Selasa Masa Biasa V


8 Februari 2011
Kej 1:20 – 2:4  +  Mzm 8  +  Mrk 7: 1-13
 
 
 
Lectio :
 
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menegur Yesus, mengapa Dia membiarkan para muridNya makan dengan tangan najis.Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan mereka, malahan Yesus berbalik menegur kedegilan hati mereka, yang lebih mengutamaan adat isitadat manusia daripada pada perintah-perintah Allah. Nilai-nilai manusiawi pun mereka abaikan  membukusnya dengan alasan-alasan yang seolah-olah dikehendaki Tuhan
 
Meditatio :
 
'Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?'
Itulah persoalan yang dikemukakan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka adalah orang-orang pandai dalam Kitab Suci dan punya nama, tetapi yang dipersoalkan mereka dan menjadi alam pikiran mereka itu sebatas adat istiadat dan budaya mereka, yang sebanarnya hanyalah soal aturan bersih diri dan tatakrama saja, dan bukan persoalan mendasar dalam hidup bersama, sekedar ungkapan-ungkapan lahiriah belaka.
Yesus menangkap maksud mereka, dan sepertinya Dia tidak langsung menanggapi persoalan mereka, kataNya: 'benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! ada tertulis: bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia'. Hukum-hukum dan perintah Allah yang seharusnya mereka wartakan dan sebarkan, bagaimana orang-orang dapat mentaati kehendak Allah dengan seksama, bagaimana orang dapat mengejar hidup rohani sebagaimana dikehendaki hokum Taurat, dan bukannya pada soal tata tertib hidup sehat dan tatakrama. Memang itu penting, dan Yesus tidak melawannya, hanya saja mereka ini, orang-orang Farisi dan ahlit Taurat, mengapa lebih mengutamakan aturan hidup sehari-hari daripada hokum Allah sendiri.
'Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri', tegas Yesus. Itulah yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Tugas pokok mereka abaikan, malahan mengurusi hal-hal sepele, maaf, yang mungkin mendatangkan keuntungan bagi mereka.
Contoh soal, perintah Musa: 'hormatilah ayahmu dan ibumu! dan siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Namun kamu mengijinkan dan membenarkan orang-orang yang tidak membiayai hidup orangtuanya, karena 'segala yang dapat digunakan untuk perawatan orangtua, sudah digunakan untuk korban, yaitu persembahan kepada Allah'. Persembahan kepada Allah mereka utamakan daripada pembiayaan hidup orangtua, padahal istilah 'persembahan kepada Allah' itu tadi adalah kurban bakaran. Hidup manusia dinomerduakan daripada adat istiadat yang mengatasnamakan Tuhan.
Mereka kaum Farisi dan para ahli Taurat ini membuat dan menyampaikan 'alasan-alasan demi Tuhan' untuk membunuh sesamanya. Demi Tuhan, kita boleh bertindak semena-mena terhadap sesame?
Adakah di antara kita yang menyuruh paksa orangtua kita berpuasa dan berpantang supaya kita dapat memberikan kolekte pada hari Minggu? Tidak ada!  Namun tak jarang, ada orang-orang yang membiarkan anaknya dan malahan memarahinya ketika dia meminta pensil atau uang SPP, tak ada uang untuk mereka, semua telah tersedot untuk kepentingan diri, merokok, malahan judi.
Menghormati orangtua, anak-anak dan sesame adalah kewajiban kodrati, karena kita sama-sama manusia, yang diciptakan sesuai gambar Allah sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama tadi. 'Berfirmanlah Allah: baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi'. Manusia sungguh-sungguh luhur dan mulia dibanding ciptaan lainnya. Penghormatan kepada sesame ciptaan yang mulia berarti penghormatan kepada Dia yang berkehendak menciptakan kita.
Cinta dan penghormatan akan Tuhan tidak pernah mengabaikan nilai-nilai luhur manusia. Cinta akan Tuhan dan sesame adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.
 
Oratio :
 
Yesus, seringkali kami mengutamakan hal-hal lahiriah daripada yang bathiniah, penampilan lahiriah juga seringkali kami utamakan, karena takut dipandang hina oleh orang lain. Yesus, semoga kesetiaan kami mendengarkan sabdaMu membuat kami merunduk di hadapanMu, berani menguduskan diri sehingga layak berdiri di hadapanMu, juga semakin berani memberi tempat kepada sesame dalam lubuk hati kami, amin.
 
Contemplatio :
 
Persembahan kepada Allah adalah jiwa yang remuk redam di hadapanNya.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening