Hari Raya Penampakan Tuhan

2 Januari 2011

Yes 60: 1-6  +  Ef 3: 2-6  +  Mat 2: 1-12

 

 

Lectio :

 

Ada beberapa orang majus yang datang dan bertanya kepada Herodes di manakah Raja Yahudi yang baru lahir. Berita itu amat menggemparkan banyak orang. Di Betlehem, kata para ahli Kitab Suci. Maka pergilah mereka ke Betlehem dan menjumpai Kanak-kanak Yesus bersama Maria ibuNya. Mereka mempersembahkan emas, dupa dan wangi-wangian.

 

Meditatio :

 

'Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia'.

Sebuah pertanyaan yang menggemparkan sang penguasa dan kerajaan. 'Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem'. Sebab pertanyaan itu adalah sebuah tamparan bagi seorang penguasa. Herodes adalah raja, penguasa negeri. Pertanyaan ini timbul karena ketidaktahuan orang-orang majus, tetapi dalam dunia politik, bisa saja dimengerti: sikap yang meremehkan seorang penguasa yang ditemuinya. Mereka datang bukan untuk menyembah Herodes, melainkan menyembah Dia, seorang 'Raja yang baru dilahirkan'; raja yang ada di depan mereka tidaklah mereka perhatikan.

'Kami telah melihat bintangNya di Timur'. Apakah ungkapan ini sungguh-sungguh dimengerti oleh Herodes? Apakah dengan penggunaan istilah bintang, Herodes bisa segera menyimpulkan bahwa ini bukan urusan politik, ini soal astrologis, ilmu perbintangan, ada nada-nada mistis? Ini bukan urusan saya. Saya adalah raja.

'Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan'. Mengapa Herodes memanggil mereka? Bukankah mereka hanya tahu soal-soal agama dan kitab suci? Apakah segala persoalan ini dapat diselesaikan dengan pengetahuan agama dan kitab suci? Apakah memang kepandaian agama dan kitab suci dapat menyelesaikan persoalan hidup?

Namun sepertinya sudah ada kesimpulan sementara bahwa Raja yang baru lahir itu adalah seorang Mesias. Seorang Penyelamat yang memang sudah dinanti-nantikan banyak orang, bahkan semenjak sejarah leluhur orang-orang Yahudi. Mesias adalah seorang Utusan Tuhan, seorang Pahlawan, seorang Pembebas. Pertanyaan mereka langsung mengarah di manakah Mesias itu dilahirkan. Maka tepatlah mereka bertanya kepada para ahlinya.

'Di Betlehem di tanah Yudea', jawab imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka tahu dengan benar, karena memang sudah tertulis dalam kitab nabi Mikha: 'hai engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel'.

Ternyata memang mereka tahu betul di mana Mesias, sang Pemimpin yang akan menggembalakan umat Allah itu lahir, tetapi mereka tidak mencariNya. Mereka tahu Tuhan akan datang, tetapi mereka tidak menyambutNya, mengapa? Karena memang tidak ada kerinduan akan kebenaran dan keselamatan, mereka telah jatuh ke dunia pilitik dan sosial; banyak tua-tua bangsa dan ahli-ahli Taurat tidak lagi menaruh hati pada persoalan-persoalan iman, padahal semuanya itu wilayah kerja mereka, mereka malahan menjatuhkan diri ke bidang sosial dan politik yang dianggap mereka lebih banyak menguntungkan (Mat 23: 14). Mereka tidak menggunakan kemampuan, potensi, bahkan kesempatan yang mereka miliki untuk menjumpai Tuhan; mereka seharusnya orang-orang pertama yang datang dan menyembah sang Juruselamat, Kristus Tuhan yang lahir di kota Daud, tetapi tidaklah demikian, pengetahuan mereka berhenti pada akal budi dan tidak turun ke dalam hati.

Tidaklah demikian dengan orang-orang majus, berkat pengetahuan mereka akan perbintangan, mereka datang dan mencari; pengetahuan mereka memberi penghiburan pada kerinduan dan kehausan mereka akan sang Kebijaksanaan Abadi. Kedatangan mereka sungguh-sungguh menjawabi panggilan Tuhan sebagaimana dikatakan Yesaya dalam bacaan pertama tadi: 'bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu; terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaanNya menjadi nyata atasmu'. Mereka itu adalah 'bangsa-bangsa yang berduyun-duyun datang kepada Terang, dan raja-raja kepada Cahaya yang terbit'.

'Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak'. Herodes masih kembali pada persoalan bintang, tetapi sepertinya sekarang telah beralih pada keberadaan bintang itu sebagai tanda agung. 'Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia'.

'Berangkatlah mereka; lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada'. Bintang itu sepertinya sengaja mengajak mereka singgah di Yerusalem, bintang itu hendak mengungkapkan pernyataan Simeon bahwa Anak yang lahir ini 'ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan' (Mat 2: 34-35).

'Masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibuNya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadaNya, yaitu emas, kemenyan dan mur'. Ke manakah Yusuf pada waktu itu? Apakah dia tetap menjadi orang kedua dalam setiap pertemuan? Malaikat dalam penyampaian kabar sukacita pertama-tama menemui Maria, dan baru kemudian Yusuf, yang diundang sebagai peneguh dan pelindung dalam suatu karya. Orang-orang majus akhirnya mempersembahkan mas, dupa dan wangi-wangian yang menyatakan bahwa Dia yang lahir ini adalah seorang Raja, Imam dan Allah, sebab Dia adalah Firman yang menjadi manusia. Sekali lagi, kedatangan orang-orang majus ini mewakili bangsa-bangsa, sebagaimana disebutkan oleh Yesaya tadi, 'yang datang dari Syeba dan mempersembahkan emas dan kemenyan'.

Kita bukanlah orang-orang seperti tua-tua bangsa Yahudi dan ahli-ahli Taurat yang tahu dengan tepat kapan dan di mana Mesias dilahirkan, kita pun juga bukan seperti orang-orang majus yang pandai dalam ilmu perbintangan. Namun ternyata kita, walau  bukan seperti mereka dan juga  'bukan sebagai orang-orang Yahudi', sebagaimana dikatakan dalam bacaan kedua tadi, 'kita turutserta menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Semua ini terjadi karena Injil, kabar sukacita'. Kita tidak lagi harus pergi ke Betlehem untuk melihat dan menjumpaiNya, karena memang Dia Yesus, sang Firman itu datang ke tengah-tengah kita, agar kita semua dan seluruh umat manusia sampai ujung bumi beroleh keselamatan.

Pesta penampakan Kristus Tuhan tetap kita rayakan dan memang harus kita rayakan, karena memang perayaan ini mengingatkan kita bahwa Dia sang Firman itu sungguh-sungguh menampakkan diri kepada segala bangsa, Dia memanggil dan memanggil kita untuk beroleh keselamatan. Berkat kematian dan kebangkitanNya dari alam maut, Dia bukan lagi seorang Raja milik orang-orang Yahudi, sebagaimana disebutkan orang-orang majus tadi, Dia adalah telah menjadi milik semua orang yang berkenan kepadaNya, dan Dia sendiri malahan menghendaki agar kabar keselamatan itu diwartakan kepada segala bangsa, 'karena memang segala kuasa di surge dan bumi telah diserahkan Bapa kepadaNya' (Mat 28: 18-19).

Pesta penampakan Tuhan juga mengajak kita untuk tetap berani menggunakan segala bakat, kemampuan, kemahiran yang kita miliki untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan sang Empunya kehidupan (1Sam 1: 28). Berkat pengetahuannya, orang-orang majus mencari dan mencari Raja yang baru lahir, tidaklah demikian dengan tua-tua bangsa dan ahli-ahli Taurat yang sama-sama juga mempunyai ilmu pengetahuan. Segala anugerah ilahi yang dilimpahkan Tuhan kepada kita umatNya menyempurkan dan mendekatkan kodrat kita yang memang sudah 'diciptakan sesuai dengan gambar Allah' (Kej 1: 26), untuk semakin mampu berkomunikasi dengan secara akrab.

 

Oratio :

 

Yesus Kristus, Engkau datang ke tengah-tengah kami dalam diri manusia lemah. Orang-orang majus merasakan kehadiranMu, dan berkat pertolongan bintang mereka menemukan Engkau yang terbaring di palungan. Kami mohon kepadaMu ya Yesus, semoga kami pun mudah terbantu dalam menemukan Engkau di setiap langkah hidup kami, karena memang Engkau tak jarang menampakkan jejak-jejak langkahMu di depan kami.

Yesus, kesibukan pikiran kami tak jarang membuat mata hati kami kabur memandang Engkau. Yesus, bantulah kami selalu, amin.

 

Contemplatio :

 

Kasih dan rahmatMu menyempurnakan kami, ya Yesus.

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening