Senin Adven III, 13 Desember 2010

Bil 24: 2-7.15-17  +  Mzm 25  +  Mat 21: 23-27

 

 

Lectio :

Bileam bin Beor sebagai seorang penglihat melihat keindahan suku-suku Israel dan alam semesta yang mendampinya; dan juga dinubuatkan bahwa akan datang seorang keturunan Yakub yang akan mengalahkan keturunan Set. Namun siapakah dia itu?

 

Meditatio :

'Alangkah indahnya kemah-kemahmu, hai Yakub, dan tempat-tempat kediamanmu, hai Israel! Sebagai lembah yang membentang semuanya; sebagai taman di tepi sungai; sebagai pohon gaharu yang ditanam TUHAN; sebagai pohon aras di tepi air. Air mengalir dari timbanya, dan benihnya mendapat air banyak-banyak. Rajanya akan naik tinggi melebihi Agag, dan kerajaannya akan dimuliakan'.

Itulah kata-kata nubuat yang diucapkan oleh Bileam bin Beor,  seorang yang mendengar firman Allah, yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa. Siapakah dia? Tak banyak yang saya ketahui, namun kiranya yang kita lihat adalah keindahan lembah-lembah yang diduduki Israel sungguh-sungguh menjadi tempat yang menyenangkan, dan bahwa dari sanalah mengalirlah air yang menghidupkan dan menyegarkan. Semuanya ini terjadi karena memang Israel, keturunan Yakub, adalah bangsa yang kudus, umat pilihanNya.

' Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua anak Set', ujarnya. Dari keturunan Israel akan muncul bintang yang memberi kecerahan dan harapan, bintang yang menerangi kegelapan malam dan menggugah hati. Dia yang akan datang itu membawa tongkat keperkasaan dan kekuasaan, dan membuat segala bangsa akan merunduk di hadapanNya. Sekali lagi, semuanya itu terjadi bukan pada waktu sekarang di jaman Perjanjian Lama ketika umat Israel keluar dari Mesir, tetapi kelak di masa mendatang.

Namun nyatanya ketika yang disebut-sebut itu telah datang dan ada di depan umatNya, gelisahlah mereka semua dibuatNya, namun bukan karena Dia yang membuatnya bingung, tetapi karena Dia tidak datang dalam pakaian kebesaran dan berseru-seru 'Akulah Dia'. Dia tidak mau menyebutkan siapakah diriNya, Dia hanya meminta orang untuk melihat, memandang dan mendengarkan sendiri apakah yang terjadi, mereka diminta mengkontemplasikannya. 'Dengar dan lihatlah: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik'.

Hanya mata yang memandang dan telinga yang memperhatikan dapat menangkap semuanya itu!

Pengetahuan dan hikmat insane tak mampu merasakannya.  Itulah yang dialami oleh imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi. Sayang memang, tetapi itulah kenyataan hidup yang mereka alami, mereka mempunyai tetapi tidak memiliki, mereka mempunyai mata tetapi tidak melihat, mereka mempunyai telinga tetapi tidak mendengar; malahan justru mereka melawan dan menantang Dia yang datang, mereka tidak bertanya melainkan meragukanNya. Kata mereka ketika berjumpa denganNya:  'dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepadaMu?'.

Yesus tahu dan mengerti bahwa mereka bertanya tidak seperti Maria yang bertanya kepada malaikat Gabriel tentang arti salam dan keberadaan dirinya, atau juga minimal tidak seperti murid-murid Yohanes yang bertanya kepada Yesus, seperti yang kita dengarkan dalam Injil kemarin. Maka ketika mendengar pertanyaan mereka, Yesus membalik mereka dengan bertanya: 'Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepadaKu, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.

Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?.

Bingunglah mereka dibuatNya. Mereka menjadi bingung, karena memang mereka tidak siap menghadapi kehadiranNya; ketidakberdayaan mereka bukannya membuat mereka merunduk di hadapanNya, justru malahan membuat mereka menengadahkan muka melawan dan menolak Dia. Mereka melawan, tetapi tidak mempunyai bekal untuk menghadapiNya. Inilah kebodohan hidup!

'Jikalau kita katakan: dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi', inilah kegelisahan mereka. Sekali lagi mereka adalah orang-orang yang pandai dan bijak, tetapi tidak beriman.

Kiranya dalam menantikan kedatanganNya yang membawa keselamatan, kita tanggapi dengan iman dan kerinduan, karena memang kita menghendaki keselamatan hidup kekal; tidaklah tepat kita terlalu banyak berteori secara teologis, yang tak jarang hanya mandeg di benak kita, atau juga memenuhi Gereja dengan aturan-aturan liturgi yang berbau Roma, tidak Indonesianis, yang seringkali membuat semangat doa menjadi kering dan ritual. Gereja Kristus terpanggil untuk menghantar umat beriman untuk semakin dekat dengan sang Empunya kehidupan, yang hendak datang untuk kedua kalinya, dan 'memuji Bapa di surge' (Mat 5: 16).

 

Oratio :

Ya Yesus, kami bersyukur kepadaMu atas anugerah yang kami terima daripadaMu, semuanya sebagai tanda dan belaskasihMu kepada kami. Kami mohon semoga yang kami miliki itu, Engkau sempurnakan dengan hati yang peka akan kehadiranMu. Yesus, bukalah mata hati kami dan perdengarkanlah suaraMu dalam hati kami.

 

Contemplatio :

Bersabdalah, ya Tuhan, hamba mendengarkan, dan terjadilah padaku menurut perkataanMu.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening