Kamis Masa Biasa VI


17 Februari 2011
Kej 9: 1-13  +  Mzm 102  +  Mrk 8: 27-33
 
 
 
Lectio :
 
Yesus bertanya kepada para muridNya, siapakah Yesus menurut banyak orang. Petrus menegaskan Yesus adalah Kristus, sang Mesias. Pengenalan Petrus membuka mata hati setiap orang untuk semakin berani mengakui Dia, namun begitu pengenalan kita akan Kristsus harus berani disempurnakan dan digenapi oleh Yesus sendiri, agar kita mampu berpikir menurut kehendak Allah, dan bukannya kemauan dan pikiran kita sendiri.
 
Meditatio :
 
'Kata orang, siapakah Aku ini?', tanya Yesus kepada para muridNya.
Sebuah pertanyaan yang amat wajar dan riel, guna mengetahui apakah memang para muridNya itu mengenal diriNya atau tidak, sejauhmana pengenalan mereka terhadap diriNya. Jawab mereka: 'ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi'.
'Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?', tegas Yesus kepada mereka. Sahut Petrus: 'Engkau adalah Mesias!'. Petrus mengenal sungguh siapakah Orang yang ada di depannya itu, siapakah Orang yang diikutinya itu. Kalau 'Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia', bisa kita mengerti karena pengenalan akan Dia menuntut suatu proses, dan bukan sekedar diberitahu orang orang lain; pengenalan akan Kristus adalah sebuah proses kehidupan dan membutuhkan sebuah keputusan. Penegasan Yesus supaya tidak disebutkan siapakah Dia sebenarnya adalah sebuah undangan agar setiap orang mengenal diriNya, bukan karena disebutkan dan diberitahu oleh orang lain, melainkan sebuah pengakuan karena sapaan Dia sendiri melalui sabda dan karyaNya.
Pengakuan yang berdasarkan pengenalan ini akan disempurnakan oleh Tuhan Yesus sendiri, yang memang Dia membuka tanganNya dan memperkenalkan diri. 'Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang'.
Yesus Kristus menyatakan siapakah diriNya apa adaNya; tugas perutusanNya, Dia sampaikan secara terus terang. Dia adalah Mesias, sang Juruselamat dari Allah, atas kemauan dan kehendak Allah.
'Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia'. Sebab, tidaklah demikian harus terjadi, Engkaulah Mesias, sang Pembebas, 'holan Ho do Na Tua-tua nami' (Toba: hanya Engkaulah Pemimpin kami), semuanya itu tidak boleh terjadi padaMu, saya akan menjaga Engkau, itulah kiranya pemikiran dan maksud baik Petrus yang membela sang Gurunya. Namun sebaliknya, 'berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia'.
Pengenalan Petrus terhadap sang Guru ternyata tidak sempurna, bahkan jauh dari kenyataan yang dikehendaki oleh Allah sendiri. Pengenalan Petrus mengikuti gambaran dan kemauannya sendiri, dan bukanlah sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan. Engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.
Pengenalan akan Tuhan Yesus, iman kepada kasihNya semata-mata adalah sebuah kepercayaan kepada Allah yang mampu membuat segala-galanya baik adanya, sebuah kepercayaan bahwa Allah berkehendak melakukan segala yang baik demi keselamatan umat manusia, bangsaNya yang kudus, dan bukanlah sebuah kepercayaan yang dibatasi oleh alam pikiran manusia. Iman kepercayaan akan Tuhan Allah adalah sebuah proses pembiaran diri akan kehendak dan kemauan Tuhan, biarlah Allah berkarya dan bertindak dalam diri kita.
Mengapa Allah membinasakan semua manusia yang sejaman dengan Nuh? Dosa dan kedegilan hati mereka penyebabnya. Namun mengapa Allah membinasakan, namun mengapa ada sekelompok orang yang dibiarkan hidup, malahan mereka diminta untuk tumbuh dan berkembang, 'sebagaimana Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri, maka beranakcucu dan bertambah banyaklah, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambah banyaklah di atasnya'. Dia yang telah membinasakan, kini Dia menghidupkan, bahkan nyawa ciptaanNya dipertanggungjawabkanNya, sebab 'mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia. Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia'. Inilah kehendak Allah, yang sulit kita mengerti jalan pikiranNya. Iman kepercayaan kepadaNya berarti membiarkan Allah bertindak dalam hidup kita. Apa mau Allah.
Ia dahulu yang membinasakan, sekarang menghidupkan. 'Akan Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi. Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi'.
 
Oratio :
 
Yesus, terangilah kami dengan Roh KudusMu agar kami mengerti dan memahami rencana dan kehendakMu sebagaimana Engkau nyatakan dalam bacaan pertama dan Injil hari ini.
 
Contemplatio :
 
Terangilah kami dengan Roh KudusMu, ya Tuhan.
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening