Jumat Adven Khusus IV

24 Desember 2010

2Sam 7: 1-5.8-12.16  +  Mzm 89  +  Luk 1: 67-79

 

 

Lectio :

Tuhan Allah akan mengokohkan takhta kerajaan Daud dengan membangkitkan salah seorang keturunannya. Takhtanya kekal abadi.

 

Meditatio :

'Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda'.

Ucapan Daud, raja Israel ini memang layak terungkap. Dia merasa tidak layak dan tidak pantas tinggal di tempat yang megah dan mewah, sedangkan Tabut Perjanjian, wujud keperlindungan Tuhan terhadap umatNya, hanya terletak di tenda perapian saja. Daud bermaksud mendirikan tempat yang layak, sebuah bangunan yang megah bagi Tuhan semesta alam.

Sepertinya Tuhan Allah tidak setuju dengan maksud baik Daud, dan bukannnya rumah yang dikehendakiNya, malahan dalam bacaan pertama tadi, Daud diingatkan bahwa semua yang dinikmati itu adalah anugerah dan kebaikan Tuhan. Dia Tuhan semesta alam yang memanggil Daud dari tempat penggembalaan, dan Dialah yang mengangkatnya menjadi raja dan menuntunnya beserta kerajaannya menuju kejayaannya. Semuanya  adalah kebaikan Tuhan Allah.

Bangunan yang megah dan indah tak jarang memang sepertinya mau mengikat Tuhan Allah di dalamnya; banyak panitia pun membalik aneka penyataan dan menegaskan kemegahan bangunan gereja menunjukkan partisipasi umat terhadap rumah Tuhan, tidak disangkal memang, namun kiranya yang harus diperhatikan adalah bahwasannya rumah Tuhan yang benar adalah sebuah bangunan yang benar-benar mampu membawa umat menuju ke hadiratNya, umat merasakan bahwa di dalam gereja kita mengalami kehadiranNya, di dalam gereja kita terbawa pada keberundukkan diri di hadapan Allah dan hanya berucap 'ya Allah Engkaulah Tuhanku, Engkaulah yang memimpin aku dan membuat akau seperti sekarang ini, semuanya ini hanyalah karyaMu Tuhan; kalau aku Daud, aku hanyalah seorang gembala, namun Engkau telah mengangkat aku sebagai raja dan memberkati aku, terpujilah Engkau Tuhan'. Sebuah bangunan tempat peribadatan seharusnya mampu membuat dan menyiapkan orang berunduk dan sujud di hadapanNya, karena memang Dia yang berkuasa dan kekal sekarang ini bertakhta di depan sana, dan aku hanya mampu sujud dan bersimpuh di depanNya. Gereja tidaklah cukup sebagai sebuah bangunan!

Namun lebih lagi dinubuatkan kepada Daud tadi, 'apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu', kata Tuhan Allah yang Mahakuasa, 'Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapanKu, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya'.

Siapakah Dia? 

Dialah Yesus Kristus, 'Putera Daud' dan semua orang memang mengelu-elukan Dia (Mat 21: 9). Dia dikandung oleh Maria dalam kuasa Roh Kudus, sebuah Tanda agung yang diberikan oleh Allah Bapa, bukan karena permintaan dan kemauan umatNya, melainkan karena kehendak dan kemauan Allah sendiri. Dialah yang akan membuat kerajaan Daud, bapaNya, langgeng abadi, yang tentunya bukan kerajaan Daud dahulu dan rapuh dan dimakan ngengat itu, tetapi sebuah kerajaan Daud yang berada 'di bumi dan langit yang baru, di bawah terang damaiNya', yang mengumpulkan kembali sisa-sisa Israel yang tercerai-berai.

Zakharia, seorang imam yang kudus mengakui kebenaran yang disampaikan oleh Allah itu; dan dia mengumandangkan kepercayaannya itu dalam sebuah kidung, katanya:

Terpujilah Tuhan, Allah Israel,

sebab Ia melawat dan membebaskan umatNya,

Ia menumbuhkan tanduk keselamatan bagi kita

di dalam keturunan Daud, hambaNya itu,

seperti yang telah difirmankanNya

sejak semula oleh mulut para nabiNya yang kudus.

Dan Zakharia yang tahu dan sadar siapakah anak pemberian Tuhan di hari-tuanya, dia yang hanyalah utusan yang mendahului sang Kehidupan, dengan tegas menambahkan dalam kidungnya: 'engkau, Yohanes anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagiNya, untuk memberikan kepada umatNya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka'. Yohanes anaknya hanya perintis jalan bagi sang Surya abadi.

Yesus adalah Tanda agung, karena memang Dialah Allah yang menjadi manusia. Merayakan kelahiranNya berarti menerima Dia sebagai Allah dalam hidup kita, merayakan Natal berarti membiarkan diri dikuasai oleh sang Penguasa kehidupan, karena memang Dia datang dan memanggil kita, kekasihNya.

 

Oratio :

Yesus, sucikanlah hati dan budi kami, agar diri kami menjadi tempat dan wahana kehadiranMu sendiri yang menyelamatkan. Semoga dalam perayaan Natal malam nanti, kami merasakan kasih dan cintaMu itu.

Yesus, Engkaulah Kekasih jiwaku, amin.

 

Contemplatio :

Yesus adalah Tuhan yang menjadi manusia sama dengan kita.

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening