Sabtu Masa Biasa III

29 Januari 2011
Ibr 11: 1-2.8-19  +  Mzm  +  Mrk 4: 35-41
 
 
Lectio
 
Yesus bersama para muridNya hendak ditenggelamkan oleh angin badai yang menerpa perahu mereka. Yesus ada di tengah mereka, tetapi mereka tidak meminta bantuan daripadaNya. Semuanya itu terjadi, karena mereka tidak mengenal baik dan belum percaya kepada sang Guru, yang mampu membuat segala-galanya baik adanya; sebaliknya kepercayaan kepadaNya akan mendatangkan rahmat dan berkat, sebagaimana dialami oleh Abraham leluhur kita.
 
Meditatio
 
'Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?'
Itulah jeritan para murid kepada Yesus, ketika taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Mereka menjerit dan berteriak, karena memang pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Lucu memang! Mengapa Yesus berdiam diri dan tidur, ketika angin menggoncang mereka semua. Mungkinkah juga mereka semua tenggelam oleh angin badai walau Yesus ada di situ?
Kita harus berani mengatakan bahwa Yesus memang sengaja bertindak demikian! Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: 'diam, tenanglah!', dan angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Seringkali memang kita pun merasakan bahwa Tuhan itu berdiam diri dan meninggalkan kita. Pengalaman seperti ini amat terasa, bila hati kita terasa kering, kita berada di tengah padang gurun kehidupan di bawah terik matahari yang menyengat dan jauh dari oase yang menyegarkan.
Kegelisahan muncul!
Yesus menegur para murid, kataNya: 'mengapa kamu begitu takut? mengapa kamu tidak percaya?'. Teguran ini hendak menjawab persoalan tadi: mungkinkah mereka tenggelam bersama Yesus. Teguran diberikan Yesus kepada mereka, bukan karena kemarahan diri; teguran disampaikan Yesus, karena ketidakpercayaan mereka kepada Yesus. Teriakan mereka kepada Yesus, tak dapat disangkal,  memang sebuah ungkapan ketidakpercayaan para murid kepada sang Guru mereka, atau bila hendak diperhalus ungkapan ini, bahwasannya teriakan mereka kepadaNya menandakan bahwa mereka belum tahu benar, mereka belum mengenal sungguh-sungguh siapakah Yesus yang ada di tengah-tengah mereka. Sebab bila mereka mengenal sungguh siapakah sang Guru yang ada di tengah mereka, mereka pasti segera memohon bantuan daripadaNya.
Kiranya hendaknya menjadi renungan kita bersama, bahwasannya kita tahu Yesus ada di dekat kita, bahwasannya Yesus adalah sang Imanuel, namun kira kehadiranNya itu tidak membuat kita bisu dan bungkam untuk berani meminta bantuan daripadaNya. Dia ada di dekat kita dan ada bersama kita, tetapi Dia tidak membungkam kita untuk berkata-kata dan berani berseru kepadaNya. Kepercayaan kita kepada Kristus tidaklah berarti meremehkan dan menjadikan Dia sebagai seorang tukang parkir atau pun mesin ATM kita.
Kepercayaan dan iman kepada Yesus adalah soal hidup, bukan soal makan dan minum. Kepercayaan akan Yesus sang Guru adalah sikap hidup seseorang dalam mengarahkan diri kepada keselamatan. Bacaan pertama menegaskan: 'iman kepercayaan adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Karena iman, Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Karena iman, ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Karena iman, ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia'. Iman kepercayaan adalah sebuah sikap hidup seseorang dalam mengarahkan diri kepada keselamatan, sebagaimana dijanjikan oleh sang Juruselamat sendiri.
 
Oratio
 
Ya Yesus Kristus, kami sering berseru-seru bahwa Engkau dekat pada kami, tetapi seringkali sebatas ucapan bibir kami saja. Malahan di tengah-tengah badai kehidupan kami lupa dan tidak ingat bahwa Engkau mampu membuat segala-galanya baik adanya. Buatlah kami, ya Yesus, untuk semakin berani percaya dan berserah diri kepadaMu.
 
Contemplatio
 
Tuhan Yesus adalah Pelindungku, tetapi Dia bukanlah seorang tukang parkir.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening