Jumat Masa Biasa VII


25 Februari 2011
Sir 6: 5-17  +  Mzm 119  +  Mrk 10: 1-12
 
 
 
Lectio :
 
Orang-orang Farisi mencobai Yesus: apakah boleh seseorang menceraikan isterinya. Yesus mengingatkan dan mengembalikan persoalan kepada maksud dan kehendak Allah sendiri yang menyatukan manusia laki-laki dan perempuan dalam perkawinan; dan kiranya apa yang telah disatukan Allah janganlah diceraikan oleh manusia.
 
 
Meditatio :
 
'Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?"
Pertanyaan orang-orang Farisi ini ditujukan kepada Yesus memang untuk mencobai Dia. Tindakan ini sekali lagi tentunya ditujukan untuk menjatuhkan dan mempersalahkan Yesus, karena  mereka sendiri pasti sudah mengetahui jawaban sebagaimana dikatakan hokum pada waktu itu. Mereka bukan orang-orang bodoh.
'Apa perintah Musa kepada kamu?', jawab Yesus kepada mereka, dan serentak mereka menjawab: 'Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai'. Sungguh benar, mereka telah mengetahui apa yang harus mereka lakukan, bila ada soal perkawinan dan keluarga.
'Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu', tegur Yesus kepada mereka. Yesus membenarkan jawaban itu, tetapi sekaligus menegur dan menampar mereka. Musa memberikan ijin perceraian, bukan demi kebaikan pelaksana-pelaksana hokum, melainkan karena ketegaran hati pelaksana hokum yang tidak mau mentaati hokum dan mau mencari kesenangan diri. Hokum memang untuk manusia dan bukan manusia untuk hokum. Karena itu,  kiranya hokum  harus ditata sedemikian rupa demi keselamatan dan kebaikan pelaksana-pelaksana hokum, hokum harus memperhatikan dan menjaga keindahan dan keluhuran umat manusia. 'Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia'. Yesus mengembalikan makna perkawinan kepada maksud dan kehendak Allah. Allah sendiri yang berkehendak menyatukan manusia, dan baiklah 'apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia'. Sungguh jelas dan tegas kehendak Allah yang menyatukan laki-laki dan perempuan.
'Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu; juga sebaliknya jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah', tegas Yesus. Amat jelas, Yesus menghendaki hanya satu kali pekawinan dan berlangsung kekal, satu kali untuk selama-lamanya. Allah tidak menghendaki perceraian!
Bacaan pertama memberi peneguhan, kataNya:
Jika engkau mau mendapat sahabat,
kajilah dia dahulu, dan jangan segera percaya padanya.
Sebab ada orang yang bersahabat hanya menurut ketikanya sendiri, tetapi pada hari kesukaranmu tidak bertahan.
Ada juga sahabat yang berubah menjadi musuh, lalu menceritakan persengketaan untuk menistakan dikau.
Ada lagi sahabat yang ikut serta dalam perjamuan makan, tapi tidak bertahan pada hari kesukaranmu.
 
Sahabat setiawan merupakan perlindungan yang kokoh, barangsiapa menemukan orang serupa itu sungguh mendapat harta.
Sahabat setiawan tiada ternilai, dan harganya tidak ada tertimbang.
Sahabat setiawan adalah obat kehidupan, orang yang takut akan Tuhan memperolehnya.
 
Guna mendapatkan sahabat sejati, kita harus berani mengkajinya, apalagi kalau kita mau mengikatnya dalam perkawinan, kita harus berani mengenalnya dan bertanya kepadanya: beranikah engkau sehidup semati, dalam untung dan malang. Allah tidak menghendaki perceraian, maka kiranya perkawinan sebagai yang luhur dan mulia dan dikehendaki oleh Allah, harus dipersiapkan sungguh-sungguh, dan hanya berdasar cinta kasih yang memberi, melayani, menghargai dan memperhatikan, dan menerima pasangan apa adanya dan tidak menuntut sesuatu daripadanya. Saya mau menikah dengan engkau, karena saya mengasihi engkau, saya menyanyangi engkau, dan bukan karena engkau, saya mencintai engkau dan saya menerima kamu apa adanya. Kelanggengan keluarga hanya karena cinta yang sejati. Perkawinan harus dipersiapkan, dan pasangan berani mengkondisikan diri.
Anehnya sekarang ini, orang ingin memasuk bola ke gawang, maka gawangnya yang diperlebar dan tanpa penjaga, tetapi bagi pemain sejati, dia akan berlatih dan berlatih bagaimana menguasai bola, dan bukannya dikuasai bola.
 
Oratio :
 
Yesus, limpahkan berkatMu secara khusus kepada keluarga-keluarga muda yang menghadapi cobaan dalam menghayati kesetiaan perkawinan, semoga mereka tetap berkanjang dalam doa dan menjaga kelestarian dan keutuhan keluarga mereka; semoga Engkau  juga menurunkan hujan damai dan sukacitra kepada mereka, terlebih bila cinta kasih mereka terasa kering dalam perjalanan padang gurun hidup  ini.
Yesus limpahkanlah kepada kami semua rahmat kesetiaan dan damai dalam hati kami.
 
Contemplatio :
 
Hendaknya kita berani belajar tentang kehidupan, discimus non scholae sed vitae (Latin: kami belajar bukan untuk sekolah, tetapi untuk hidup).
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening