Senin XXXIV, 22 November 2010

Why 14: 1-5  +  Mzm 24  +  Luk 21: 1-4

 

 

Lectio :

Suatu hari Yesus melihat seorang janda memasukkan juga uang persembahan pada sebuah kota persembahan. Yesus berkata tentang dia kepada para muridNya: 'perempuan ini memberi paling banyak dibandingkan orang-orang lainnya, sebab dia memberi dari kekurangan, sedangkan yang lain dari kelimpahannya.

 

Meditatio :

'Suatu ketika Yesus melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu'. Sepertinya Yesus amat tertarik dengan peristiwa itu, sebab biasanya yang memasukkan uang dalam kotak itu hanya mereka yang mempunyai banyak uang, tetapi kali ini Dia berhadapan dengan peristiwa yang menarik. Ia begitu teliti terhadap perempuan janda itu, sehingga Dia tahu dengan baik berapa uang yang dimasukkan perempuan itu dalam kotak persembahan.

'Aku berkata kepadamu', kata Yesus kepada mereka semua, 'sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu, sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya'. Yesus melihat rentetan peristiwa tadi, bukan hanya dengan mata inderawi saja, tetapi juga dengan mata hatiNya; sebab Dia tahu benar berapa hasil nafkah hidup perempuan janda itu. Namun yang lebih disorot adalah keberanian perempuan itu memberikan semua dari semua yang dimilikinya, sedangkan mereka orang-orang lain yang kaya hanyalah sebagian dari semua yang dimilikinya.

Bukan soal jumlah uang yang dimilikinya, bukan pula bagaimana si perempuan janda ini makannya nanti. Kita diajak berani melihat keberanian perempuan ini memberi semua dari semua yang dimilikinya, ia telah 'memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya'. Itulah kasih. Ia tidak memikirkan nyawanya, ia tidak memikirkan dirinya bagaimana dia harus hidup, ia tidak memikirkan keselamatan dirinya, ia hanya memikirkan kepentingan orang lain, karena memang derma itu digunakan untuk kepentingan sosial. Inilah kasih!.

Tak dapat disangkal dan sungguh wajar, bila setiap orang menilai segala sesuatu dari sisi kepentingan ekonomis pribadinya, homo economicus. Namun apa yang kini dilakukan perempuan janda miskin ini mengatasi rumusan hidup yang ada. Pasti tidak terpikirkan dirinya bahwa dia bisa berjasa dapat memberikan persembahan dalam kotak itu, karena memang berapalah yang dapat diberikannya, namun tindakannya tadi mengabaikan kepentingan diri sendiri dan mengalahkan rumusan umum yang berlaku untuk semua orang. Ia telah berbagi kasih, dan kasih itu mengalakan segala-galanya, omnia vincit amor.

Kita ingat juga renungan kita kemarin, bahwa Dia sang Raja Kehidupan itu tidak memikirkan bagaimana cara menyelamatkan diri, malahan Dia menyerahkan nyawaNya menjadi kurban tebusan bagi banyak orang.

Perempuan janda itu tidak dikuasai oleh harta benda yang dimilikinya, melainkan dia menguasai dan mengendalikan harta yang dimilikinya. Perempuan ini bukanlah pengikut budaya baru sebagaimana dikatakan kemarin. Ia hidup dalam kendali kasih!

Kalau kita kaitkan dengan bacaan pertama, apakah perempuan janda itu termasuk dari 'mereka yang menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu', dan termasuk pada kelompok 'seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu?'

Kiranya dia termasuk di dalam kelompok itu. Sebab dia telah berbuat kasih, dia bukan saja pendengar hokum Taurat yang menipu diri, tetapi dia adalah pelaku firman (Yak 1: 22). Perempuan ini termasuk orang-orang 'yang tidak terdapat dusta di dalam mulut mereka; mereka adalah orang-orang yang tidak bercela'.

 

Oratio :

Yesus Kristus, Engkau memanggil kami kepada kekudusan. Jadikanlah kami orang-orang yang dikendalikan oleh kasih, sehingga kami siap berbagi kasih dengan mereka yang berkekurangan, sebagaimana Engkau sendiri, yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.

 

Contemplatio :

Tiada kasih yang lebih besar, daripada kasih seorang yang berani menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatnya.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening