Senin XXXIII, 15 November 2010

Why 2: 1-5  +  Mzm 1  +  Luk 18: 35-43

 

 

Lectio :

Dalam perjalanan masuk ke kota Yeriko, ada seorang pengemis berteriak-teriak kepadaNya: 'Yesus Anak Daud kasihanilah aku'. Orang-orang menyuruhnya diam, tetapi semakin kuat dia berteriak. Yesus pun berhenti dan menyuruh orang memanggil dia. Ketika Yesus bertanya apa yang engkau kehendaki, orang buta itu langsung menjawab 'semoga aku bisa melihat'. 'Imanmu telah menyelamatkan engkau', kata Yesus kepadanya, dan ia pun akhirnya bisa melihat dan memuji Allah.

 

Meditatio :

Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Maaf, biasanya orang buta itu tajam pendengarannya, tetapi tidaklah demikian dengan orang buta ini, dan kemungkinan besar dia tidak tahu siapakah Orang yang lewat itu, sehingga ia bertanya 'apa itu?'.

Namun ketika diberitakan 'Yesus orang Nazaret lewat', dia langsung berteriak: 'Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!'. Dia memang tidak tahu dan tidak pernah merasakan perjumpaan dan kehadiranNya, tetapi sepertinya dia pernah mendengar siapakah Yesus itu. Orang buta itu sepertinya mengenal dengan baik siapakah sebenarnya Yesus itu, mungkin dari namaNya; yang jelas, dia tahu bahwa yang lewat ini bukan sembarang orang, Dia adalah Anak Daud, Dia  Orang besar dan punya kuasa, Dia mampu membuat segalanya menjadi baik, dan apalah dirinya, dia hanya memohon 'kasihanilah aku!'.

'Mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam'. Biasa memang tindakan seperti itu, bila ada orang besar, ada pejabat, ada orang penting lewat, semua harus disingkirkan segala yang merintangi dan mengganggu perjalanan, minimal ditutupi sebentar supaya tidak terlihat dan tercium. Inikah tindakan protokoler ?  Semuanya harus tampak bersih, baik dan aman, walau pun tidak seperti itu adanya. Padahal masih ada orang-orang seperti pengemis buta itu!

Namun semakin keras ia berseru: 'Anak Daud, kasihanilah aku!'. Pengemis ini memang seorang pemberani! Karena tak jarang, usaha untuk mendiamkan orang-orang semacam ini, ketika seseorang pejabat lewat, amatlah kasar dan tak jarang main kekerasan! Namun dia tetap berani berteriak dan berteriak dalam tata birokratis yang sudah mapan dan terkendali itu. Ia orang lemah, tapi dia seorang yang pede dan pemberani.

'Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepadaNya'. Kiranya tindakan Yesus ini juga dijadikan sebuah kemungkinan bagi para pejabat masyarakat dan Gereja, bila memang ada peristiwa-peristiwa semacam orang buta ini, mereka berani berhenti dan menaruh perhatian, dan meminta orang-orang yang ada di sekitarnya tidak bertindak keras, malahan menyapa mereka dalam kasih.

Dan ketika ia telah berada di dekatNya, Yesus bertanya kepadanya: 'apa yang kaukehendaki, supaya Aku perbuat bagimu?'. Yesus bukan saja menyapa, Dia malahan hendak memberi sesuatu, bukan sesuai dengan kemauanNya melainkan menurut kemauan orang yang hendak diberiNya. 'Tuhan, supaya aku dapat melihat!', pintanya.

'Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!', jawab Yesus. Dia mendapatkan anugerah kesembuhan, dan terlebih rahmat keselamatan berkat iman kepercayaannya kepada sang Anak Daud.

'Seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah'. Semua orang merasakan kebaikan Tuhan dan memuji; kebaikan dan kasih Tuhan yang dinikmati oleh seseorang anggota Gereja, menyemangati seruan doa dan pujian umatNya. Sukacita seorang anggota Gereja seharusnya membawa sukacita dan bisa dirasakan oleh seluruh umatNya

Para saudara yang terkasih,

Dikatakan tadi kiranya tindakan Yesus dijadikan sebuah kemungkinan bagi para pejabat masyarakat dan Gereja untuk semakin berani berhenti dan menaruh perhatian kepada orang yang dilayaninya. Apakah pesan Injil hari ini hanya untuk mereka?

Tidak!  Untuk kita semua!  Bukankah kita juga seorang pemimpin bagi diri kita masing-masing? bagi keluarga?   Hendaklah kita semua sabar dan penuh perhatian terhadap sesame. Bila ada aneka peristiwa di sekitar kita yang tidak sesuai dengan kemauan kita dan bahkan melenceng dari kehendak dan rencana bersama, baiklah kita sabar dan penuh kasih. Namun hendaknya, kita tidak cukup bertindak dengan jiwa sabar saja, tetapi juga penuh kasih, sebab kesabaran tanpa kasih belumlah sempurna; kesabaran semacam ini masih sebatas sikap pengendalian diri seseorang, sedangkan sikap kasih itu sudah lebih pada pemberian diri seseorang terhadap orang lain, terhadap sesamanya. Yohanes dalam bacaan pertama tadi juga mengingatkan hal ini. Sabda Allah sebagaimana wahyu yang diterimanya: 'Aku bangga bahwasannya engkau tetap sabar dan menderita oleh karena namaKu; dan engkau tidak mengenal lelah.  Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.  Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat'.  Kesabaran tanpa kasih tak bedanya dengan tindakan insane yang sekedar menenangkan jiwa.

 

Oratio :

Yesus Kristus, ajarilah kami untuk berani berseru dan berseru kepadaMu, sebab itulah yang menandakan bahwa kami tetap beriman kepadaMu, tetap merindukan kebaikan dan belaskasihMu.

Buatlah kami, ya Yesus, mempunyai hati yang sabar dan penuh kasih, terlebih terhadap mereka yang dibiarkan dan diabaikan, tanpa perhatian. Semoga kemapanan hidup yang kami nikmati tidak melupakan dan menjauhkan kami dari mereka. Yesus, teguhkanlah kami akan sabdaMu yang mengingatkan bahwa 'apa yang kami lakukan untuk saudara kami yang hina, kami telah melakukannya untuk Engkau'. Amin.

 

Contemplatio :

Hati yang sabar dan penuh kasih mendamaikan dan menyelamatkan jiwa  dan  sesame.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening