Malam Natal

24 Desember 2010

Yes 9: 1-6  +  Tit 2: 11-14  +  Luk 2: 1-14

 

 

Lectio :

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat Kristus Tuhan, dan inilah tandaNya bahwa kamu akan menemukan seorang Bayi kecil yang dibungkus dengan kain lampin dan terbaring di palungan. Tak ada tanda-tanda insane yang hebat dan mengagetkan, tetapi tak disangkal nyanyian para malaikat meneguhkan kehadiranNya.

 

Meditatio :

'Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar'.

Itulah kabar sukacita yang dikumandangkan Yesaya dalam bacaan pertama, bahwasanya bangsa-bangsa yang berjalan dalam kegelapan akan melihat terang yang besar, dan tentunya pasti terang ini membawa sukacita dan sorai sorai bagi semua orang.

Konkritnya bagaimana?

Bahwasannya 'seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya'. Dialah yang akan hadir!

Sungguh benar, Dia Yesus Tuhan, sang Imanuel benar hadir di tengah-tengah kita! Allah hadir di tengah-tengah umatNya.

Injil malam hari ini menegaskan kepada para gembala, sebagaimana dikatakan oleh para malaikat: 'jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud'. Dia yang dijanjikan sungguh datang dan mengunjungi umatNya, Dia Tuhan Allah yang Mahakuasa dan dashyat itu, Dia yang termulia dan terurapi itu sungguh hadir, Dia datang sebagai seorang Penyelamat, karena memang Dia datang hendak menyelamatkan umatNya. Sekali lagi, Dia datang hendak menyelamatkan seluruh umat manusia, milikNya, Dia datang bukan untuk menyembuhkan dan mengadakan mukjizat, Dia mampu dan berkuasa untuk melakukan semua itu, tetapi bukan untuk itu tujuanNya datang ke dunia. Dia adalah sang Juruselamat!

Apakah kamu ingin mencarinya?

'Inilah tandanya: kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan'. Dia yang adalah seorang Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai, Dia seorang Pewaris takhta Daud, Dia yang adalah Kristus Tuhan sang Juruselamat tidak ditampakkan dalam kemewahan seorang pejabat. Dia hanya ditampakkan sebagai 'seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan'.

Ini kekeliruan Tuhan! Sebab bagaimana Dia yang agung dan mulia itu ditampakkan secara sederhana? Bagaimana saya dapat memahami kehadiranNya itu? Inilah kemauan saya!

Atau memang, inilah kebenaran Tuhan! Dia tidak keliru! Dia memang datang sengaja dalam diri seorang bayi mungil yang berdaya! Inilah memang kehendak dan kemauan Tuhan, dan bukan kemauan kita!  Kita manusia yang memang tidak mampu memahami dan mengertiNya!

Namun Tuhan tidak berhenti pada kemauan dan keinginan, pada ketidakmampuan dan kelemahan umatNya. Dia bertindak mengatasi gambaran dan kemampuan nalar manusia umatNya. Ia tetap pada pendirianNya dan meneguhkan kehadiran sang Juruselamat hanya dalam sebuah palungan; namun tak dapat disangkal para pengawal surge ikut menghantar kepergian sang Putera ke dunia, ke tempat perutusanNya, bahkan ketika kabar ini disampaikan kepada para gembala, mereka tetap menyertainya dalam kemuliaan surgawi. Injil menuliskan 'tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya'. Kehendak Tuhan untuk menyelamatkan seluruh umatNya harus terlaksana!

Apa yang dapat kita buat dengan perayaan Natal kali ini?

Kita terima dan kita nikmati kehendak Tuhan untuk menyelamatkan kita umatNya; hanyalah orang-orang bodoh dan tak berbudi yang menolak kehendak Allah! Kita sambut kelahiranNya, kita terima kehadiranNya; dan memang untuk itulah, sekarang kita datang bersama dalam perayaan Ekaristi malam hari ini, karena memang kita siap sedia menerima Dia sang Kehidupan, sang Juruselamat. Merayakan Natal berarti merayakan iman kepercayaan diri kita yang mau menerima Yesus hadir dan tinggal di tengah-tengah kita umatNya. Merayakan Natal berati kita percaya bahwa Yesus hadir dan tinggal di antara kita. Imanuel!

Setiap tahun dalam perayaan Natal, kita secara khusus memperbaharui kemauan untuk menerima Dia yang datang ke tengah-tengah dunia. Kita memperbaharuinya, karena kita tidak mau menyambut Dia sebatas hanya dalam perayaan kelahiranNya saja, kita juga mau merayakan iman penerimaan itu dalam keharian hidup kita, di tengah kesibukan kita, di tengah pergaulan kita dengan sesame. Karena itu, merayakan Natal berarti menyambut Dia sang Juruselamat yang lahir hari ini dan sekaligus ambil bagian dalam karya penyelamatanNya itu. Kita tidak hanya mengamini saja kelahiran dan kehadiranNya, tetapi juga melaksanakan karyaNya. Santo Paulus dalam bacaan kedua tadi memberi contoh bagaimana kita melaksanakan karya penyelamatan itu, antara lain dengan 'meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi, dan hidup bijaksana, adil dan beribadah, dengan setia menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus'. Perayaan Natal adalah perayaan iman, sebuah perayaan yang tidak terbatas dalam tindakan ritual, melainkan dalam tindakan nyata.

Bila masa Adven dan Natal adalah awal tahun liturgy, perayaan Natal malam ini kiranya menjadi awal bagi kita untuk semakin ikutserta dalam karya penyelamatanNya, ikut bekerjasama dengan sang Juruselamat yang datang, seperti dikatakan Paulus tadi, dengan 'meninggalkan kefasikan' seperti percaya akan kegiatan klenik dan takhayul, bertindak semena-mena dan mau mencari menangnya sendiri, 'meninggalkan keinginan-keinginan duniawi' seperti mengumbar hawa nafsu, keterikatan akan kebiasaan buruk dan indisipliner, dan  tenggelam dalam hartabenda, malahan berani 'hidup bijaksana' dengan mampu memilih mana yang baik dan mana yang benar bagi hidup dan mengabaikan yang jahat dan salah, 'bertindak adil' seperti tidak memihak seseorang atau kelompok karena alasan keluarga, kekayaan, suku atau agama, melainkan kebenaran, dan 'rajin beribadah' seperti setia berdoa setiap hari, membaca Kitab Suci dan mengikuti Misa Minggu, dan setia menantikan penggenapan pengharapan kita, yakni  dengan setia menanti penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat di akhir jaman yang mengundang semua orang.

Sedikit evaluasi juga, bahwasannya kita memang sering menuduh Tuhan keliru dalam menyelamatkan kita. Apakah memang benar Tuhan keliru dalam bertindak?  Jujur saja, kitalah yang memang tidak mampu menangkap kemauan dan kehendak Tuhan. Kita mungkin termasuk orang-orang yang sulit memahami dan mengerti kehendak Tuhan, tetapi justru begitu mudah melupakan hal-hal yang merugikan bangsa dan karena mungkin kurang berani menghadapinya: sejauh mana kita berani menyelesaikan kasus Century, kasus si Gayus, yang katanya bisa hanya dalam 10 hari, bagaimana menanggapi aspirasi teman-teman dari Yogjakarta, yang kiranya tidak cukup hanya menggunakan penalaran mayoritas dan minoritas ala menteri? (Kompas, 20 Desember)

Kita berdoa dan berharap agar Roh sang Juruselamat menjiwai para pemimpin bangsa kita ini, sehingga bangsa dan negara kita  mampu mewujudkan keadilan, damai dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakatnya.

 

Oratio :

Yesus, Engkau lahir dalam diri bayi mungil yang tak berdaya, di situlah engkau lahan menujukkan keberpihakanMu kepada mereka yang lemah dan malang. Bantulah kami dengan kasihMu, agar kami pun mampu merayakan kelahiranMu juga dalam kegiatan dan tindakan kami sehari-hari.

Yesus lahirlah dalam keluarga kami masing-masing.

 

Contemplatio :

Yesus Tuhan, Engkau ada di tengah-tengah kami, amin.

 

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening