Rabu Masa Biasa VII

23 Februari 2011
Sir 4: 11-19  +  Mzm 119  +  Mrk 9: 38-40
 
 
 
Lectio :
 
Yohanes melarang seseorang yang mengusir setan dalam nama Yesus. Kemungkinan besar alasannya karena kecemburuan sosial saja, sehingga dia melarangnya. Yesus sendiri malahan menegur Yohanes dan meminta dia tidak melarang orang tadi, karena mereka yang tidak melawan kita berada dalam pihak kita, tegas  Yesus.
 
Meditatio :
 
'Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita'.
Laporan Yohanes pada Yesus ini sungguh wajar, dan bahkan sering terjadi, karena adanya perasaan bangga dan kagum pada diri sendiri, bahkan adanya perasaaan diri leebih hebat dibanding orang lain atau bahkan komunitas-komunitas yang lain, dan klaim ini tidak boleh dimiliki oleh orang atau komunitas lain, sehingga dia  merasa marah dan gelisah, bila ada orang lain yang menandinginya dan mampu berbuat sama seperti dirinya. Yesus adalah milik kami, bukan milik kamu, dan hanya kami yang boleh menggunakan namaNya, dan hanya kami yang boleh menikmati anugerah-anugerahNya.
Adakah di antara kita bertindak semacam itu?
Lucunya lagi, ungkapan emosional ini dilakukan oleh seorang Yohanes, seorang yang memang dianggap mempunyai hidup rohani yang lebih tinggi dibanding murid-murid lainnya; bahkan dia sering disebut-sebut sebagai seorang murid yang dikasihiNya.
'Jangan kamu cegah dia!', tegur Yesus, 'sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku, dan barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita'. Teguran Yesus mengingatkan bahwa orang yang mengusir setan dalam namaNya itu adalah orang yang baik, dia berpihak kepada Tuhan, dia pro-keselamatan. Biarkanlah dia melakukan kebaikan dalam nama Tuhan.
Keagungan dan kemuliaan Tuhan terpancar di mana-mana, tidak mungkin kita membatasi dengan segala kekuatan kita yang memang amat terbatas. Segala ciptaanNya memang tidak mampu menampung keberadaanNya yang begitu mahakuasa. Dia Pencipta, dan kita umatNya. Ketidakmampuan Yohanes menerima keberadaan orang yang membuat mukjizat dalam nama Yesus adalah ungkapan diri yang tidak mampu memahami dan tidak mau mengerti akan kuasa Tuhan Yesus, yang tampil di tengah-tengah umatNya. Kebijaksanaan Tuhan ditampilkan dalam pelbagai cara seturut dan kemauan kehendakNya, dan bukan kemauan kita manusia. Allah dapat menampakkan karyaNya dalam diri setiap orang.
Ketidakmampuan Yohanes menerima keberadaan orang lain yang mampu membuat mukjizat dalam nama Yesus juga sering terjadi pada diri banyak orang, yakni  ketidakmampuan diri berhadapan dengan kenyataan sosial, yang mengandaikan bahwa ternyata ada orang lain yang mampu, dan bahkan lebih baik dan unggul dari dirinya, diperberat lagi bila orang itu tidak berada dalam satu komuitas dengan dirinya, berbeda agama, berbeda suku, berbeda warna, berbeda profesi. Teguran Yesus untuk tidak mencegah orang tadi mengadakan mukijizat mengajak kita semua, agar kita berani menerima orang lain apa adanya, terlebih kalau memang dia lebih hebat dari diri kita.
Indah sekali yang dikatakan Tuhan dalam bacaan pertama tadi; dengan mengutip Kitab Kebijaksanaan itu, kita dapat mendamaikan pandangan Yohanes tadi, bahwa orang yang mengusir setan dalan nama Yesus, dan juga orang-orang lain yang bersikap seperti itu, yang memang  ternyata sekarang belum masuk dalam komunitas para murid, dikarenakan mereka masih harus berusaha melalui jalan lain, yang sesuai dengan pola pikirnya, namun kiranya suatu hari kelak kita akan berjumpa bersama-sama dalam Dia. 'Boleh jadi ia dituntun kebijaksanaan di jalan yang berbelok-belok dahulu, sehingga didatangi ketakutan dan getaran; boleh jadi kebijaksanaan menyiksa dia dengan siasat sampai dapat percaya padanya, dan mengujinya dengan segala aturannyat, tetapi kemudian kebijaksanaan kembali kepadanya dengan kebaikan yang menggembirakan, dan menyingkapkan kepadanya pelbagai rahasia'. Allah Bapa akan mengaturnya. Mengapa kita sulit menerimanya?
 
Oratio :
 
Yesus, Engkau menampakkan kasih dan kuasaMu dalam diri ciptaan-ciptaanMu. Itu memang kehendakMu. Ajarilah kami, ya Yesus, untuk berani melihat dan merasakan kehadiranMu dalam diri sesame kami, dalam aneka bentuk ciptaanMu. Kami memang harus belajar banyak, ya Tuhan, agar kami dapat menerima sesame kami apa adanya, terlebih bila mereka bukan anggota komunitas kami, dan tidak sepaham dan sepikiran dengan kami, amin.
 
Contemplatio :
 
Kulihat di wajahmu kemuliaan Tuhan, kukasihi engkau dengan kasih Tuhan.
 
 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening