Rabu Oktaf Natal

29 Desember 2010

1 Yoh 2: 3-11  +  Mzm 98  +  Luk 2: 22-35

 

 

Lectio :

Guna memenuhi hokum Taurat dan sesuai dengan tradisi keagamaan, Yusuf dan Maria membawa Yesus ke bait Allah untuk dipersembahkan dan dikuduskan bagi Allah. Dia adalah Anak sulung. Simeon yang bertugas di situ, ketika dia menerima sang Bayi itu, berkatalah dia 'Tuhan sekarang ijinkanlah aku berpulang, sebab mataku telah melihat keselamatan yang datang daripadaMu'. Dia telah melihat Yang dijanjikanNya

 

Meditatio :

'Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah'.

Itulah peraturan hokum Taurat yang ditaati oleh orang-orang Yahudi; mengapa hanya anak sulung laki-laki, karena mengingat dunia patriakal. Aturan itu ditaati banyak orang karena sebagai sikap syukur dan terima kasih atas anugerah anak yang dilimpahkan Tuhan kepada keluarga baru. Tuhan memberi kepercayaan kepada mereka untuk menjaga kehidupan. Dan itulah yang kini dilakukan oleh pasutri Yusuf dan Maria; mereka pun membawa hewan persembahan sebagaimana diminta oleh hokum Taurat sebagai bentuk ucapan syukur, dan mereka hanya mampu membawa 'dua ekor anak burung merpati'.

Apa yang dilakukan Yusuf dan Maria adalah sebagai 'tanda, bahwa mereka mengenal Allah, mereka menuruti perintah-perintahNya'. Yusuf dan Maria adalah orang-orang benar mereka, bukan pendusta. Mereka adalah orang-orang yang digunakan dan dipakai Allah, tetapi mereka tidak meminta perlakuan istimewa dari Tuhan, atau bahkan menuntut pembebasan dari aturan yang mengikat dengan berteriak-teriak 'kami adalah hamba-hamba Allah, orang yang dipakai Allah'. Mereka tetap taat dan patuh sebagaimana orang-orang lain bertindak demikian.

'Sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umatMu, Israel'.

Sebuah ungkapan syukur penuh iman dari seseorang yang bernama Simeon, 'seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan'. Tidak ada orang yang memberitahu, kiranya Yusuf dan Maria pun hanya menceritakan kepadanya dari mana asal mereka berdua, mereka pasti juga tidak menceritakan peristiwa kabar sukacita. Namun dengan mata hatinya, ternyata Simeon dapat melihat seorang Bayi yang datang itu, dia tidak melihat, tetapi dia sekarang menerima 'sang Kehidupan yang terbungkus kain lampin dan terbaring di palungan itu'.

Simeon pun menegaskan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya bahwa 'terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa dan menjadi kemuliaan bagi umatMu, Israel', telah datang dan ada di tengah-tengah mereka. Simeon telah melihatNya dan dia minta sekarang juga kepada Bapa di surga diijinkan berpulang dan kembali kepadaNya. Kehadiran sang Bayi menjadi berkat secara khusus dan istimewa bagi Simeon. Tidak dikatakan apakah orang-orang yang hadir dibuatnya heran dengan kata-kata Simeon, tetapi yang jelas tampak 'bapa serta ibuNya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia'.

Simeon memberkati mereka.

Tidak ditampakkan dalam Injil bagaimana isi doa berkat yang diterima Anak sulung, tetapi yang jelas berkat itu diarahkan kepada keluarga; dan memang benar, berkat bagi seorang anggota keluarga itu seyogyanya memang menjadi berkat bagi keluarga. Kiranya kebiasaan baik juga untuk mengenang hari ulangtahun dari ayah, ibu dan anak-anak, karena memang keberanian mengucapkan syukur di hari-hari istimewa itu, selain menjadi berkat tersendiri bagi dia yang merayakan ulangtahun juga menjadi berkat bagi keluarga, keluarga bersyukur karena memang kehadiran anggotanya menjadi berkat bagi mereka semua. Keluarga juga melatih putera-puterinya untuk berani bersyukur kepada Tuhan.

'Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan, dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang', kata Simeon kepada Maria. Sebuah peneguhan yang diberikan Simeon, karena memang dia tahu siapakah Bayi kecil ini: Dia akan menjadi perbantahan, karena Dia membawa kabar sukacita dan Dia adalah seorang 'Pemurni logam dan perak', dan pemurnian inilah yang menimbulkan perbantahan, bukan saja antara mereka yang mendengarNya, melainkan antar Dia dengan orang-orang yang mendengarkanNya.

Kita adalah orang-orang yang mengalami pemurnian di dalam Dia, kita adalah orang-orang yang dimasukkan dalam dapur pemurnian agar menjadi suci dan murni layak berdiri di hadapanNya. Namun pemurnian hati dan budi ini, tidaklah seperti yang terjadi dalam 'kawah candradimuka', yang mungkin orang-orang dijadikan obyek penyucian, dia sang pemurni sungguh-sungguh bertindak sebagai tukang pemurni logam dan perak; tidaklah demikian dalam pemurnian dalam diri sang Mesias Penyelamat.

Dia, yang menjadi Tanda perbantahan hanya meminta dan meminta, supaya kita 'menuruti firmanNya', sebab dengan mengikuti kehendak dan kemauanNya, secara otomatis 'sudah sempurnalah kasih Allah' dalam diri orang itu. Sebab dengan 'mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup'. Adalah suatu kebohongan dan sebuah dusta, kalau kita mengatakan hidup dalam Dia, tetapi tidak hidup seperti Dia dan tidak melakukan firmanNya.

Kedua, Dia pun meminta kita, agar kita berani mengungkapkan ketaatan akan firmanNya tadi dengan mengasihi sesamanya. Inilah perintahNya yakni agar kita saling mengasihi, sama seperti Dia telah mengasihi kita umatNya (Yoh 13: 34). Mereka, yang saling mengasihi, sungguh-sungguh akan mengalami kehidupan, sebab mereka berada dalam terang, sehingga tahu apa yang harus mereka lakukan. Benarlah yang dikatakan Yohanes dalam bacaan tadi: 'barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan', sebaliknya mereka yang 'membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya', ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena dunia ini gelap adanya.

 

Oratio :

Tuhan Yesus, Engkaulah kerinduan banyak orang, Engkau juga menjadi kerinduan hati kami; karena itu, sucikanlah hati dan budi kami selalu, agar kemurnian hati yang sudah Engkau limpahkan kepada kami berkat sakramen dan sabdaMu semakin berurat berakar dalam hidup kami.

Yesus Kristus, kuasailah kami dengan kerinduan dan kasihMu, amin.

 

Contemplatio :

Kecemburuan Tuhan menguasai hati orang-orang yang berpaut kepadaNya.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening