Minggu Masa Biasa VI


13 Februari 2011
Sir 15: 15-20  +  1Kor 2: 6-10  +  Mat 5: 17-37
 
 
 
 
Lectio :
 
Yesus meminta kepada para muridNya agar hidup keagamaan mereka, hidup kerohanian mereka itu, lebih baik daripada kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat, sebab bila tidak demikian, mereka tidak masuk dalam Kerajaan Surga. Cara hidup yang bagaimana untuk dapat hidup lebih baik daripada kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat, Yesus pun menunjukkan langkah-langkah dan teknisnya, yakni dengan memangkas bibit dosa semenjak awal.
 
Meditatio :
 
'Aku berkata kepadamu: jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'.
Permintaan Yesus kepada para muridNya. Suatu permintaan yang memakai standar atau target yang harus dicapai, yakni bahwa hidup keagamaan mereka harus melebihi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Standar yang relative tinggi, karena ukuran yang dipakai Yesus,  bukan kaum awam, maaf bukan maksud meremehkan kaum awam, sekedar perbandingan, melainkan mereka para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang memang terkenal mempunyai sikap keagamaan lebih tinggi dibanding kaum awam, karena memang kepandaian mereka dalam bidang Kitab Suci dan status social yang mereka miliki. Namun mungkin ukuran itu relative rendah menurut Yesus, karena memang Dia mengenal betul siapakah para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, mereka adalah orang-orang yang dikenal Yesus sebagai kaum munafik (Mat 6 dan 23), orang-orang yang melakukan kebohongan publik. Para murid tidak boleh seperti mereka, para murid harus lebih baik dari mereka.
Bagaimana caranya?
Pertama, bila dahulu dikatakan jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Sekarang 'Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya, dia harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: kafir, dia harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: jahil, dia harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Kedua, dahulu dikatakan jangan berzinah, sekarang Aku berkata kepadamu: setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, dia sudah berzinah dengannya di dalam hatinya.
Ketiga, bila dahulu dikatakan jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan, maka sekarang Aku berkata kepadamu: janganlah sekali-kali bersumpah; jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
Itulah ketiga hal yang disampaikan Yesus kepada para muridNya agar hidup keagamaan mereka melebihi cara hidup orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Sebab permintaan Yesus ini memang memotong atau memangkas rantai dosa semenjak awal; orang yang membunuh dan yang berzinah memang harus dihukum, tetapi semuanya itu sudah terlambat dan bahkan sudah membiarkan orang berkecimpung dalam dosa semenjak awal. Awal pembunuhan adalah kemarahan, awal perzinahan adalah hawa nafsu; maka semenjak semula orang yang marah dan mengumbar nafsu harus sudah diingatkan dan dihukum, karena dia sudah bergelimang dosa dan salah dalam hidupnya. Kemarahan yang membara memungkinkan orang untuk membinasakan lawannya, dan nafsu yang bergelora mendorong seseorang masuk dalam tindak perzinahan.
Demikian juga, tidaklah perlu orang berjanji atau bersumpah demi ini dan itu. Janji dan sumpah menunjukkan kelemahan diri dan memungkinkan orang untuk melakukan penyelewengan dan penyelingkuan. Semenjak awal, sikap jujur dan setia haruslah menjadi modal dasar dalam hidup bagi setiap orang, semenjak awal orang harus mempunyai prinsip hidup: jika ya, hendaklah  katakan: ya, jika tidak, katakan: tidak.
Malahan kesetiaan harus menjadi spiritualitas hidup setiap orang. Setiap orang kristiani adalah orang-orang setiawan dan setiawati terhadap janji dan kehendak Tuhan yang telah banyak berbelaskasih kepada kita umatNya. Kesetiaan adalah spiritualitas hidup dalam dunia, yang berubah-ubah dan tidak menentu ini, guna menanggapi tawaran keselamatan Allah. Bacaan pertama menegaskan bahwa segala sesuatu dapat kita lakukan, sebab kita manusia 'dapat menentukan' hidup ini;  sabda Tuhan: 'engkau dapat menepati hukum, dan berlaku setiapun dapat kaupilih. Api dan air telah ditaruh oleh Tuhan di hadapanmu, kepada apa yang kaukehendaki dapat kauulurkan tanganmu. Hidup dan mati terletak di depan manusia'. Setiap orang dapat memilih dan bertindak. Kesetiaan pun adalah pilihan hidup bagi seseorang.
Namun begitu, 'Mata Tuhan tertuju kepada orang yang takut kepada-Nya, dan segenap pekerjaan manusia Ia kenal. Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik, dan tidak memberi izin kepada siapapun untuk berdosa'. Allah menghendaki agar seluruh umatNya selamat. Sikap Tuhan inilah yang tidak dimengerti oleh banyak orang; sikap Tuhan inilah, yang dimengerti Paulus dalam bacaan kedua tadi, sebagai hikmat Allah yang memang tersembunyi bagi banyak orang, dan secara tajam dia menegaskan: 'kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia'. Padahalnya, 'apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia' yakni hikmat Allah, 'disediakan oleh Allah untuk mereka yang mengasihi Dia'.
Permintaan Yesus agar hidup keagamaan kita lebih baik daripada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, tidak lain dan tidak bukan, adalah mengajak agar kita hidup baik dan suci  bagi diri sendiri, bagi orang lain dan bagi Tuhan sang Empunya kehidupan. Omnia omnibus. Yesus mengajak dan mengajak kita, karena kitalah yang mempunyai kemauan dan keinginan untuk memilih dan mengambil, tegas santo Paulus tadi . Yesus mengajak supaya kita selamat!
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus, Engkau mengajak kami untuk hidup lebih dan lebih baik, karena memang Engkau menghendaki kami beroleh selamat. Teguhkanlah hati kami agar kami tidak mudah tenggelam dalam dosa, malahan bila kami terjatuh, segera teringat dan bangkit berdiri untuk menatap Engkau yang menyelamatkan semua orang.
Rahmat dan kasihMu ya Tuhan Yesus bagi mereka yang telah berlumuran dosa, semoga Engkau sendiri datang dan menjamah mereka sehingga mereka kembali bangkit berdiri dan menyambut Engkau.
 
Contemplatio :
 
Akupun seorang setiawan
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening