Kamis Oktaf Natal

30 Desember 2010

1 Yoh 2: 12-17  +  Mzm 96  +  Luk 2: 36-40

 

 

Lectio :

Injil menampilkan juga peran seorang perempuan dalam menantikan kedatangan Yesus sang pembawa kelepasan. Dia adalah Hanna. Diceritakan juga setelah dipersembahkan di kenisah, mereka keluarga Yusuf pulang ke kampungnya, dan Yesus tumbuh sehat dan sentosa, karena berkat Tuhan.

 

Meditatio :

'Ketika itu juga, datanglah Hanna ke situ dan mengucap syukur kepada Allah, dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem'.

Itulah sedikit catatan yang diberikan Lukas tentang Hanna, yakni 'seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer, seorang janda yang sudah berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa'. Tidak banyak bedanya dia dengan Simeon, dia juga seseorang yang menantikan kedatangan sang Mesias, Bayi kecil itu. Dia secara sengaja disebut oleh Lukas dalam Injil, walau tidak dituliskan 'apa yang diceritakannya' tentang Anak itu. Kedatangan Anak Manusia itu memang dinanti-nantikan oleh banyak orang dan telah dinubuatkan oleh para nabi. Lukas sengaja menampilkan Hanna yang mewakili kaum perempuan, tetapi tidak memberi hak dan kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki. Itu komentar pribadi saya dengan penampilan ibu Hanna yang suci ini.

Maaf, sapaan Yohanes dalam bacaan pertama tadi juga hanya disampaikan kepada kaum bapa, kaum muda dan anak-anak; tak dapat disangkal memang di antara kaum muda dan anak-anak juga ada banyak saudara kita perempuan, namun begitu mereka kaum ibu dan perempuan tidak disebut secara khusus dan disapanya. Walau tak dapat ditolak juga, dan bahkan harus diakui, bahwasannya jawaban positif yang mengamini karena keikutsertaan dalam karya penyelamatan pertama kali adalah seorang perempuan. Kaum perempuan dinomersatukan oleh Allah, namun dinomerduakan oleh manusia, kendati demikian Allah selalu memperhatikan umatNya secara istimewa (Luk 1: 52b).

'Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padaNya.

Itulah sedikit catatan yang diberikan Lukas tentang kanak-kanak Yesus. Dia, Yesus, Anak Yusuf dan Maria ini, memang sungguh-sungguh menikmati kehidupanNya di dunia. Dia memasukkan diri dalam sejarah manusia dan tinggal di kota kecil Nazaret. Dia juga makan dan minum, bekerja dan belajar tentang kehidupan. Dia sungguh-sungguh Allah yang menjadi manusia sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa.

Namun kiranya, harus kita mengerti bahwasannya Yesus memang menjadi manusia dan tinggal di dunia, tetapi dia tidak tenggelam dalam dunia dan menjadi dunia, malahan secara sengaja turun ke dunia, agar umat ciptaanNya pun tidak menjadi dunia; dengan kelahiranNya, Allah mengangkat semua orang yang percaya dan menerima Dia sang Firman akan menjadi anak-anakNya (Yoh 1: 12). Karena itu, dalam bacaan pertama santo Yohanes mengajak kita untuk mengambil jarak dengan dunia, tidak mengasihi dunia, katanya: 'janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya; jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu, sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia', 'karena memang keduanya bertentangan' (Gal 5: 17).

Untuk itu, amat baiklah kita hendaknya bertindak bijak dalam menikmati dunia, kita tidak dilarang menikmati dan menggunakannya, dunia dan isinya milik kita dan kita diminta menguasai, merawat dan menjaganya (Kej 1: 28-30). Kita tinggal dan menetap di dunia, tetapi cita-cita dan harapan kita adalah tetap bersama Dia, sang Firman kehidupan, sebab 'dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya'. Tepatlah yang pernah disampaikan Yesus sendiri kali lalu: 'langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu' (Luk 21: 33).

 

Oratio :

Tuhan Yeus, Engkau menjadi warga masyarakat Nazaret, Engkau mengalami secara nyata pengalaman hidup bersama dalam realitas sosial. Kami mohon kepadaMu, semoga Engkau semakin meneguhkan anggota GerejaMu untuk menjadi garam dan terang dalam masyarakat, dan semoga iman yang telah mereka nikmati dalam mengenal Engkau, mereka bagikan juga dalam kebersamaan hidup. Amin.

 

Contemplatio :

Kamulah garam dan terang bagi masyarakat.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening