Hari Rabu sesudah Penampakan

5 Januari 2011

1Yoh 4: 11-18  +  Mzm 72  +  Mrk 6: 45-52

 

 

Lectio :

 

Berdoa adalah salah satu kebiasaan Yesus. Dia selalu berkomunikasi dengan Allah Bapa di surge. Adanya komunikasi hati memang membuat segalanya menjadi baik adanya. Ketakutan para murid kepada Yesus yang berjalan di atas air, karena memang mereka belum mengenal Dia dengan sesungguhnya. Mereka baru setaraf tinggal bersama Yesus secara fisik, mereka belum tinggal bersama Yesus dan ada bersama Yesus.

 

Meditatio :

 

'Sesudah memperganda roti Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa'.

Berdoa dan berdoa, itulah kebiasaan Yesus yang kiranya menjadi panutan juga bagi kita. Kita tahu siapakah Yesus. Namun dalam menampilkan diriNya yang sungguh-sungguh manusia sama seperti kita, Dia selalu berdoa dan berdoa, Dia selalu berkomunikasi dengan Allah Bapa, karena memang Dia datang ke dunia hanya untuk melakukan kehendak Bapa di surge. Doa menjadi kekuatan bagi Yesus untuk melakukan kehendak Bapa, dan dengan berdoa kita tahu apa yang menjadi kemauan dan kehendak Allah sendiri.

Kita pun seharusnya setia dan setia berdoa dan berdoa kepadaNya. Bila Yesus dengan setia menunjukkan makna doa, yang bukan hanya dengan ajaran, melainkan dengan tindak dan perbuatan, demikian juga hendaknya kita semua. Doa hendaknya menjadi nafas kehidupan kita sehari-hari. Yesus tidak saja mengajarkan doa 'Bapa Kami', Dia juga mengajar supaya kita berdoa.

'Tenanglah! Aku ini, jangan takut!'

Penegasan Yesus kembali dikatakanNya kepada murid-muridNya. Penegasan ini diberikan karena mereka semua pada waktu itu mengalami kegoncangan jiwa, mereka takut dan kuatir akan hidup mereka, hidup mereka sepertinya di ambang maut, badai sebentar lagi menikam mereka. Mereka belum mengenal Yesus sang Guru mereka. Mereka memang baru melihat dan mengalami Yesus sendiri yang memperganda roti dan membuat semua orang kenyang. Namun semuanya belum mampu membuka mata hati mereka siapakah Yesus yang mereka ikuti itu; 'mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil'; sepertinya Yesus harus memberikan rincian kepada mereka apa yang bisa dikerjakanNya.

Dalam peristiwa badai itu sempat terlontar dari mulud para muridNya: 'itu adalah hantu', dan mereka malahan berteriak-teriak karena ketakutan ketika melihat Yesus berjalan di atas air. Mengapa mereka ketakutan? Apakah karena kekuatiran mereka akan badai itu? Apakah ancaman badai itu menutup mata mereka sehingga mereka tidak bisa melihat dengan jelas Yesus yang mendekati mereka? Mereka kiranya mengenal Yesus, tetapi Dia yang mampu berjalan di atas air inilah yang kiranya di luar nalar mereka.

Yesus tetap memaksa mereka, agar tidak takut dengan berkata 'tenanglah! Aku ini, jangan takut!', dan Ia langsung naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah.

Kita bukanlah para murid, kita pun bukan orang-orang yang berkumpul bersama Yesus di waktu menyejarah. Sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama, 'tidak ada seorang pun di antara kita yang pernah melihat Kristus', namun kita mengalami Allah, kita dapat merasakan kehadiran Kristus yang hidup; dan kiranya 'tinggal bersama Dia' inilah yang lebih membawa nikmat, daripada tinggal bersama tanpa adanya relasi hati. Yang 'berbahagia bukanlah ibu yang telah mengandung Dia dan susu yang telah menyusuiNya, melainkan mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya (Luk 11: 27-28)'. Karena itu, tegas Yohanes tadi: 'jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasihNya sempurna di dalam kita'.

Yohanes memberi kesimpulan demikian, karena 'Allah adalah kasih, maka barangsiapa berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia'. Beriman kepada Kristus memang bukanlah hanya sekedar mempercayai pelbagai ajaran dan perintah-perintah Allah. Beriman kepada Kristus Tuhan adalah sebuah tindakan untuk berbuat kasih kepada Dia sendiri, yang adalah Kasih dan telah mendahului mengasihi kita umatNya, juga berbuat kasih kepada sesame. Kasih kepada Tuhan dan sesame itu bagaikan dua mata keping uang logam yang tak mungkin dipisahkan satu sama lain. Seorang pengikut Kristus haruslah seorang aktifis kasih!

Kalau Tuhan ada padaku, aku tidak gentar (Mzm 56: 12). Ketika Yesus menampakkan kemuliaanNya dengan berjalan di atas air, para murid ketakutan dan gelisah; semua terjadi karena memang mereka belum mengenal dan percaya kepada Kristus Tuhan. Yohanes pun menambahkan tadi, bahwa 'di dalam Kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam Kasih'. Ketakutan memang menjauhkan sesorang untuk berani berbuat kasih, dia malahan tenggelam dalam dirinya sendiri.

 

Oratio :

 

Yesus Kristus Engkaulah Kasih, ajarilah kami untuk selalu berbagi kasih dalam hidup ini, karena memang inilah hidupMu sendiri. Ajarilah kami dengan kasihMu agar kami kedapatan sempurna dalam hidup keseharian kami.

 

Contemplatio :

 

Yesus, ajarilah kami berdoa.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening