Kamis Adven Khusus IV

23 Desember 2010

Mal 3: 1-4; 4: 5-6  +  Mzm 25  +  Luk 1: 57-66

 

 

Lectio :

Tuhan Allah di surge mengutus Elia baru untuk mendahului kedatanganNya, ia diutusNya untuk mempersiapkan jalan bagi kedatanganNya. Siapakah dia? Dialah Yohanes Pembaptis.

 

Meditatio :

'Lihat, Aku menyuruh utusanKu, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapanKu! Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah'.

Itulah penyataan Tuhan kepada umatNya, bahwasannya Dia akan mengutus kembali Elia untuk mempersiapkan jalan di hadapanNya, supaya semua orang bersiap sedia menjelang hari kedatanganNya, supaya ada kerukunan dan damai antara kaum bapa dengan anak-anaknya, sebab ketidak-mauan mereka berdamai akan mendatangkan celaka bagi mereka sendiri. Allah menghendaki adanya usaha pendamaian sebelum kedatanganNya.

Pendamaian perlu dilaksanakan, supaya tidak adanya celaka yang menimpa mereka, 'supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah', sabda Tuhan tadi. Pendamaian sepertinya syarat mutlak untuk menyambut datangNya Tuhan. Pendamaian perlu diadakan, dan bahkan harus diadakan, sebagai pengkondisian diri, persiapan diri, sebagai usaha 'sedia payung sebelum hujan', sebab kedatanganNya sungguh-sungguh merupakan proses pemurniaan dan pengudusan, 'Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan semua orang, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN'.

Siapakah Elia itu?

Dialah Yohanes Pembaptis, Yesus sendiri yang mengatakannya (Mat 11, 14 – lihat Renungan 11 Desember). Injil hari ini pun menunjukkan siapakah Yohanes itu sebenarnya. Ketika kedua orangtuanya, Elizabet dan Zakharia mengatakan bahwa 'namanya adalah Yohanes', gempar, takut dan heranlah semua orang yang ada di sekitar rumah mereka, yang saat itu juga 'terbukalah mulut Zakharia dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah', 'dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea'.

Yohanes memang hebat, 'menjadi apakah anak ini nanti, sebab tangan Tuhan menyertai dia'. Itulah pertanyaan yang muncul pada waktu itu! Kehebatan Yohanes sudah tampak semenjak hari kelahirannya, banyak orang meramalkan bahwa dia memang akan menjadi orang besar dan berwibawa.

Kedatangan Yohanes memang amat menggemparkan, tetapi semuanya itu terjadi hanya sesaat, karena memang dalam perjalanan hidupnya tetap banyak orang yang meremehkan karya pewartaannya; tidaklah demikian dengan kedatangan Kristus, sekali lagi 'Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan semua orang, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN'.

'Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri?'.

Masa Adven memang mengajak kita dan memberi kesempatan kepada kita untuk layak menyambut dan menerimaNya, kita menyiapkan diri untuk mengatakan siap atau tidak menerimanya, sebab keragu-raguan kita untuk menerimaNya malahan tidak memberikan ketenangan jiwa dan hati. Berani menerima Yesus yang sebentar lagi tampak ada di palungan berarti berani menerima rontahan tangan dan kakiNya, yang memang ternyata Dia itu adalah 'seorang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan semua orang, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN'.

 

Oratio :

Yesus Kristus, Engkau datang bagaikan Pemurni logam yang menguduskan; buatlah kami menjadi orang-orang yang siap sedia menyambut dan menerima kedatanganMu, bukan saja setiap kali kami merayakan pesta kelahiranMu di dunia, tetapi terlebih ketika kami berjaga akan kehadiranMu dalam hidup kami.

Yesus, sucikanlah hati dan budi kami.

 

Contemplatio :

Sedia payung sebelum hujan.

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening