Rabu, 8 Desember 2010

Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Dosa

Kej 3: 9-15.20  +  Ef 1: 3-6.11-12  +  Luk 1: 26-38

 

 

Lectio :

Allah telah memilih kita sebagai anak-anakNya berkat Kristus, dan bukannya sejak Dia hadir di dunia, tetapi semenjak dunia belum dijadikan. Semuanya terlaksana demikian supaya kita kudus dan baik adanya.

 

Meditatio :

'Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya, supaya terpujilah kasih karuniaNya yang mulia, yang dikaruniakanNya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihiNya'.

Pernyataan Paulus dalam bacaan kedua ini amat menegaskan bahwa kita manusia telah menjadi fokus perhatian Allah semenjak semula; bukankah kita manusia diciptakan sesuai dengan gambarNya? (Kej 1). Penciptaan manusia adalah kemauan dan kehendak Allah. Manusia diciptakan lebih baik dan lebih bagus daripada ciptaan lainnya, dia memang tercipta baik adanya, dan layak di hadapanNya kudus; dalam bahasa Paulus tadi 'kita tak bercacat di hadapanNya'. Dan lebih lagi, kita manusia, bukan sekedar ciptaanNya yang paling mulia dan luhur, namun terlebih kita menjadi milikNya sendiri, menjadi anak-anakNya, yang semuanya itu terjadi hanya dalam kasih Kristus sang Putera. Allah Bapa mengangkat manusia menjadi anak-anakNya, dan bukan hamba-hambaNya.

Namun begitu, janganlah ditafsirkan bahwa jalan hidup manusia itu telah terjadwal jauh-jauh sebelumnya, bahkan sebagai takdir manusia. Tidak ada takdir bagi orang yang beriman! Allah memang telah memilih manusia menjadi milikNya, dan Dia meminta manusia supaya tidak bertindak ini dan itu, agar beroleh selamat. Namun sayangnya, kalau boleh istilah itu saya pergunakan, Allah tidak mau merekrut hak dan kebebasan ciptaanNya, Allah amat menghormati manusia sebagai ciptaan yang bermartabat luhur dan mulia. Dia tidak mengabaikan dan memusnakannya.

Ketika manusia pertama melanggar kemauanNya, Ia memang menegurnya: 'apakah yang telah kauperbuat ini?'.  Dia tahu bahwa anak-anakNya telah berbuat dosa, namun begitu Dia tetap membela mereka milikNya dan melawan musuh yang mengganggu umat kesayanganNya dengan berkata: 'karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya'. Ia hanya menegur perempuan yang dikasihiNya, tetapi mempersalahkan dan mengutuk musuh sang kekasihNya.

Demikian juga Maria sebagai seorang yang dipilihNya sedari semula, Dia tidak merekrut hak dan kebebasannya. Dia secara sengaja datang melalui malaikatNya dan menyapanya, kataNya: 'salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau. Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus'.

Sebagai orang yang dipilih dan dikasihiNya, dia tetap berpikir secara rasional, dia masih mau mempertanggungjwabkan kemandirian, kebebasan dan martabat yang dimilikinya. Maria mempunyai harga diri yang tinggi! SalamNya tidak membuai dan meninabobokan dia, dia menjadi 'terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu'. Dia menjadi bertanya-tanya, mengapa salam itu sampai kepada dirinya, dan terlebih-lebih dia akan mengandung; tidak mungkin dan itu tidak boleh terjadi!  'Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?'. Suatu aib besar bagi seseorang perempuan yang berbadan-dua, bila memang dia belum diambil oleh seorang lelaki menjadi isterinya. Bagaimana itu mungkin terjadi?

'Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil', jawab malaikat itu kepadanya. Itulah kemauan dan maksud Tuhan Allah.

Kalau memang itu kemauanMu ya Tuhan, aku berserah, aku ikut saja!  'Sebab aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu'. Maria berserah diri, bukan tanpa alasan, dia telah berpikir, dia telah bertanya, dia telah mempertimbangkan, dan dia hanya mengikuti kehendak Tuhan Allah, karena memang Dia Tuhan yang memintanya.

Apa yang dikatakan Allah melalui Paulus dalam bacaan kedua tadi, yakni bahwa: 'di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya; dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi milikNya', ditanggapi oleh Maria. Maria menghayati keterpilihanNya, Dia memang menghayati kesucian, ketidak-bercelaan dan kekudusan dirinya. Semenjak semula dia memang suci adanya, dia terkandung tanpa dosa, walau dia tetap berpikir dengan kritis dan sportif.

Pengakuan Gereja terhadap Maria sebagai seorang yang dikandung tanpa noda dosa adalah sebuah pengakuan terhadap karya agung Tuhan yang telah menciptakan manusia sebagai ciptaan yang paling luhur dan mulia, dan bahkan menjadi umat milikNya sendiri dengan mengangkatnya menjadi putera-puteriNya sendiri. Maria mendapatkan karunia seperti itu, karena memang dia menikmati dan memanfaatkan anugerah itu, dan juga GerejaNya yang kudus yakin bahwa dialah orang kedua setelah Yesus sang Putera Sulung Kebangkitan mengalami kemuliaan surgawi (1Kor 15: 23).

Terbuka kesempatan selebar-lebar bagi kita untuk mendapatkannya. Itu pasti!

 

Oratio :

Yesus Kristus Engkau mengundang setiap orang untuk menikmati kekudusan. Buatlah kami semakin merindukannya dengan berani melaksanakan tugas kami sehari-hari dalam terang iman dan kepercayaan. Semoga segala kemampuan dan bakat, yang kami miliki semakin hari semakin tumbuh berkembang, dan dapat mendukung segala tugas perutusan kami, amin.

 

Contemplatio :

Kita semua adalah anak-anak Allah, putera-puteri Bapa di surge, saudara dan saudari Kristus sendiri.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening