Sabtu Masa Biasa I

15 Januari 2011

Ibr 4: 12-16  +  Mzm 19  +  Mrk 2: 13-17

 

 

 

Lectio :

 

Yesus  memanggil Lewi seorang pemungut cukai; dan kiranya berita yang menggemparkan banyak orang adalah kemauan Yesus untuk bergaul dan makan bersama-sama dengan para pemungut cukai dan para pendosa. Yesus malahan menegaskan kepada para ahli Taurat bahwa Dia datang memang untuk mereka para pendosa.

 

Meditatio :

 

Suatu hari Yesus melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: 'Ikutlah Aku!', maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia.

Kembali, Markus menceritakan sebuah panggilan Yesus yang langsung memang diikuti oleh Lewi sang pemungut cukai, tanpa berpikir panjang dan bertanya-tanya. SuaraNya memang benar-benar menyapa, dan memang 'banyak orang datang kepada-Nya untuk mendengarkan Dia', sebagaimana dikatakan pada awal Injil tadi.

Jujur saja, keberanian seseorang mendengarkan suaraNya akan memurnikan hati dan jiwa, sebab sabda dan kehendakNya itu menyelamatkan, 'sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita, dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab', tegas surat kepada umat Ibrani dalam bacaan pertama tadi.

Karena mungkin perjalananNya melewati rumah Lewi, maka singgahlah Dia di rumahnya dan bahkan menyempatkan diri untuk makan di rumah orang itu, dan lihatlah 'banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia'. Ketika ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-muridNya: 'mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?'. Bagaimana mereka tidak gelisah melihat seorang Guru yang mengajarkan hokum Allah berkumpul dan makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa? Dia orang suci dan terhormat berkumpul dengan para pendosa!

'Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa', jawab Yesus. Inilah resiko dari Tuhan yang Maha Pengampun, Dia menerima orang-orang berdosa; dan bukankah Yesus kemarin juga menegaskan bahwa Anak Manusia berkuasa untuk mengampuni dosa. Resiko sebuah panggilan adalah sebuah kondisi yang harus diterima berkenaan dengan panggilan yang dimilikinya.

Resiko panggilan seorang imam seorang gembala adalah bahwasannya dia harus berada di tengah-tengah umatnya, dia menjaga dan memperhatikan kawanan yang dipercayakan kepadanya, karena memang Yesus pun tidak menghendaki  umat yang dikasihiNya itu bagaikan kawanan domba tanpa gembala (Mat 9: 36). Para imam adalah orang-orang yang mendapatkan kepercayaan memimpin dan menggembalakan umatNya, bukan mereka asisten-iman, bukan calon iman, bukan ketua lingkungan atau wilayah; mereka semua sungguh-sungguh mendapatkan tugas untuk membantu dan membantu, mereka tidak mendapatkan tugas delegasi. Kehadiran dan perhatian seorang gembala di tengah-tengah umatnya tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Melibatkan umat dalam karya pastoral dan bina Gereja tidak boleh mengalihkan tugas peran seorang imam sebagai gembala di tengah-tengah umatnya; tugas seorang asisten imam baru berfungsi, bila dia ada bersama sang imamnya; mereka tidak boleh berdiri sendiri. Adalah hak seorang umat beriman yang meminta pelayanan dari sang gembalanya, dan menolak seorang asisten imam!

Yesus menampakkan diri sebagai Anak Manusia yang berkuasa mengampuni, karena memang Dia merasakan sungguh realitas dan pengalaman hidup umatNya. 'Sebab Imam Besar yang kita punya, yakni Yesus Kristus, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa', tegas bacaan pertama tadi. Kiranya sabda ini menjadi pesan istimewa bagi para imam: kehadiran seorang imam sebagai gembala di tengah-tengah umatnya, tak ubahnya seperti Imam Besar  kita, yang ikut serta merasakan kelemahan-kelemahan umat yang dipercayakan kepadanya.

Dan bagi kita semua, yang 'sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah', hendaknya semakin 'teguh berpegang pada pengakuan iman kita, dan dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya'. Kita mendukung karya penggembalaan para imam kita dengan semakin menghayati pengakuan iman kita. Adalah sebuah sukacita, bila seluruh umat beriman bernyanyi dengan penuh sorak-sorai dan ambil bagian dalam perayaan Ekaristi, sebab peran umat dalam perayaan Ekaristi menunjuk pada pengakuan diri akan butir-butir pokok iman yang dirayakan, mereka diundang dalam sebuah perjamuan yang menyelamatkan, mereka diikutsertakan dalam perjamuan bersama Yesus sendiri. Keikutsertaan umat dalam berliturgi secara aktif menumbuhkembangkan iman, dan tak dapat disangkal memberi kekuatan bagi imam yang merayakannya.

 

Oratio :

 

Yesus, Engkau menerima orang-orang berdosa karena Engkau Maha Pengampun, Engkau membuka tangan dan menerima mereka, karena memang Engkau diutus untuk menyelamatkan umat manusia. Ajarilah kami ya Yesus untuk berani menerima orang lain apa adanya, terlebih mereka yang terabaikan.

Yesus, dampingilah kami selalu, amin.

 

Contemplatio :

Tuhan Engkaulah Maha Pengampun dan Maha Pemurah.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening