Sabtu Masa Biasa IV


5 Februari 2011
Ibr 13: 15-21  +  Mzm 23  +  Mrk 6: 30-34
 
 
 
Lectio :
 
Yesus mengajak para muridNya beristirahat, setelah mereka kembali dari karya perutusan. Apalagi banyak orang yang datang dan pergi kepada mereka, membuat mereka tidak sempat untuk makan dan minum. Namun semangat orang banyak untuk bertemu dan bertemu denganNya tidak surut dengan kepergianNya, mereka terus berjalan mengejar melalui darat dan sehingga mampu mendahului Yesus dan para muridNya tiba di tempat.
 
Meditatio :
 
'Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!'.
Ajak Yesus kepada para muridNya, setelah mereka kembali dari tugas perutusan yang mereka terima. Mereka berjumpa dan berkumpul dengan Yesus dan 'memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan'. Ajakan Yesus ini sungguh-sungguh amat riel dan konkrit, mereka diajak beristirahat, yang tentunya mereka tidak saja diminta untuk menarik nafas sejenak, tetapi juga menimba kekuatan daripadaNya, sebagaimana yang seringkali dilakukanNya, bahwasannya setelah melakukan aneka pelayanan Yesus selalu menyendiri ke bukit untuk berdoa di sana seorang diri. Pergi seorang diri dan berdoa adalah suatu kebutuhan yang penting dan mendesak bagi setiap orang yang melakukan karya pelayanan; Yesus sendiri, bukan saja hanya meminta dan meminta, tetapi juga memberikan teladan dalam melaksanakannya.
Yesus meminta para muridNya untuk menyendiri, karena 'memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat'. Bila makan dan minum saja mereka tidak sempat, apalagi dalam pembekalan hidup rohani; kebutuhan mendasar saja terabaikan, bagaimana seseorang dapat memberikan perhatian kepada hidup rohani. Janganlah memaksa orang berdoa bila dia kelaparan. Seorang pelayan umat harus berani meninggalkan umat untuk umat.
Alam terbuka dan sedikitnya area tujuan perjalanan mempersulit orang untuk bergerak dan malahan mempersempit diri. Itulah yang terjadi pada Yesus dan para muridNya. Sebab ketika mereka hendak pergi, 'banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka, dan dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka'. Yesus Tuhan yang menyelesaikan perkara umatNya.
Kita kiranya orang-orang yang termasuk rombongan orang-orang yang mencari dan mencari Yesus tadi. Kita pun adalah orang-orang yang merindukan kehadiranNya. Kita pun adalah orang-orang yang amat menginginkan pelayanan dan kasihNya. Maka kiranya kita patut bersyukur kepada Tuhan atas kelimpahan rahmatNya, atas pelayanan yang diberikanNya melalui GerejaNya yang kudus. Sebagaimana Kristus sendiri yang meminta, dan bahkan sepertinya mewajibkan para muridNya, untuk beristirahat dan menyendiri setelah berkarya, kiranya kita juga mendukung para pelayan Gereja, khususnya para imam, untuk berani menimba dan membekali diri dengan sabda dan kasih Allah, sehingga mereka selalu dalam keadaan segar dan diteguhkan dalam pewartaan dan pelayanan Gereja. Kita dukung para imam yang berani memberi perhatian dan dan menyisihkan waktu untuk 'meninggalkan umat demi umat'.
Kita dukung juga mereka dengan doa-doa kita, sebab doa dan kesucian akan meneguhkan para pelayan kita dalam berbagi kasih, sebab kemauan baik mereka dan pelbagai anugerah, yang mereka miliki itu, bagaikan tersimpan dalam bejana tanah liat (2Kor 4: 7), yang mudah rapuh dan pecah; dan sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama tadi, 'taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya; dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu', kita dukung dan hormati karya pelayanan mereka. Inilah umat Allah yang berpartisipatif, yakni saling meneguhkan dalam doa dan pelayanan GerejaNya.
Sekedar ilustrasi pengalaman dalam perayaan liturgi, bahwasannya perayaan yang dialogis diperlukan keikutsertaan umat secara aktif. Suatu hiburan dan peneguhan bagi seorang pemimpin ibadat tentunya, bila sapaan mereka dijawab dengan suara tanggapan yang sepenuh hati. Sapaan 'Tuhan sertamu', misalnya, perlu kita jawab dan tanggapi dengan suara penuh 'dan sertamu juga', dan bukannya hanya dengan seperenambelas suara, lagipula dengan muka tertunduk dan berpangku tangan.
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus, Engkau menghendaki agar setiap orang berani beristirahat bersama Engkau setelah seharian bekerja, ajarilah kami untuk sejenak menarik nafas bersama Engkau, dalam doa dan mendengarkan sabdaMu, sebab kehadiran bersamaMu menguatkan dan meneguhkan karya pelayanan dan pekerjaan kami. Amin.
 
Contemplatio :
 
Tinggallah bersama Aku di dalam doa, di dalam doa.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening