Selasa Masa Biasa II

 18 Januari 2011

Ibr 6: 10-20  +  Mzm 111  +  Mrk 2: 23-28

 

 

 

Lectio :

 

Orang-orang Farisi memprotes tindakan para murid Yesus yang dengan seenaknya saja memetik bulir gandum di hari Sabat. Sabat adalah Sabat, tidak ada toleransi bagi manusia. Namun Anak Manusia sang Empunya hari Sabat membuat hari Sabat bagi manusia, dan bukan sebaliknya.

 

Meditatio :

 

'Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?'.

Teriak orang-orang Farisi kepada Yesus, ketika pada hari Sabat, dilihat mereka murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Yang dipersoalkan mereka bukanlah soal boleh atau tidaknya memetik bulir gandum, sebab 'apabila engkau melalui ladang gandum sesamamu yang belum dituai, engkau boleh memetik bulir-bulirnya dengan tanganmu, tetapi sabit tidak boleh kauayunkan kepada gandum sesamamu itu' (Ul 23: 25), yang mereka persoalkan adalah mengapa mereka melakukannya pada hari Sabat.

Hari Sabat adalah hari Tuhan, tidak boleh melakukan segala tindakan apapun. Tetapi benarkah itu? Apakah melakukan perjalanan jauh tidak diijinkan juga, bukankah perjalanan mengakibatkan rasa lelah dan capek, dengan demikian mereka tidak beristirahat? Mengapa tidak dilarang? Bila memetik bulir gandum dipersoalkan, bukankah tindakan ini lebih kecil kualitasnya dari sebuah perjalanan? Bukankah memetik gandum pada saat itu hanyalah tindakan sambilan, sekedar iseng? Mereka hanya melewati lading gandum. Mereka dalam keadaan lapar.

'Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan', sahut Yesus kepada mereka, 'bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu, yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam, dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?'. Ada peraturan diperuntukkan semua manusia, tetapi tidaklah tepat bila martabat manusia diabdikan demi kepentingan sebuah peraturan.

Itulah yang sering terjadi sekarang ini, keadilan di arahkan kepada hokum dan peraturan, dan bukan peraturan dan hokum demi keadilan. Orang tidak bisa menikmati keadilan dan juga orang tidak mampu melihat keadilan, karena keterbatasan dan kelemahan hokum. Ada orang-orang yang melakukan kejahatan di antara celah-celah hokum, dan yang jelas itu bukan rakyat kecil, yang tak bisa berbahasa hukum.

Cinta seharusnya mengatasi hokum!  Dan itulah yang tidak terjadi sekarang ini

'Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat', tegas Yesus. Demikian juga hari Minggu!  Bukannya kita meremehkan hari Sabat atau hari Minggu, kita wajib merayakannya dalam suasana keadilan dan damai. Bukankah Allah merasa damai dan sukacita, setelah mengungkapkan kuasa dan kasihNya setelah menciptakan segala selama enam hari berturut-turut? Itulah Sabat!   Bukankah Yesus juga bergembira dan penuh sukacita, karena telah menebus umat manusia berkat kematian dan kebangkitanNya? Itulah Minggu, hari Tuhan!

'Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat', karena memang Allah mengatasi waktu. Aneka aturan, yang dibuat manusia dalam mengejar hidup rohani, dibuat guna membantu kita mengarahkan hati dan budi kepada sang Empunya kehidupan  kita dan membantu kita dalam mengendalikan diri, agar kita tidak menjadi dunia (Rom 12: 2), seperti ada aturan puasa dan pantang, ada aturan hari Sabat dan Minggu, tetapi semua itu tidak berlaku, bila kita memang telah tinggal dan berada dalam Dia yang mengatasi waktu.

Namun hendaknya pernyataan ini tidak disalahtafsirkan, tidak ada hak istimewa dalam hidup rohani. Itu hanya hak priviligi milik Allah!  Hendaknya kita mengerti bahwa tak jarang mereka, yang sudah berpaut sepenuhnya kepada Tuhan, mendapatkan tantangan dan rintangan dalam menyempurnakan hidupnya dalam mendapatkan kasih karuniaNya. Satu di antara mereka yang layak di hadapan Tuhan adalah Abraham; dengan tegas dan jelas dia ditunjuk sebagai bapa bangsa (Kej 15). Abraham tidak berleha-leha  menantikan janji Allah dan kasih karuniaNya. Memang Allah telah bersumpah demi diriNya sendiri, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama tadi, 'ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya. Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak'. Namun begitu, 'Abraham menanti dan menanti dengan sabar, guna memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya'. Abraham perlu berjuang dan berjuang dengan sabar guna mendapatkan anugerahNya.

 

Oratio :

 

Ya Yesus, buatlah kami untuk semakin memahami nilai cinta kasih yang mengatasi hokum, karena memang hokum dan peraturan itu dibuat dan digunakan untuk membahagiakan hidup kami. Yesus jadikanlah kami pelaku-pelaku cinta kasihMu yang mengatasi hukum.

 

Contemplatio :

Hanyalah bahasa cinta, kunci setiap hati.

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening