Jumat Adven Khusus III,

17 Desember 2010

Kej 49: 2.8-10  +  Mzm 72  +  Mat 1: 1-17

 

 

Lectio :

Dari duabelas anak-anak Yakub, Yehuda mendapatkan hak istimewa dari ayahnya. Dia dipuja-puji oleh ayahnya, dia bagaikan singa yang siap menyergap lawannya. Dia mempunyai kuasa besar.

 

Meditatio :

'Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu. Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya?'

Suatu pujian terhadap seorang anak yang disampaikan oleh ayahnya, dialah Yakub, Israel. Dia memuji anaknya, Yehuda, yang menerima takhta kuasa dalam keluarganya, dia tidak segan-segan menyatakan semuanya itu kepada anak-anaknya, dan bahkan anak-anaknya yang lain akan merunduk di hadapannya. Dia bagaikan seekor singa, tak ada hewan lain yang berani membangunkan dan mengusiknya.

Konkritnya, sebagai seorang pemimpin dan penguasa dia, Yehuda, berpegang teguh pada tugas yang diembannya. 'Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa'.

Dan Mazmur dalam bacaan hari ini juga menambahkan situasi dalam jaman Dia yang berhak dan berkuasa itu datang, di mana 'gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran!  Dia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin, tetapi meremukkan pemeras-pemeras, dan  Dia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi!'.

Pernyataan Yakub ini amat menggemparkan. Pertama, Israel umat pilihanNya tidak akan berjaya lagi setelah Dia yang dijanjikan itu datang, dia tidak akan menampakkan keterpilihanNya lagi, tetapi semua akan beralih kepada 'sisa Israel' (Zef 3: 13 – siapa mereka lihat Renungan 14 Desember kemarin). Semuanya ini bukan kemauanNya, melainkan kemauan mereka sendiri yang tidak mau mempergunakan hak istimewa yang dimilikinya. Ini adalah kebodohan. Keterpilihan Israel tidak lagi berkaitan dengan jalur kekeluargaan.

Kedua, siapakah Dia yang akan datang itu? Mateus dalam Injilnya tadi menulis Dia yang akan datang itu adalah 'Yesus yang disebut Kristus, Anak dari pasutri Yusuf dan Maria'. Di sinilah awal munculnya perbantahan sebagaimana dikatakan Simeon, orang suci itu, sebab memang Dia, yang dinanti-nantikan itu, datang tidak dalam kemuliaan dan semarak, Dia datang dalam kelemahan dan hanya dibungkus dengan kain lampin. Tidak ada tanda-tanda bahwa Dia seorang Raja, atau seorang Penguasa, bahkan Pahlawan!  Dia datang sebagai bayi kecil yang tak punya kuasa!

Hari ini adalah awal persiapan hati kita merayakan pesta Natal yang agung itu. Sejauhmana kita mempersiapkan diri? Apa yang kita lakukan dalam persiapan ini? Dia lahir dalam diri seorang bayi kecil yang tak berdaya; tempat kehadiranNya tidak ada dekorasi apa pun, tidak ada aneka macam asersoris, tidak ada pula gemerlapan lampu dan iringan lagu yang mengalun-alun. 

Apakah kita tidak boleh merayakannya semeriah itu? Kita harus bersukacita atas kehadiranNya di tengah-tengah kita umatNya, dan kita perlu merayakannya dengan penuh syukur; dan kiranya hati yang penuh kasih harus merayakannya, dan bukannya gemerlapan lampu dan aneka asersoris yang tak jarang hanya menampakkan kemewahan. Hati yang penuh pengharapan akan Dia yang membawa tongkat kekuasaan dapat menyambut dan merayakan kelahiranNya, karena memang hanya hati yang mampu merindukanNya.

 

Oratio :

Yesus Kristus, sebentar lagi kami akan merayakan pesta kelahiranMu. Semoga hati dan budi kami semakin siap sedia menyambut kelahiranMu di tengah-tengah kami, sehingga Engkau sungguh-sungguh lahir dalam palungan hati kami.

 

Contemplatio :

Datanglah ya Tuhan Yesus, datanglah.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening