Hari Raya Natal, 25 Desember 2010

Misa Siang 

Yes 52: 7-10  +  Ibr 1: 1-6  +  Yoh 1: 1-18

 

 

Lectio :

Pada mulanya adalah Firman, dan segala sesuatu dijadikan olehNya, karena Firman itu bersama dengan Allah. Dan hari ini Firman itu menjadi manusia, dan kita yang percaya diangkat menjadi anak-anak Allah.

 

Meditatio :

'Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah'.

Sebuah pengungkapan rahasia atau misteri Firman. Sebelum dunia dijadikan, sebelum segalanya ada, yang ada hanyalah Firman, tidak ada yang lain, sebab Firman itu ada bersama Allah, dan Firman itu adalah bagian dari Allah, Firman itu milik Allah, Firman itu Allah. Pada awalnya, tidak ada apa-apa, hanyalah Firman yang ada, sebab 'Firman itu bersama-sama dengan Allah'.

'Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan'.

Dan penciptaan dunia dengan segala isinya ini terjadi hanyalah karena Firman, karena memang oleh Dia dan dalam Dia segala sesuatu tercipta, segala sesuatu dijadikan. Firman menciptakan segala sesuatu. 'Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan', kata Paulus dalam bacaan kedua tadi. Semuanya ini bisa terjadi, karena memang Firman itu bersama Allah, dan Firman itu adalah Allah.

 'Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran'.

Firman yang agung dan mulia, Dia yang telah menciptakan segalanya, Dia yang adalah Pencipta manusia, kini telah menjadi manusia dan dia diam di antara kita. Dia menjadi manusia, sama dengan kita, ciptaanNya, hanya Dia hidup tanpa dosa. Inilah misteri yang agung dan mulia, yang di luar kemampuan kita umatNya, inilah kemuliaanNya, Dia menjadi manusia yakni Yesus Kristus; dan bukan yang lain dan tidak ada yang lain, hanya Yesus Kristus itulah Firman yang menjadi manusia; karena memang hanya Dialah, kita menyebutNya sebagai Anak Tunggal dari Allah, yang adalah Bapa yang kekal.

Firman menjadi manusia itulah yang kini kita rayakan dalam perayaan Natal. Perayaan Natal adalah peristiwa Firman menjadi manusia. Dia yang adalah Allah menjadi manusia tidak ditampakkan dalam kemewahan dan kemegahan, Dia hanya hadir dalam diri seorang bayi kecil dan sederhana. Dialah Yesus Kristus. Dia yang agung dan mulia hanyalah ditampakkan dalam diri bayi kecil. Inilah kekeliruan Allah, menurut saya. Namun inilah kebenaran, karena memang kemauan Allah sendiri menjadi manusia lemah sama seperti umatNya.  Wajarlah ketika 'Ia telah ada di dalam dunia yang dijadikanNya, tetapi dunia tidak mengenalNya', wajarlah ketika 'Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya'. Sang Pencipta ditolak oleh ciptaanNya, karena kehendak Allah tidak sesuai dengan kemauan ciptaanNya.

Tetapi ada banyak 'orang-orang yang percaya dan menerimaNya', sebagaimana yang diwakili oleh para gembala, presentasi orang-orang yang rindu akan datang seorang Mesias, sang Raja Adil dan kedamian. 'Sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Inilah tandanya: kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan'.  Dan kepada mereka orang-orang yang percaya dan menerimaNya 'diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah'.

Inilah sukacita Natal. Kalau perayaan Natal, kita mengenangkan Firman menjadi manusia, maka kalau sukacita Natal, kita merayakan pengangkatan kita manusia menjadi anak-anak Allah. Ada pembedaan tetapo kedua-duanya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, karena pada waktu Dia datang dan lahir menjadi manusia, pada waktu itulah orang-orang yang percaya datang menyambutNya. Perayaan Natal adalah perayaan Allah menjadi manusia dan kita manusia menjadi anak-anak Allah.

Kalau Adven dan Natal adalah awal tahun Liturgi, perayaan yang mengawali perjalanan rohani Gereja, maka kiranya perayaan Natal, hari ini 25 Desember harus menjadi awal bagi kita semua untuk semakin berani bersikap dan bertindak sebagai anak-anak Allah. Bersikap dan bertindak sebagai anak-anak Allah berarti bersikap dan bertindak seperti Allah sendiri bertindak.

Bersikap dan bertindak seperti Allah sendiri bertindak berarti kita harus berani bersikap seperti Dia yang murah hati 'yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Mat 5: 45),  bertindak seperti 'ayahnya itu berlari mendapatkan anaknya lalu merangkul dan menciumnya lalu berkata bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya, sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali (Luk 15: 22-24),  bersikap seperti seorang penuh belaskasihan yang tidak mau melihat sesamanya bagaikan domba tanpa gembala (Mat 14 dan 16),  berani mengunjungi orang sakit dan memberikan penghiburan, berani memberikan sapaan dan senyum kepada orang-orang yang dijumpainya, berani mendoakan mereka yang membenci kita, berani mempergandakan roti dan memberi saudaranya makan.

Bila kita berani bertindak seperti ini, yakinlah Allah sungguh-sungguh menjadi manusia dalam diri kita, Allah akan menjelma dalam diri kita, menguasai dan membimbing kita, sehingga 'bukan lagi aku yang hidup dalam diriku melainkan Kristuslah yang hidup dalam diriku'. Dengan demikian Natal sungguh-sungguh persitiwa Allah menjadi manusia dan kita manusia menjadi anak-anak Allah. Inilah artinya perayaan Natal sungguh-sungguh mengalir dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak berhenti sebatas gereja dan rumah kita masing-masing.

 

Oratio :

Yesus Kristus Tuhan, Engkau datang ke tengah-tengah kami, dan mengundang kami menjadi saudara-saudariMu, anak-anak Allah Bapa di surge. Bantulah kami dengan RohMu ya Yesus, agar kami menikmati anugerah luhur dan indah ini dan hidup sesuai dengan kehendakMu.

 

Contemplatio :

Aku memandang seperti Allah memandang.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening