Senin Masa Biasa II

17 Januari 2011

Ibr 5: 1-10  +  Mzm 110  +  Mrk 2: 18-22

 

 

 

Lectio :

 

Orang-orang Farisi dan para murid Yohanes protes kepada Yesus yang membiarkan para muridNya tidak berpuasa. Yesus malahan membela mereka, kataNya: 'pantaskah mereka sahabat mempelai itu berpuasa ketika mempelai laki-laki ada bersama mereka. Tak ubahnya kain baru harus ditambalkan pada kain baru, atau pun anggur baru haruslah ditempatkan pada wadah baru, demikian para muridNya berpuasa.

 

Meditatio :

 

'Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?'.

Itulah persoalan yang diajukan oleh murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi, sebab mereka semua berpuasa, sedangkan para murid Yesus tidak, mereka tetap makan dan minum sebagaimana biasanya.

Kehadiran kelompok baru memang selalu menimbulkan persoalan, terlebih bagi mereka yang sudah mapan; kelompok baru menimbulkan kegoncangan bagi mereka yang sudah mapan, karena memang mereka menampilkan sesuatu yang baru dan mengundang perhatian banyak orang. Demikianlah orang-orang, yang menyebut diri para murid Yesus ini, mereka melakukan sebuah tindakan, yang memang seharusnya dilakukan pada waktu itu berkaitan dengan hidup keagamaan Yahudi, yakni berpuasa, tetapi mereka tidak melakukan. Mereka, yang tidak berpuasa, menjadi halangan dan batu sandungan bagi mereka, yang menjalankan ibadat puasa. Tindakan mereka menjadi halangan dan batu sandungan, karena mereka, yang tidak berpuasa ini, dianggap melakukan sesuatu yang hura-hura di hadapan mereka, yang berusaha mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu.

Ingat, pertama, berpuasa bukanlah soal makan dan minum, kedua, saya adalah saya dan kamu adalah kamu, kita memang berbeda, kita harus berani menerima apa adanya.

'Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa, tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa', jawab Yesus kepada mereka. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, demikian juga anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula. Segala-galanya ada waktunya, dan sebuah tindakan sungguh-sungguh bermanfaat dan mengenai sasaran, bila tepat waktu pelaksanaannya.

Tidak tepat waktunya memang sahabat-sahabat mempelai berpuasa, bila sang mempelai berada di situ. Sang Mempelai itu adalah Yesus! Selama orang tinggal bersama Yesus, orang tidaklah perlu berpuasa, karena berpuasa itu baru dilaksanakan, bila Yesus tidak bersama dengan mereka. Berpuasa bukan soal tidak makan dan minum, bukan pula berpantang terhadap beberapa jenis makanan; berpuasa itu adalah soal pengendalian diri. Manusia adalah seorang pribadi yang mulia, hendaknya dia tidak dikendalikan, sebaliknya dia mampu mengatasi segalanya.

Orang yang ada bersama Yesus adalah orang yang mampu mengendalikan diri, karena memang dia tidak cenderung terikat pada kebiasaan atau aneka bentuk ciptaan lainnya, terutama makanan dan harta, dan sebaliknya malahan sekarang dia memberikan dirinya kepada Yesus, dan membiarkan Yesus, yang mengatasi segala itu, hidup dalam dirinya.

Hidup bersama Yesus Tuhan berarti mengikuti kemauan dan kehendak Allah, hidup dalam Yesus Tuhan adalah hidup sesuai dengan cita-cita dan gambar Allah (Kej 1: 26) dan mengikuti perintahNya  (Kej 3: 2.11). Inilah kebersatuan Allah dan manusia ciptaanNya, manusia tinggal dalam kemauan Allah. Pola hidup inilah yang diterapkan Yesus sendiri di tengah-tengah dunia ini. Dia melakukan segala kemauan Allah Bapa di surge. Dia tidak menggunakan hak istimewa yang melekat dalam diriNya. Surat Ibrani dalam bacaan pertama merenungkan: 'dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan, dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya'.

Injil hari ini sebenarnya tidak berbicara tentang puasa. Injil hari ini lebih berbicara kepada kita tentang tinggal dekat sang Mempelai. Kita tidak boleh meremehkan usaha pengudusan diri dengan cara berpuasa dan berpantang, kita perlu melakukan dan mengusahakannya, namun kiranya yang harus menjadi motivasi alasan kita dalam berpuasa adalah agar kita mampu mengendalikan diri dan kembali hidup sesuai dengan fitrah ciptaan yang sesuai dengan gambar dan kemauan Allah. Contoh panutan dalam hal ini adalah Yesus Kristus! Yesus selalu hidup dalam fitrah ciptaan yang luhur dan mulia, yang mengikuti kehendak Allah Bapa di surge.

Kita pun bisa!

 

Oratio :

 

Yesus, kami ingin selalu tinggal bersama Engkau, bergembira bersama Engkau, hanya saja kehendakMu seringkali tidak sesuai dengan kemauan kami, kami malahan lebih cenderung mengarah pada keinginan diri, yang menyenangkan diri sendiri, padahal yang menyelamatkan hidup ini adalah kehendakMu, dan bukannya kemauan diri sendiri;  tinggal dan hidup bersama Engkau sungguh terjadi, bila kami mengikuti perintah-perintahMu.

Yesus, buatlah kami setia mengikuti Engkau.

Santo Antonius abas, doakanlah kami, amin

 

Contemplatio :

Bukan aku yang hidup dalam diriku, melainkan Kristuslah yang hidup dalam diriku.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening