Minggu Masa Biasa V


7 Februari 2011
Yes 58: 7-10  +  1Kor 2: 1-5  +  Mat 5: 13-16
 
 
 
Lectio :
 
Yesus menegaskan kepada para muridNya bahwa mereka itu bagaikan garam dan terang dunia; dan memang mereka harus bertindak seperti itu. Kehadiran mereka harus benar-benar bisa dirakan dan dinikmati oleh banyak orang. Kehadiran yang bermakna. Bila mereka bertindak demikian, maka akan banyak orang terbawa kepada pengenalan akan Bapa di surge.
 
Meditatio :
 
'Kamu adalah garam dunia, dan kamu adalah terang dunia'.
Tegas Yesus kepada murid-muridNya, kepada semua orang yang percaya kepadaNya.
Tentunya kita bisa merasakan makna dan nikmatnya cahaya terang dan sebutir garam. Terang dibutuhkan, supaya kita dapat melihat, sejauh itu yang dapat kita temukan jawaban dengan mudah. Sedangkan garam diperlukan tubuh, lidah khususnya, agar kita dapat lebih menikmati suatu makanan. Hanya saja diharapkan tubuh tidak mengkonsumsi garam lebih dari 5 gram sehari.
Para murid Kristus adalah garam dan terang dunia, ini berarti bahwa semua orang yang berimankan kepada Kristus harus berguna bagi orang lain, kehadiran seorang kristiani harus mampu memberi makna bagi sesamanya. Kehadiran seorang kristiani harus sungguh-sungguh berarti dan bermakna di tengah hidup bersama. Jika tidak, 'tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang'. Malahan dengan menjadi pengikut Kristus, setiap orang, secara kodrati, harus menjadi berkat dan terang bagi sesamanya, sebab 'kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu'. Keberadaan mereka orang-orang yang percaya sudah menjadi berkat bagi sesame dan dunia.
Seorang kristiani haruslah seorang gunawan bagi sesamanya, bagi dunia! Bukan olahragawan atau bangsawan dan muliawan.
Bagaimana konkritnya menjadi garam dan terang dunia? Berani berbagi kasih terhadap sesame, sebagaimana dicontohkan bacaan pertama tadi, katanya: 'hendaklah kamu memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Hendaknya engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas'.
Inilah artinya menjadi garam dan terang dunia. Kita diajak untuk sungguh-sungguh berbuat baik bagi sesame. Ada contoh-contoh lain? Tindakan-tindakan karitatif tentunya sudah banyak kita lakukan dalam pergaulan kita sehari-hari; bagaimana sikap dalam pergaulan kita sehari-hari? Terhadap orang-orang yang bekerja dalam keluarga kita, apakah kita hanya sekedar menghisap tenaganya? Sapaan kita terhadap orang-orang yang kita jumpai, murah hati dan murah senyumkah kita terhadap mereka? Sikap kita terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengan kita dan berbeda pendapat dengan kita, apakah kita tetap menyapa mereka dan menghormati mereka, karena memang kita sama-sama diciptakan sesuai dengan gambarNya?
Jika kita lakukan semuanya itu, tegas Yesaya dalam bacaan pertama tadi, 'maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu'. Kita sungguh-sungguh menjadi berkat bagi sesame. Yesus pun mengharapkannya, 'hendaknya terangmu bercahaya di depan orang'. Itulah makna sebuah kehadiran, bila kita berani berbagi kasih dengan sesame, berani menjadi garam dan terang dunia. Kehadiran seorang kristiani haruslah dirindukan oleh banyak orang! Yesus menghendakinya.
Kedua, bila kita melakukan semuanya itu, akan mendatangkan berkat tersendiri bagi kita,  suara kita pun akan didengar oleh Tuhan; dan bila kita memanggilNya, Dia akan menjawabNya, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama tadi, yakni 'bila engkau memanggilNya dan TUHAN akan menjawab, dan bila engkau berteriak minta tolong, Ia akan berkata: Ini Aku!'. Tuhan dekat pada orang-orang yang dikasihiNya.
Dan ketiga, bahwasannya segala perbuatan baik itu merupakan karya pewartaan bagi banyak orang untuk semakin mengenal Tuhan, sebab dengan 'melihat perbuatanmu yang baik, mereka akan memuliakan Bapamu yang di sorga', tegas Yesus dalam Injil tadi. Inilah karya pewartaan, bukan melalui kata-kata dan pengajaran, melainkan dengan perbuatan. Inilah katekese baru.  Dan itulah yang dilakukan Paulus dalam karya pelayanannya. 'Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah'. Keyakinan itulah yang mendorong Paulus dalam tindakan dan karya; kekuatan Allah, dia yakini dan dia praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana dia tegaskan dalam bacaan kedua tadi.
Ingat, garam dan terang itu sarat dengan nilai, tetapi konkritnya baru dirasakan, dinikmati dan diakui sungguh-sungguh di saat kita berhadapan dengan makanan yang hambar dan tanpa rasa, yang  mampu membuat banyak orang tanpa kata-kata, di saat listrik padam tanpa cahaya lampu, yang membuat banyak orang tanpa karya nyata. Semua semua gelisah dan mempertanyakan.
Orang kristiani akan selalu dibutuhkan oleh dunia, oleh masyarakat, namun keberadaannya kurang mendapatkan perhatian dan diabaikan.
 
Oratio :
 
Ya Yesus, teguhkanlah panggilan kami untuk menjadi terang dan garam dunia. Semoga kami sungguh-sungguh menikmati panggilan yang luhur dan mulia itu, sebab hanya dengan cara itulah, kami dapat mengikuti karya perutusanMu secara mendasar dalam pengenalan akan Engkau dan akan Bapa di surge.
Yesus, kuatkanlah kami, amin.
 
Contemplatio :
 
Akulah garam dan terang bagi dunia.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening