Kamis Masa Biasa V


10 Februari 2011
Kej 2: 18-25  +  Mzm 128  +  Mrk 7: 24-30
 
 
 
 
Lectio :
 
Yesus memuji bahagia dan mengabulkan permohonan seorang perempuan Siro-Fenesia, yang datang kepadaNya memohon kesembuhan. Dia 'ditolak' oleh Yesus, tetapi semakin kuat berani memohon dan bermohon. Karena kata-katamu, tegas Yesus kepada perempuan itu, anakmu telah sembuh, dan memang sembuhlah anak ibu itu.
 
Meditatio :
 
'Seorang ibu, seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Yesus, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya'.
Aneh tapi nyata, seorang perempuan berani berhadapan dengan seorang Guru, apalagi dia bukanlah seorang yang percaya kepada Tuhan. Tidak ada campur tangan Tuhan dalam hidup manusia. Dia memohon dan memohon. Perempuan ini berani datang kepada Yesus, apakah karena dia percaya kepadaNya atau karena anaknya sakit?
Sulit untuk memilah-milah memang, tapi tak dapat disangkal, bila dua alasan itu yang membuat dia berani datang kepada Yesus.
'Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing', tegas Yesus. Pernyataan Yesus amatlah keras dan tidak enak didengar, tak dapat disangkal bila bisa mengusik hati banyak orang. Yesus langsung membedakan mereka yang memerlukan makanan daripadaNya, anak-anak atau anjing? Dan nadaNya, sepertinya Yesus langsung menunjuk perempuan itu termasuk sebagai kalangan 'anjing'. Jawaban seorang Tuhan yang amat menyakitkan hati, terlebih yang mengarah pada perasaan perempuan Siro-Fenesia. Sebuah jawaban yang keras dan pedas, dan bukan sebuah penolakan halus. Apakah sering kita mendengarkaan jawaban Tuhan seperti ini, sebagaimana dialami ibu yang anaknya lagi sakit ini?
'Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak', sahut perempuan itu. Dia tidak marah dan jengkel. Dia perempuan yang sabar dalam menderita. Dia tidak melawan penyataan Yesus, tetapi mengambil cela-cela kemungkinan yang diakibatkan oleh kelemahan dan ketidakhati-hatian anak-anak manusia. Seorang perempuan yang cerdas dan pemberani, ulet dalam berjuang. Perempuan ini amat keras dalam kemauan dan permohonan.
Rencana Allah pudar. Yesus tidak berkutik! Kata Yesus kepada perempuan itu: 'karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu'. Allah mengubah rencanaNya, karena kemauan dan permohonan seorang perempuan Siro-Fenesia. 'Rencana Allah disempurnakan oleh iman seorang umatNya'.
Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar. Iman menyelamatkan anak manusia.
Harus berani  kita mengatakan 'rencana Allah disempurnakan oleh iman seorang umatNya'. Hal itu diawali oleh pengalaman manusia laki-laki yang tinggal seorang diri, sepertinya dan boleh kita mengerti Allah tidak berencana manusia tinggal bersama dengan manusia lain, maka seperti dikatakan dalam bacaan pertama tadi 'TUHAN Allah berfirman: tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia'. Ketidakberdayaan dan kesendirian manusia mengubah dan membaharui rencana Allah. 'Tidak baik manusia sendirian' adalah sebuah evaluasi Tuhan setelah mengamati ciptaanNya. Ingat renungan kita Sabtu kemarin, Yesus pun mengubah acaraNya karena melihat orang-orang yang mengikutiNya bagaikan kawanan domba tanpa gembala (Mrk 6: 30-36).
Tentunya lebih-lebih lagi, bagi orang-orang yang percaya kepadaNya. Berapa kali Yesus meneguhkan dan menyembuhkan orang-orang yang sakit, karena permohonan mereka, berkat iman mereka kepadaNya.
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus buatlah kami semakin percaya dan berserah diri kepadaMu, dan semoga kepercayaan kami semakin kami nikmati dalam perjalanan hidup kami sehari-hari.
Yesus tambahkanlah iman kepercayaan kami kepadaMu, amin.
 
Contemplatio :
 
Aku percaya kepadaMu, Tuhanlah pengharapanku.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening