Senin Masa Biasa VI


14 Februari 2011
Kej 4: 1-15.25  +  Mzm 50  +  Mrk 8: 11-13
 
 
 
Lectio :
 
Orang-orang Farisi meminta tanda dari Yesus, tetapi Dia tidak memberikan tanda, malahan Yesus meninggalkan mereka ke seberang.
 
Meditatio :
 
'Muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga'.
Dari maksud mereka ini, sebetulnya mereka sudah mengakui siapakah Yesus itu dan segala kehebatan yang dimilikiNya. Permintaan tanda dari Yesus, hanya untuk mencobai dan mencobai Dia supaya bisa menjatuhkanNya. Kecemburuan, ketidakpuasan dan kejengkelan melatarbelakangi tindakan mereka. Yesus tahu paham benar akan semuanya itu, maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: 'mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda'. Bukannya Yesus tidak mampu memberikan tanda, melainkan secara sengaja Dia tidak mau mengikuti permainan hati mereka. Gejolak kejengkelan dan kemarahan diri terhadap Tuhan tidak mendatangkan rahmat dan berkat sama sekali, malahan 'Yesus meninggalkan mereka dan bertolak ke seberang'.
Kemarahan diri memang tidak menguntungkan sama sekali. Hati yang marah tidak membuat jiwa tenang, jiwa dibuatnya gelisah dan membara, seperti dikatakan dalam Minggu kemarin, kemarahan adalah awal tindakan pembunuhan dan pembinasaan terhadap sesame. Apa yang dilakukan orang-orang Farisi inilah, yang tidak jarang menimbulkan amuk massa yang brutal, karena memang mereka mempunyai kekuatan dan massa, mereka adalah orang-orang yang mempunyai suara di tengah masyarakat; mereka mencobai Yesus, berarti tindakan mereka sungguh-sungguh disengaja, sudah diperhitungkan dan amat tendensius; status social yang dimiliki orang-orang Farisi tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, mereka mampu  menggerakkan kekuatan yang berlatarbelakang perjanjian lama yang tidak benar, sebagaimana kita renungkan hari Selasa minggu yang lalu, untuk melawan dan menyerang kebenaran. Sang Kebenaran tidak memperhatikan tindakan-tindakan provocatif semacam itu, Dia malahan 'meninggalkan mereka dan bertolak ke seberang'.
Kemarahan tidak mendatangkan berkat Allah. Malahan seperti Injil Minggu kemarin, kita diminta memangkasnya semenjak awal. Bacaan pertama hari ini juga menunjukkan pengalaman konkrit dari Kain yang berlumuran kemarahan, dan itu mudah dibaca oleh Tuhan sang Kehidupan; 'Firman TUHAN kepada Kain: mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya'.
Allah telah semenjak awal telah mengingatkan, tetapi Kain tidak bergeming dalam kemarahan diri, malahan Allah sengaja 'tidak menyentuh persembahannya'; dan terjadilah ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.
Kedegilan hati tetap mengendalikan Kain, ketika Firman TUHAN menanyakan kepadanya: di mana Habel, adiknya itu?, dia malahan melawan Tuhan, katanya: 'aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?'.
Berbohong kepada sesame sudah mendatangkan dusta, apalagi terhadap Tuhan Allah; Firman-Nya kepada Kain: 'apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah. Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi'.
 
Oratio :
 
Yesus Kristus, lembutkanlah hati kami dari angkara murka; dan semoga kekerasan yang sering terjadi di tanah air kami, Engkau ubah dengan kedamaian dan sukacita, sebagaimana Engkau pernah mengubah pedang menjadi mata sabit dan membuarkan anak-anak yang cerai susu bermain dekat liang ular beludak.
 
Contemplatio :
 
Aku ingin menjadi orang yang lamban dalam amarah.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening