Sabtu Masa Biasa VI

19 Februari 2011
Ibr 11: 1-7  +  Mzm 145  +  Mrk 9: 2-13
 
 
 
Lectio :
 
Petrus, Yakobus dan Yohanes mendapatkan pengalaman yang indah bersama Yesus, di mana dengan mata kepala sendiri mereka melihat Yesus menampakkan kemuliaanNya bersama Elia dan Musa, dua tokoh besar dalam Perjanjian Lama. Suara dari surge menegaskan bahwa Dia, Yesus, yang ada di depan mereka itu, adalah Anak yang dikasihi Bapa di surge.
 
Meditatio :
 
'Di sebuah gunung yang tinggi, berubah rupa  Yesus di depan mata mereka, yakni Petrus, Yakobus dan Yohanes; dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat; tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu, dan nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus'.
Peristiwa yang amat mengagungkan terjadi, suatu pengalaman yang indah, lagi menyenangkan. Tampak dalam peristiwa itu Elia dan Musa, dua tokoh hebat dalam Perjanjian Lama; kehadiran dua tokoh ini semakin menunjukkan siapakah Orang yang dijumpai mereka berdua, dan arah pembicaraan mereka tertuju pada diri Yesus Kristus.
'Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia', kata Petrus kepada Yesus. Walau Injil menuliskan bahwa 'Petrus berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan', namun kiranya tak dapat disangkal Petrus merasakan sukacita yang mendalam, sebuah peristiwa yang sungguh-sungguh membahagiakan, dan janganlah semuanya ini cepat berlalu. Petrus tahu dengan baik apa yang terindah dalam hidupnya. Petrus memang tidak tahu apa yang dikatakan lagi, karena saatlah inilah saat yang indah, saat yang nyaman ongguh, kata orang-orang Bondowoso.
Tiba-tiba datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: 'inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia', dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.  Pernyataan ini sungguh menegaskan siapakah Yesus itu dan apa yang harus dibuat dan dikerjakan oleh para muridNya dan kita semua, Dialah Anak yang dikasihi Bapa dan kita diminta mendengarkanNya.
Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan 'bangkit dari antara orang mati'. Memang tidak disebutkan: apakah yang menyulitkan mereka, kematian atau kebangkitan?; namun sebelum beranjak pada soal kebangkitan, sebagaimana yang dipikirkan Petrus kemarin, mengapa sang Guru, yang adalah Mesias ini harus mengalami kematian, bukankah Allah Bapa baru saja menegaskan bahwa Dialah Anak yang dikasihiNya. Sang Mesias harus mengalami kematian adalah soal yang sulit dimengerti dan tidak masuk akal.
Kita yang hidup sebagai orang-orang penikmat rahmat kematian dan kebangkitanNya, seharusnya bukan lagi orang-orang yang takut dan gelisah bila berhadapan dengan peristiwa-peristiwa yang seperti dialami oleh ketiga murid tadi, kita pun seharusnya juga tidak merisaukan pengertian 'bangkit dari antara orang mati', karena kita tahu siapakah Yesus, Anak yang dikasihi Bapa itu. Kita seharusnya lebih baik daripada para murid tadi?
Namun apa yang terjadi?  Kita masing-masing dapat menjawabnya secara pribadi.
Kiranya bacaan pertama mengingatkan kita semua, betapa luhurnya iman kepercayaan kepadaNya, betapa indahnya anugerah dan karunia hidup yang dialami oleh orang-orang penikmat rahmat kematian dan kebangkitanNya. Sebab berkat iman akan Tuhan sang Penyelamat, Habel, Henokh dan Nuh mendapatkan karunia yang indah dan mulia. Bila demikian, amatlah baik, kalau kita nikmati sungguh-sungguh rahmat kematian dan kebangkitan yang dilimpahkanNya kepada kita. Malahan kita akan berkata-kata kembali seperti Petrus 'Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia', bukan sebagai orang-orang yang ketakutan, melainkan sebagai orang-orang yang ingin berlama-lamaan bersamaNya.
 
Oratio :
 
Yesus, semoga iman kami semakin tumbuh dan berkembang berkat rahmat kematian dan kebangkitan yang telah Engkau limpahkan kepada kami. Semoga, secara khusus Engkau mendampingi saudara-saudari kami yang mengalamai kesulitan dalam menikmati rahmat yang indah itu, karena situasi kemiskinan, sakit  dan derita. Yesus, kasihilah dan berkatilah mereka selalu.
Yesus, semoga rahmatMu yang indah dirasakan oleh semua orang yang merindukan keselamatan, amin.
 
Contemplatio :
 
Betapa indahnya tinggal bersama dengan Engkau ya Tuhan.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening