Maksud baik seringkali mengacaukan nilai-nilai kebenaran. Kiranya dapat kita mengerti, kalau ada orang marah dan gerah dengan maksud baik orang lain, yang tidak sesuai dengannya. Sangat tegas dikatakan: para pedagang itu berjualan ternak di dalam bait Allah; kita dapat bayangkan pasar tradisional dilangsungkan dalam bangunan tertutup. Hiruk pikuk dan kacau mungkin terjadi dalam bait Allah. Para pedagang bukanlah orang-orang asing, mereka adalah orang-orang Yahudi sendiri, yang memang bermaksud baik yakni menyediakan hewan korban untuk keperluan ibadat, walau diperkirakan terjadi pemerasan dan ketidakadilan.

Marahlah Yesus.  Benarlah naskah dalam Kitab Suci yang menyebutkan 'cinta untuk rumahMu menghanguskan Aku'. Ia membuat cambuk dari tali, lalu mengusir mereka semua dari bait suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkanNya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: 'ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan'. Bagaimana terhadap pedagang-pedagang lembu dan kambing domba? Tidak diceritakan!

Gemparlah mereka semua, malahan orang-orang Yahudi dengan berani melawan dan menantang Yesus, katanya: 'tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?'.

Yesus tidak tinggal diam, jawabNya kepada mereka: 'rombak bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali'. Mereka menertawakan Dia, katanya: 'empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?'.

Wajarlah memang timbul perlawanan dan pemberontakkan terhadap Yesus. Betapa sulitnya memindahkan pasar? Pemerintah jaman sekarang ini mengalami kesulitan dan perlawanan memindahkan lokasi berjualan, apalagi di jaman Perjanjian Baru, walau peristiwa itu tidak terjadi di pasar, melainkan di bait Allah. Yesus tidak gentar melakukan semua itu, Ia melabrak tatanan sosial yang ada, Dia tidak mau bait Allah dijadikan tempat berjualan. Bait Allah rumah doa, tempat perjumpaan umat Allah dengan sang Khaliknya, tak mungkin dipakai untuk kepentingan lain. Tindakan jual hewan kurban adalah menghalalkan cara.

Kita hormati bait Allah yang kudus, sebab dari dalam baitNya mengalirlah air kehidupan, semua yang menghisap aliranNya menjadi hidup. Itulah yang dilukiskan dalam bacaan pertama tadi.  Lagipula, 'cinta untuk rumahMu menghanguskan Aku', maka kiranya tak dapat disangkal perlawanan dan pengrusakan gereja dan rumah-rumah ibadat lain dimengerti sebagai perlawanan dan pelecehan terhadap simbol-simbol agama, bila menimbulkan kemarahan umat beriman; mohon dimengerti, karena memang amat bisa dihindari!

Perayaan Pemberkatan Gereja Lateran mengingatkan kita akan keluhuran gereja sebagai tempat yang suci dan kudus, terlebih akan GerejaNya yang kudus yang terpanggil untuk menjadi tanda kedamaian bagi bangsa-bangsa.

'Rombak bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali', tegas Yesus yang menunjukkan kesadaran diri akan tugas perutusanNya. Secara tegas Yesus menyatakan hal itu, dan memang 'yang dimaksudkanNya dengan bait Allah ialah tubuhNya sendiri'. Sebab selama tiga hari Dia akan dirobohkan, namun Dia akan bangkit dan membangun kehidupan baru, dan menarik semua orang untuk datang kepadaNya. Dia sendirilah adalah tempat berdoa yang benar, Dialah Pengantara kepada Bapa, dalam Dialah kita dapat mendengarkan suara Bapa, 'dalam Dialah kita berjumpa dengan Allah yang tak kelihatan dan tak teraba', 'tidak ada orang sampai kepada Bapa', 'Dialah Jalan, Kebenaran dan Hidup',  'melihat Dia berarti melihat Bapa'.

 

Oratio :

Tuhan Yesus, dalam Engkau kami menemukan kehidupan, karena memang Engkaulah kehidupan itu sendiri.  Buatlah kami semakin hari semakin betah dan krasan tinggal dalam Engkau, malahan kami semakin merindukan tinggal bersama dalam Engkau.

Ya Yesus, semoga semangat kebersamaan semakin tumbuh dalam bangsa dan negara kami, semoga bangsa kami semakin bisa menerima bahwa kami masing-masing berbeda satu sama lain, kami tidak bisa memaksakan kehendak diri kami sendiri. Buatlah kami berani menerima kenyataan bahwa di hadapan kami ada mereka yang berbeda dengan kami, baik dalam hal agama, suku dan budaya, kepandaian dan kekayaan, bakat dan kemampuan. Secara khusus, perbaharuilah semangat toleransi antar umat beragama di antara kami.

  

Contemplatio :

Barangsiapa melihat Aku, dia telah memandang Bapa, demikian juga mereka yang mendengarkan suaraKu.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening