Rabu Adven Khusus IV

22 Desember 2010

1Sam 2: 24-28  +  Mzm  +  Luk 1: 46-56

 

 

Lectio :

Hanna mempersembahkan kembali anak yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Ia mempersembahkan kembali, karena dia merasakan sungguh-sungguh bahwa Samuel, anaknya ini adalah wujud dari kasih Tuhan kepadanya, yang telah siang malam berdoa dan berdoa, dan Tuhan mendengar dan mengabulkannya. Aku serahkan kembali kepada Tuhan, terserah apa yang mau perbuat terhadap anak saya, katanya.

 

Meditatio :

'Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN. Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari padaNya. Maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN'.

Sebuah ungkapan hati dari seorang ibu yang bernama Hanna, sebuah pengakuan penuh kejujuran dan tanggungjawab, sebab dia telah menerima yang indah yang dirindukan jauh-jauh sebelumnya, bahwasannya dia ingin mendapatkan seorang anak; dia berdoa dan berdoa, bermohon dan bermohon, dan kini telah mendapatkannya. Dan sekarang, Hanna mempersembahkan kembali sang buah hatinya itu kepada Tuhan, sebab Tuhan telah memberi, dan bila Tuhan yang mengambil, terpujilah Dia (Ayb 1: 21), maka 'aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN'. Tuhan tahu apa yang baik bagi umatNya, biarlah Tuhan Allah sendiri yang atur anak yang dipersembahkan kembali kepadaNya.

Hanna tahu dengan baik, bahwa segala yang dinikmatinya yakni boleh mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, bukanlah karena jasa dan kemampuan dirinya, dia adalah perempuan yang tak berdaya, dia yakin dan percaya bahwa semuanya itu terjadi hanya karena Tuhan Allah yang berbelaskasih, yang memperhatikan dan mengasihi dirinya.

Lebih daripada Hanna, Maria sebagai orang yang terpilih dan terberkati di antara perempuan, dan dia yang mengandung hanya karena Roh Kudus, dan yang akan melahirkan seorang Anak dan harus diberi nama Yesus itu, tahu dengan baik siapakah dirinya. Dia memang telah menjawab 'terjadilah padaku menurut kehendakMu', dan semuanya itu akhirnya  terjadi  pada dirinya. Maria sadar sungguh bahwa: semua terlaksana pada dirinya 'karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan namaNya adalah kudus'. Bukan karena kemauan dan kehendak dirinya, melainkan karena kehendak Tuhan.

Dan di sinilah juga yang menjadi keunggulan dirinya bahwa semua yang bukan kehendak dirinya itu justru semakin membuat dirinya bersukaria dan bergembira, dan sama sekali tidak ada penyesalan dalam dirinya bahwa dia telah memutuskan sesuatu, bahwa dia telah meng-amin-i kehendak Tuhan. Benarlah, Maria adalah seseorang yang selalu bermegah dalam Tuhan (1Kor 1: 31), maka pujian Elizabet yang diberikan kepadanya, semakin mendorong Maria berani mengembalikan dan mempersembahkan semuanya itu hanya kepada Tuhan.

Kalau Hanna telah menerima kebaikan dari Tuhan karena dia memang memintanya, tidaklah demikian dengan Maria, dia menerima kebaikan dari Tuhan, karena dia meng-amin-i kehendak dan kemauan Tuhan!.

Imannya inilah, yang diungkapkan Maria dalam kidungnya ini:

Jiwaku memuliakan Tuhan,

dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,

sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hambaNya.

Mulai dari sekarang segala keturunan

                                   akan menyebut aku berbahagia,

RahmatNya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.

Ia memperlihatkan kuasaNya dengan perbuatan tanganNya

dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;

Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya

dan meninggikan orang-orang yang rendah;

Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar,

dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;

Ia menolong Israel, hambaNya, karena Ia mengingat rahmatNya,

seperti yang dijanjikanNya kepada nenek moyang kita,

kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya'.

Masa Adven mempersiapkan kita, GerejaNya, merayakan kelahiran sang Putera terkasih, sebab Dia telah menjadi manusia sama seperti kita, kecuali tanpa dosa, dan Dia datang untuk menyelamatkan kita. Masa Adven mengajak kita untuk selalu berani berterima kasih dan berterima kasih kepada Tuhan sang Empunya kehidupan ini sebagaimana diteladankan oleh Hanna dan Maria.

Kiranya Maria dan Hanna juga menjadi teladan bagi kaum ibu dalam membina keluarganya. Kita persembahkan segala doa dan karya kita hari ini untuk para ibu.

Ibu,

aku mengenal dunia pertama kali di dalam engkau

aku mengenal cinta pertama bersama ibu

aku mengakhiri hidup bersama engkau ibu

Ibu, terima kasih, salamku untukmu

 

Oratio :

Yesus Kristus, Engkaulah Pemberian yang luhur dan mulia dari Allah Bapa, yang semuanya memang dilimpahkan Bapa kepada saudara-saudariMu, hanya karena cinta kasihNya yang sungguh besar.  Bukalah telinga hati kami, agar kami semakin berani mendengarkan suara panggilanMu, dan juga mata hati kami sehingga dalam setiap peristiwa kehidupan, kami dapat melihat kehadiranMu yang menyelamatkan itu.

Yesus buatlah kami menjadi orang-orang yang tahu berterima kasih kepadaMu. Amin.

 

Contemplatio :

Kujadikan hidupku sebagai ucapan syukur kepadaMu, ya Tuhan Yesus, Kekasih hatiku.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening