Kamis Masa Biasa I

14 Januari 2011

Ibr 3: 7-14  +  Mzm 95  +  Mrk 1: 40-45

 

 

 

Lectio :

 

Yesus menyembuhkan seseorang yang mengidap penyakit kusta. Setelah sembuh dia diminta untuk tidak memberitakan ke siapapun tentang penyembuhannya itu, melainkan melaporkan dan membuktikan kesembuhannya di hadapan para imam dan mempersembahkan kurban persembahan. Sebaliknya, dia malahan menyebarluaskan berita itu, sehingga Yesus terhalang untuk masuk kota.

 

Meditatio :

 

'Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku'.

Sebuah permintaan dari seorang kusta kepada Yesus, yang memohon untuk disembuhkan. Cerita versi Markus ini sepertinya lebih kasar dari pada versi Lukas, sebab dalam Injilnya Lukas menyatakan: 'Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat menyembuhkan aku' (Luk 5); Dia agung dan mulia, layaklah kalau Dia disebut Tuan, tetapi tidaklah demikian dengan Injil hari ini, Markus memakai kata 'Engkau'. Sebaliknya, kita pun boleh menunjukkan bahwa  rasa memiliki dan keakraban terhadap Yesus lebih terasa dalam penceritaan Markus. No problems, katanya. Namun tak dapat disangkal, penampilan orang kusta ini sungguh-sungguh menunjukkan keberundukan diri di hadapan Tuhan dan kepercayaannya bahwa kehendak Tuhanlah yang membuat segalanya baik, kita hanya mampu meminta dan meminta.

'Aku mau, jadilah engkau tahir', jawab Yesus yang tergeraklah hatiNya oleh belaskasihan, lalu Ia mengulurkan tanganNya dan menjamah orang itu, dan seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segalanya bisa terjadi, bila memang Tuhan menghendaki, 'sebab tidak ada sesuatu yang mustahil bagiNya' (Luk 1: 37).

'Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka', pinta Yesus kepada orang itu. Dengan permintaanNya ini, Yesus meletakan orang itu pada jalur sosio-religius yang seharusnya dilakukan, Dia tidak memintanya agar mengikuti diriNya. Dia pun tidak meminta orang itu untuk memberi kesaksian kepada teman-temannya, seperti yang sering terjadi di jaman sekarang ini; Yesus hanya meminta dia membuktikan diri bahwa dirinya telah sembuh di hadapan para imam dan mempersembahkan kurban syukur. Sebab hidup sewajarnya sebagaimana adanya di tengah-tengah pergaulan bersama adalah sebuah kesaksian yang amat berguna.

'Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana'. Sebuah kemauan baik yang memang tidak dapat dibendung dari orang yang meluapkan sukacita dan kegembiraannya, sebuah bentuk pujian dan terima kasih, sebuah sharing pengalaman akan Allah, yang telah menyentuh dan menjamahnya. Namun pada waktu itu, sepertinya Yesus memang tidak menghendaki kemauan baik umatNya, 'ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun'. Kesalahan orang ini, kalau boleh kita sebut seperti itu,   luapan emosional yang dimilikinya amat berlebihan, eforia diri terlalu kuat, tak bedanya dengan eforia kebebasan demokrasi bangsa kita; sebuah luapan emosional semacam itu akan mampu menutup pendengaran seseorang akan suara Tuhan dan malahan cenderung mengabaikanNya.

Apakah kita juga boleh menyebut bahwa orang yang sudah mapan hidupnya itu cenderung mengabaikan suara dan kemauan Tuhan, yang penuh kasih, yang pernah menolongnya? Kacang lupa akan akarnya. Kita dapat memantaunya.

Akibatnya, 'Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota'.  Namun sepertinya kesalahan orang itu bukanlah sebuah dosa, sebab apa yang dilakukannya ternyata tidak mendatangkan amarah Tuhan. Dia hanya mengganggu perjalanan Tuhan Yesus dalam mewartakan InjilNya. Yesus tidak marah, dan Dia masih bisa menampakkan diriNya, siapakah Dia dalam karya pelayananNya. 'Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepadaNya dari segala penjuru'. Dia membuat segala-galanya baik adanya.

Luapan emosional di luar kewajaran biasanya terungkap oleh jiwa yang memang sudah lama membatu, menutup diri. Tidak salah! Namun ada baiknya, jiwa dan budi ini tidak kita beri kesempatan atau kita biarkan sampai membatu, dan baru di kemudian hari kita tunggu untuk mampu berkata-kata kasih, dan janganlah pula mendapatkan teguran seperti yang dikutip dalam bacaan pertama: 'janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun'; hendaknya itu tidak terjadi.

Surat kepada umat Ibrani malahan mengajarkan agar 'saling menasihati seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan -hari ini-, supaya jangan ada di antara kita yang menjadi tegar hatinya, karena tipu daya dosa'. Berani saling memberi nasehat dan menerima nasehat akan membuat hidup bersama lebih bermakna, sembari memanfaatkan anugerah ilahi yang sudah kita terima, 'karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula'.

 

Oratio :

 

Yesus, sembuhkanlah kami dari kelemahan dan dosa-dosa kami.

Yesus, ajarilah kami juga selalu berani mengutamakan kehendakMu dalam setiap langkah hidup kami, karena memang kehendakMu itu menyelamatkan.

 

Contemplatio :

Aku datang hendak melakukan kehendakMu ya Tuhan.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening